Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Jangan Bicarakan Perpisahan


__ADS_3

Hania menghela napas panjang dan menurunkan tangannya. Saat itu dia terkejut mendapati sodoran tissue dan satu buah cup eskrim. Dia mendongak untuk mencari tahu siapa orang itu.


Mungkinkah pria yang bekerja sebagai satpam di kantor Gaka. Atau ....


Deg ....


"Kamu? Ngapain di sini?" Hania terkejut melihat pria berkaos putih dengan memakai topi hitam itu ada di depannya. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan seseorang. "Mana Gea?" tanyanya.


"Huh, malah nanyain orang lain." Gaka mengambil duduk di samping Hania. "Lo yang ngapain di sini? Nungguin siapa?"


"Makasih, ya." Hania menunjukkan tissue dan eskrim yang diberikan Gaka tadi. Setelah mengusap wajah dengan tissue, dia mulai membuka bungkus eskrim.


"It's oke. Gue 'kan suami pengertian." Pria itu menepuk dadanya pelan. Seperti gerakan menyombongkan diri.


Hania mencebik. "Idih," cibirnya.


Selanjutnya mereka terdiam. Seolah menikmati cuaca mendung dengan semilir angin berhembus kencang. Hania menikmati eskrim, begitu juga dengan Gaka. Keduanya sama-sama menerawang ke depan.


"Gue ngerasa aneh sama diri gue akhir-akhir ini. Ada sesuatu yang gue gak ngerti." Gaka berbicara, tapi masih menerawang ke depan. "Gue mikirin ucapan lo tadi."


"Ucapan yang mana?" Hania menyahut.


"Gue gak berhak batasin lo deket sama pria manapun. Tapi, setiap liat lo ngobrol sama satpam melarat itu, gak tau kenapa rasanya pengen gebukin orang sampek sekarat. Kek ada sesuatu yang meledak-ledak di diri gue. Gue juga aneh. Gue gak tau." Di akhir kata pria itu tersenyum simpul.


Hania diam memperhatikan. Bibirnya ikut menampilkan senyuman. Tak lama dari itu rintik hujan mulai turun.


"Hujan, Mas. Ayo, cari tempat berteduh." Hania bangkit. Tapi Gaka tidak bergerak sedikitpun. "Mas, makin deras. Nanti bajumu basah."


"Gak pa-pa basah. Udah lama gue gak nikmatin waktu."


"Idih, kayak anak kecil aja mau ujan-ujanan. Malu geh diliatin orang. Semua udah pada pergi, cuma tinggal kita aja," ujar Hania. Tapi Gaka masih di posisi sama. "Oke terserah, kalau gitu aku mau cari tempat buat neduh." Karena hujan mulai deras, dia melangkah meninggalkan Gaka. Biarkan saja pria itu berbuat sesuka hati.


"Hei!" Gaka berteriak memanggil Hania. Wanita itu menoleh. "Temenin gue!"


Hania menggeleng. "Aku gak mau sakit. Kalau mau ujan-ujanan, ya udah, silahkan."

__ADS_1


Akhirnya Gaka menyusul langkah Hania. Dia memegang pergelangan tangan wanita itu dan mengajaknya berlari menuju parkir mobil.


Hania sempat berhenti dan melihati tangannya yang digenggam oleh Gaka, namun melihat Gaka tersenyum dia pun ikut tersenyum.


Tak jauh dari Hania dan Gaka ternyata ada seorang wanita tengah terpaku sekaligus sakit hati melihat kebersamaan mereka. Kedua telapak tangannya terkepal kuat. Bola matanya memerah dan dilapisi cairan bening.


Awalnya dia tidak percaya wanita yang ditemui pacarnya adalah sahabatnya sendiri. Hania. Bahkan sangat sulit dipercaya, mengingat keduanya saling tidak suka. Tapi, ketika Gaka memegang tangan wanita itu, Gea dapat melihat jelas bahwa wanita itu adalah Hania Putri Azahra, sahabat dekatnya.


"Apa-apaan ini?! Sejak kapan mereka sedekat itu?" Gea berusaha menahan diri untuk tidak murka saat itu juga. Mereka sedang berada di tempat umum, dia tidak ingin mempermalukan diri sendiri.


Selain itu, dia pun berusaha untuk berpikir positif. Mungkin saja apa yang dilihat tidak seburuk dugaanya.


Gea menyeka pipi dan merogoh ponsel. Dia langsung melakukan panggilan ke nomor seseorang di seberang sana.


"Halo, Ge?" Gaka menjawab panggilan dari Gea.


"Lo dimana, Ka?"


"Gue ... Em ...." Suara Gaka tersendat. Pria itu terlihat menengok kanan dan kiri. "Gue tadi dah bilang mau pulang. Ini gue baru nyampek rumah."


Di tempatnya berdiri Gea mematung. Air mata yang tadi di seka, kini berjatuhan lagi. Sakit, merasa dibohongi oleh pacarnya sendiri.


"Apa? Enggak. Suara TV kali. Katanya lo mau tidur? Tidur gih. Gue juga mau istirahat." Tiba-tiba Gaka memutus sambungan secara sepihak.


"Lo udah berani bohongi gue, Gaka! Awas aja kalau sampek ada sesuatu di antara kalian. Gue gak akan peduli apapun, gue akan buat perhitungan sama kalian."


Di tempat Gaka dan Hania berteduh.


"Kenapa kamu bohongi Gea?"


"Gue tadi emang mau pulang, tapi gak sengaja liat lo di sini makanya gua samperin lo. Gak ada niat bohong, tapi udah terlanjur kek gini, ya mau gimana lagi kalau gak bohong. Gak mungkin dong gue jujur lagi sama lo," ucap Gaka santai.


"Aku merasa bersalah sama Gea. Kita yang udah menikah, tapi aku yang seperti selingkuhan mu."


Keduanya diam sesaat. "Apa kamu pernah berpikir, sampai kapan kita seperti ini?"

__ADS_1


Gaka masih saja diam.


"Suatu saat kamu harus menikah dengan Gea, Mas. Tolong pikirkan cara buat kita berpisah. Dari awal aku tidak menuntut pertanggung jawabanmu.


Aku menerima pernikahan kita karena aku tidak tega dan juga karena aku sangat menghormati kedua orang tuamu, maka aku menyetujui pernikahan tanpa rasa ini.


Setelah kita berpisah nanti, aku udah siap dengan status baruku. Lebih baik aku dipandang janda, daripada seorang gadis tanpa mahkota. Itu lebih menyakitkan, Mas." Hania menunduk menyembunyikan isak tangis.


"Maaf, gue penyebab lo ada di posisi ini. Tapi jangan bicarakan hal yang belum pasti. Biarkan gue menebus kesalahan gue. Jangan bicarakan perpisahan."


~


Gaka dan Hania bersamaan turun ke lantai bawah untuk makan malam bersama. Di meja makan sudah ada Vara dan Tuan Haru.


"Pa, besok Gaka mau pindah," ucap Gaka tiba-tiba.


"Loh, kenapa?" timpal Vara cepat.


"Ya kita mau nempatin rumah sendiri. Pengen bebas aja," celetuk Gaka.


"Jangan-jangan kamu mau macam-macam?" selidik Tuan Haru.


"Ish, apa sih, curigaan!" Gaka melirik papanya. Lalu berkata lagi. "Papa sama Mama mau cepet punya cucu, gak?"


"Mau banget," pekik Vara. Sedangkan Tuan Haru mengangguk-angguk saja.


Tapi, berbeda dengan Hania. Wanita itu terbelalak kaget. 'Apa-apaan dia ini!'


"Makanya, biarin Gaka pindah ke rumah sendiri biar bebas buat cucu di kolam renang, ruang tamu, di tangga, ataupun di dapur. Dengan begitu cucu kalian akan segera tercetak," sambung Gaka.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk ...." Hania terbatuk tanpa henti. Ucapan Gaka membuatnya terkejut sekaligus malu setengah mati. Andai tidak ada Vara dan Tuan Haru, mungkin seisi meja sudah dia lemparkan ke tubuh Gaka. Pria itu justru menyengir dengan muka badak. 'Astagfirullahaladzim, kalau gak takut dosa, udah aku gebukin kamu sampek masuk rumah sakit!'


Vara bangkit dari duduknya dan mendekati Gaka, tiba-tiba menoyor kepala anaknya. "Kalau bicara gak dipikir. Kasian tuh Hania pasti malu denger kamu bicara blak-blakan."


"Nanggung, Ma. Tabokin aja mulutnya," ujar Tuan Haru mengompori sambil tertawa.

__ADS_1


"Loh, Gaka bicara jujur, Ma. Memang itu keinginan kami."


"Mas, kamu apa-apaan, sih?" ujar Hania dengan wajah memerah.


__ADS_2