Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pawang Hewan Buas


__ADS_3

"Elus dan gendong macan itu, Mas!" perintah Hania dengan raut kesal.


"Eh." Gaka menoleh cepat. "Apa lo bilang?"


"Aku minta kucing malah kamu beliin anakan macan! Kalau gitu kamu aja yang elus-elus!"


Gaka mengerut dan mengangkat belah sudut bibir. "Gila. Yang bener aja elus-elus macan, lo mau suami lo ini wasalam detik ini juga?"


"Di sini siapa yang gila. Mana ada orang mau melihara hewan buas, 'kan kamu yang aneh, kamu yang beli macan itu. Lagian, kucing sama macan itu beda jauh, masa gak bisa bedain!"


Gaka menggaruk rambut asal. Memang iya, hanya orang gila yang mau melihara macan di dalam pekarangan rumah. Cuma masalahnya karena dia salah meng-klik gambar. Menjadikan semua salah kaprah. Dia tidak bisa menyalahkan siapapun, karena dia sendiri yang memilih.


'Ngidamnya calon baby kenapa serumit dan sepusing ini, sih.'


"Em, sayang." Gaka bernada lembut karena melihat raut wajah Hania belum berubah. Masih kesal ditambah mulutnya dicemberut-cemberutin.


"Apa?" jawab Hania.


"Maafin gue, emang gue yang salah karna pas pesen asal mencet gambar dan gak baca keterangan. Lo 'kan tau gue gak paham sama kucing, gue pikir warnanya sama persis yang lo minta, ya udah langsung gue pesen." Kembali Gaka menyengir kuda.

__ADS_1


"Besok diganti sama kucing beneran, ya, tapi yang ini biar dibawa pulang lagi," imbuhnya.


Haooomm


"Akh, astagfirullah." Hania memekik kaget dan reflek memeluk tubuh Gaka.


"Bedebah sialan! Kalau mau nguap permisi dulu kek biar gak ngagetin orang! Bodoh!" umpat Gaka.


Petugas pria yang menghantar kucing besar itu menahan tawa mendengar umpatan Gaka. Di telaah tetap saja tidak masuk diakal, mana ada hewan bisa meminta izin untuk mengaum? Aneh-aneh saja.


"Peliharaanmu itu Mas, peliharaanmu!" ujar Hania.


"Enak aja. Itu 'kan pesenan lo."


"Assalamu'alaikum ...." Terdengar seseorang mengucap salam. "Astaga ...!" Vara terkejut melihat hewan buas yang sedang rebahan dan menjilati bulu-bulunya sendiri. Kedua bola matanya terbelalak dan seketika merasa ngeri.


"Gaka! Kenapa ada macan di rumahmu?" Tuan Haru ikut terkejut dan panik.


Kembali Gaka hanya bisa menggaruk kulit kepala yang sebenarnya tidak gatal. Alamat berbambah runyam semuanya.

__ADS_1


"Itu pesenan Hania. Dia ngidam pengen pelihara kucing besar."


"Eh, bener itu sayang?" Vara langsung fokus melihat Hania.


Begitu juga Tuan Haru. "Wow, luar biasa sekali calon cucu kita, Ma. Belum lahir sudah minta macan, siap-siap aja kelahirannya nanti minta buaya."


"Kalau gitu bisa-bisa rumah ini jadi penangkaran hewan buas. Apa calon cucu kita mau jadi pawang hewan, belum apa-apa udah nyicil minta macan?"


Astaga! 'Kan, jadi tambah gak bener. Makin kacau. Gaka memijat pelipis. Sedangkan Hania bergeleng kepala. Bagaimana kedua mertuanya berpikir sejauh itu.


"Ma, Pa, mari kita masuk. Nanti Hania jelasin. Biar macan itu diurus Mas Gaka." Hania mengajak kedua mertuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Gaka menyuruh pria tadi untuk membawa kembali hewan buas itu ke habitatnya.


"Tuan, kalau dikembalikan maka uang yang Anda bayar tidak bisa kembali semuanya."


"Ah, gak masalah. Gue gak mikirin uang. Lebih sayang sama nyawa gue." Gaka mengembalikan surat-surat kepemilikan dan menyuruhnya segera pergi.


.

__ADS_1


.


Gak lengkap babnya. Akak Mei dah teler duluan. 🥴 besok sambung lagi yah.🙏🏻


__ADS_2