
Kumandang azan subuh menjadi alarm bagi Gaka. Namun, bukan suara dari speaker Masjid melainkan dari ponselnya. Pria itu menggeliat dalam pelukan hangat seseorang.
Pelukan istri tercinta? Eh tunggu, kenapa wangi tubuhnya berbeda dengan yang biasa menjadi candunya. Dan, semalam dia ingat masih di apartemen Gea, memang pulang jam berapa? Dia tidak mengingat apapun, dan Kalau itu Hania, wanita itu selalu bangun lebih dulu darinya. Jangan-jangan ....
Ah, pikiran Gaka mulai gusar. Jantungnya berdebar tak karuan. Dia yang masih terpejam sampai takut untuk membuka mata. Takut seseorang itu bukan Hania. Ya Tuhan!
Wanita itu juga menggeliat. Dari gumamnya saja sudah berbeda. Astaga ... Gaka berjingkat kaget. Pria itu menggeser tubuhnya ke ujung ranjang. Nanar menatap wanita yang tidak terbangun karena gerakan kasarnya. Lebih syok lagi melihat bagian tubuh Gea tanpa busana. Damn it! Apa yang terjadi?
Udara dingin pagi seolah menyadarkan Gaka bahwa pria itu juga tak jauh beda dengan Gea. Yang tersisa hanya pakaian dalamnya saja, sedangkan pakaian lengkapnya berada di ujung bawah ranjang.
Tangan gemetar itu menjambak rambut dengan frustasi. Apa yang terjadi semalam dia benar-benar tidak ingat. Telapak tangannya terkepal kuat ingin meninju apapun, bahkan ingin mengerahkan kemampuan untuk merobohkan apartemen. Kenapa dia berada di situasi ini. Kenapa?
Yang mengherankan sekaligus mengesalkan, kenapa dia sama sekali tidak ingat bahkan tidak sadar. "Anj***! Jangan-jangan ada konspirasi! ***! Bangsat!" desaunya melihat Gea dengan tatapan tajam.
Setelah menguasai diri, dia meraih ponsel dan berniat mematikan alarm. Tapi, justru melihat panggilan tak terjawab sampai sepuluh kali dari Hania. Ya Tuhan, Hania pasti menunggu semalaman. Dimulai dari pukul 1 malam sebanyak dua kali dan terakhir pukul empat pagi.
Gaka mengusap wajah kasar. Dia mengambil bajunya dan segera dipakai, setelahnya langsung keluar dari apartemen Gea.
Wanita yang tadi pura-pura terpejam itu tersenyum senang. Setelah Gaka keluar dari kamarnya, dia menarik selimut sampai sebatas leher dan melanjutkan tidur indahnya.
Sampai di depan rumah, Gaka terlihat ragu memasuki rumahnya sendiri. Pria itu bergeming beberapa saat, namun jantungnya tak pernah surut berdebar kencang.
Kalau kamu mau sentuh tubuh ini, jangan pernah sekalipun lagi kamu menyentuh wanita lain. Andai itu terjadi, aku akan langsung pergi darimu, Mas.
Kalimat Hania waktu lalu terngiang dan membuatnya semakin ketakutan. Kalau sampai Hania tahu, mungkin saja istrinya itu benar-benar akan langsung pergi. Akan tetapi, dia pun berpikir, semua bukan kesalahannya semata. Dari awal dia sudah menolak rencana gila itu, tapi Hania sendirilah yang memaksa.
Akhirnya Gaka memutuskan masuk ke dalam. Dia langsung pergi ke kamarnya. Saat membuka pintu, hatinya berdenyut nyeri menyaksikan Hania sedang sujud menyembah Sang Khalik.
__ADS_1
Dia harus bersyukur atau malah merasa tidak pantas mendapat istri seperti bidadari surga. Dia bergeming, namun sudut matanya memanas. Kini ucapan Hania yang selalu berkata tentang dosa, dosa, dan dosa, begitu nyata dirasakan.
Hatinya merasa bersalah sudah membuat kesalahan besar lagi dengan Gea. Tuhan, selamatkan pernikahan kami.
"Mas, kamu baru pulang?" Hania menyambut Gaka seperti biasanya. Menahan kekesalan dan kekecewaan. Bagaimanapun Gaka baru pulang, dia tidak mau langsung meruntut penjelasan. Ditakutkan justru menjadi pertengkaran panjang.
"Udah sholat subuh belum, Mas? Sholat dulu, gih," ujarnya.
Gaka masih bergeming, dia ingin menubruk tubuh Hania, tetapi seolah ada penghalang besar. Dia merasa kotor dengan tubuhnya sendiri setelah tadi terbangun dalam keadaan tidak biasanya bersama Gea.
Gaka berjalan menuju kamar mandi. Sedangkan itu Hania menarik napas panjang.
Seusai melaksanakan sholat subuh, Gaka memeluk Hania dengan erat. Selain rindu, dia justru dibayangi rasa bersalah.
"Gak pa-pa, Mas, aku yakin Allah melindungi pernikahan kita."
"Apa maksud lo?" Gaka bertanya tanpa melepas pelukan.
"Han!?" Kali ini Gaka terkejut dan melepas pelukan itu. Menatap tak percaya ke arah Hania yang ternyata wajahnya sudah sangat sembab.
"Astaga, apa semalaman kamu menangis?"
"Aku menangis karna keputusanku sendiri. Maafin aku, Mas." Hania menunduk, bahunya mulai bergetar karena tangisan.
"Sayang ...." Gaka kembali memeluk Hania. "Gue yang minta maaf. Gue yang harusnya minta maaf," ucapnya.
"Aku berpikir, kalau bukan karena permintaanku, gak mungkin itu terjadi."
__ADS_1
"Lo tau dari mana gue sama Gea ...." Ucapan itu terhenti, Gaka tak tega untuk melanjutkan.
"Aku liat di status Gea. Tapi bukan itu aja, Gea malah mengirim foto langsung ke nomerku."
Deg, Gaka mengernyit. Sepertinya memang benar-benar ada yang tidak beres. Kalau dipikir, apa tujuan Gea mengirim foto itu pada Hania? Gea tidak ingat kejadian beberapa bulan terakhir, harusnya wanita itu juga tidak ingat kalau sebenarnya dia sudah menikah dengan Hania. Di situ Gaka mulai janggal.
"Lo dah tau, apa lo akan pergi?"
"Aku ingin mendengar penjelasan darimu, Mas," kata Hania tidak menghiraukan pertanyaan Gaka.
"Gue gak ingat apapun. Gak ada yang bisa gue jelasin." Memang benar, dia benar-benar tidak ingat apapun malam panjang bersama Gea. Entah melakukan celap-celup atau tidak. Tapi untuk satu itu dia cukup ragu, karena semenjak bersama Hania, juniornya sudah tidak bisa on bersama wanita lain. Meski dalam keadaan tidak sadar dia tidak yakin bisa melakukannya dengan Gea.
"Gak ingat apapun?" Hania menelisik. "Kalau kamu begitu aku malah curiga sama kamu, Mas. Bagaimana kamu gak ingat apapun?"
"Entahlah, semalam gue minum teh yang dibuatin Gea, abis itu ngantuk dan ingat apapun lagi. Keknya gue sedikit janggal sama Gea," ujar Gaka.
Hania terdiam. Dia pun janggal dan aneh dengan Gea, tapi itu masih menjadi dugaannya saja.
Hania tersadar setelah Gaka memegang kedua bahunya. Pria itu sedikit menundukkan wajah, menjajari wajah Hania. "Gue males dan udah gak mau lagi lanjutin ini."
"Tapi, Mas, kita udah sejauh ini membantu. Kalau kita berhenti, bagaimana dengan Gea?"
Gaka menggeleng. "Pokoknya gue gak mau lanjutin. Apa lo mau terus-terusan nahan sakit dan cemburu."
"Aku bisa tahan sebentar lagi."
"Han!" Gaka melirik tidak suka. Jengah dengan sikap keras kepala Hania. Sudah sejauh itu kesakitan yang dialami, tapi masih berkeras memaksanya untuk melanjutkan sandiwara gila itu. Dia benar-benar tidak tahu lagi dengan pemikiran istrinya.
__ADS_1
"Mas!" Hania memanggil Gaka yang terlihat marah dan justru pergi keluar kamar. "Mas ...!" Gaka sama sekali tidak kembali. Tak berapa lama terdengar suara mesin mobil dan suaranya perlahan terdengar menjauh.
Hania terduduk lemas di sofa. "Aku tau kamu tidak mau menyakitiku lagi, Mas. Tapi hanya sebentar, aku mau kamu bersandiwara untuk sebentar lagi, karena aku ingin meyakinkan sesuatu. Aku ingin tau, apa Gea beneran mengalami amnesia atau tidak," gumamnya.