Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Putus


__ADS_3

Pukul sepuluh malam Gaka datang ke apartemen Gea. Wanita berambut sebahu itu menyambut dengan binar semangat. Tank top ketat, rok jauh di atas lutut sudah dipilih untuk menyambut sang kekasih. Karena penampilan seperti itulah yang paling disukai Gaka.


"Langsung ke kamar aja, yuk." Gea mengajak Gaka ke kamar untuk bercinta seperti biasanya. Akhir-akhir ini pria itu jarang membuai, hingga dia sangat merindukan usapan jemarinya.


"Ge, ada hal serius yang mau gue omongin sama lo." Gaka melewati Gea dan duduk di sofa.


"Mau ngomong apa, sayang, sok serius banget. Dari kemarin juga mau ngomong tapi gak jadi-jadi. Aku dengerin, nih." Gea mengambil duduk di samping Gaka. Tangannya di gunakan untuk menyangga dagu.


"Lo masih cinta sama gue? Apa perasaan lo masih sama?"


"Cinta banget. Kenapa bicara kek gini? Apa lo gak bisa liat kalau gue udah ketergantungan sama cinta lo. Bahkan tubuh lo jadi candu memabukkan yang setiap saat gue damba."


Gaka menelan ludah. Bagaimana dia akan melanjutkan niatnya bila sikap Gea seperti itu. Bimbang untuk berterus terang.


Ini bukan pertama kali dia memutus hubungan dengan seorang wanita, tapi mengingat bersama Gea adalah waktu yang paling lama, dia tidak tega mengakhiri sebuah hubungan begitu saja.


"Ge, gue minta maaf, tapi perasaan gue udah gak sama kek dulu. Gue pengen akhiri hubungan kita." Gaka berbicara dengan cepat dan lugas. Tidak ada keraguan di titik matanya. Dia kembali membulatkan tekad. Lebih baik segera memutus hubungan bersama Gea agar dia segera memulai perasaannya dengan Hania.


Deg ...


Gea mematung. Tatapan matanya begitu tajam mengarah pada Gaka. "Lo bicara apa?"


"Tanpa gue ulang, gue yakin lo udah denger. Dan lo juga tahu maksud gue."


"Ka, jangan bicara ngawur. Gue gak suka!" Melihat Gaka tetap serius membuat Gea mulai ketar-ketir.


"Gue serius, Ge. Lo suka atau enggak, itu udah jadi kemauan gue. Gue harap lo bisa ngerti."


"Lo harap gue bisa ngerti? Lo gila, Ka! Gimana gue bisa ngerti keputusan lo kek gini. Lo bisa mainin cewek-cewek itu, tapi lo gak bisa mainin gue! Lo gak bisa giniin gue!" Gea menjerit marah.


"Gue gak terima keputusan lo. Gue gak bisa! Lo gak bisa mutusin hubungan kita, gue cinta banget sama lo. Jangan giniin gue. Jangan akhiri hubungan kita!" Gea mulai menangis histeris.


Tidak ada badai, bahkan tidak terjadi masalah apapun dan tiba-tiba Gaka ingin mengakhiri hubungan mereka.

__ADS_1


Sebenarnya Gea sudah merasakan perbedaan sikap Gaka dari pertama kali memergoki pria itu menemui Hania di taman kota. Bukan sekali itu saja, tapi beberapa kali juga memergoki Gaka berduaan di ruang kerja.


"Keputusan gue udah final, Ge. Gue gak ada maksud buat mainin lo, tapi sekali lagi sorry, gue bener-bener gak bisa lanjut lagi." Gaka beranjak berdiri dan ingin segera pergi, tapi Gea menarik lengannya.


"Gak bisa, gue gak terima keputusan lo. Hubungan kita baik-baik aja, gak ada apapun yang terjadi. Tiba-tiba lo minta berakhir. Ada apa!? Atau ... jangan-jangan ada wanita lain yang udah godain lo sampek lo buang gue gitu aja!"


"Siapa wanita itu, Ka? Gue gak terima dia ngerubah lo kek gini. Lo pernah bilang kalau gue cinta mati lo, sekarang apa?! Seenaknya aja lo campakin gue?!" jeritan Gea mulai tak terkendali. Wanita itu sampai berlutut dan memegangi kaki Gaka. "Gue mohon, Ka. Jangan giniin gue."


Gaka mengusap wajah kasar. Dia sudah menduga reaksi Gea seperti ini. "Perasaan gue udah gak seperti dulu, Ge. Gue harap lo ngerti. Gue gak akan minta balik semua yang udah gue kasih. Gue cuma minta lo bisa terima. Itu aja."


Gaka membungkuk untuk melepas pegangan tangan Gea, setelahnya melanjutkan langkah tanpa peduli lagi dengan tangisan wanita itu. Hati dan tekadnya sudah bulat untuk mengakhiri semuanya bersama Gea.


Keesokan harinya Gea menelpon Hania untuk datang ke apartemennya. Bertepatan dengan hari libur, maka mereka menentukan jam sepuluh pagi untuk bertemu.


Tok tok ....


Hania mengetuk pintu apartemen Gea.


"Han ...." Gea menubruk tubuh Hania dengan isak tangis melengking.


"Gaka mutusin aku, Han."


"Apa!??" Yang ini membuat Hania lebih terkejut lagi.


"Semalam Gaka dateng cuma buat mutusin gue," ulang Gea.


Hania terdiam dan masih belum percaya dengan cerita Gea. Bukankah beberapa hari lalu Gaka dan Gea bersama. Bahkan pria itu sampai dua hari tidak pulang ke rumah. Apa mungkin mereka sedang ada masalah?


"Gaka jahat sama aku, Han. Gaka tega giniin aku!" jerit Gea. Hania mengusap punggung Gea untuk menenangkan sahabatnya.


"Apa kalian ada masalah?"


"Enggak! Sama sekali enggak! Kalau ada masalah, aku bisa terima dia mutusin aku. Tapi aku dan Gaka baik-baik saja, bahkan dua hari kemarin Gaka tidur di sini dan sikapnya masih biasa aja. Tapi tadi malem tiba-tiba aja dia bilang udah gak ada rasa sama aku." Tubuh Gea sampai bergetar karena tangisan.

__ADS_1


"Duduk dulu, Ge. Tenangin diri dulu." ujar Hania menuntun Gea duduk di sofa.


"Aku curiga Gaka punya incaran cewek baru, Han. Makanya dia tega mutusin gue."


Hania bergeming. Tidak! Berakhirnya hubungan mereka tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Tapi tunggu, dia baru ingat bahwa kemarin malam Gaka bilang mulai menyukainya.


Deg ...


Tidak! Jangan sampai itu terjadi.



"Mas, aku ingin bicara!" Hania mencegat langkah Gaka yang ingin masuk ke dalam kamar.


"Mau dimana?"


"Di balkon kamar kamu aja," pinta Hania dan diangguki pria itu.


"Mas, kamu habis mutusin Gea?" tanya Hania to the poin.


"Hem ...." Pria itu mengangguk.


"Kenapa kamu mutusin dia? Kamu tau, Mas, Gea sangat sedih dan kecewa tiba-tiba kamu putusin dia. Apalagi kalian gak ada masalah sebelumnya." ucap Hania sedikit terbawa emosi.


"Masalahnya ada pada diri gue!" sahut Gaka cepat.


"Kamu kenapa? Bukankah malam-malam sebelumnya kamu masih tidur bersama? Apa secepat itu hatimu berubah?"


"Gue cuma tidur di tempat yang sama, tanpa melakukan apapun karna hati gue udah gak ada di sana." Gaka menatap Hania. Sedangkan Hania mengernyit karena belum pahan dengan maksud ucapan Gaka.


"Hati gue udah ada di sini."


Hania membuang napas kasar. "Ya pasti hati kamu di sini, karna badan kamu juga di sini." Dia kesal mengira Gaka bercanda, padahal dia sendiri yang kurang fokus.

__ADS_1


Gaka melotot lalu menepuk kening. Ternyata Hania tidak mengerti maksudnya.


__ADS_2