
"Pa, Mama seneng banget dengan Hania. Mama pengen Gaka itu menikah dengan gadis seperti itu."
"Jangan aneh-aneh, Ma. Tadi kita udah bahas ini. Mana ada gadis baik-baik mau terima Gaka yang berandalan dan susah diatur seperti itu. Kita tahu selera Gaka seperti apa. Dia juga gak akan mau dengan wanita seperti anaknya Bu Mirna."
"Serahin aja sama Mama. Biar Mama coba pikirkan." Vara tersenyum dengan pandangan menerawang.
"Ma, jangan anaknya Bu Mirna, kasihan. Wanita sholehah harus bersama pria seperti Gaka."
"Pa, kita ulang masa kita dulu. Maaf, bukan maksud Mama ingin mengingatkan kenangan buruk atau apapun. Tapi dulu Papa juga sama persis seperti Gaka, dan Mama dengan sabar mengajak Papa untuk berubah. Akhirnya perlahan Papa bisa berubah. Istri yang baik, Insya Allah bisa membimbing lebih baik. Tapi kalau Gaka dengan Gea, Mama benar-benar gak setuju Pa," tutur Vara.
Tuan Haru hanya menghela napas panjang. "Terserah Mama."
~
Siang hari Hania sedang sibuk menjalani aktifitasnya. "Terima kasih atas kunjungannya, Mas." Dia tersenyum ramah kepada pembelinya.
"Cuaca mendung tapi aku merasa kepanasan, nih," celetuk seseorang membuat Hania terkejut dan menoleh ke samping kanannya.
"Mas Abian?"
Pria itu masuk ke dalam lapak kecil dan duduk di kursi plastik yang berjajar rapi.
"Kamu terlalu sibuk dengan pembeli-pembeli yang tampan, sampai gak tahu ada pembeli tampan lain yang datang."
"Apa sih, Mas. Aku beneran gak liat kamu datang."
"Melihat kamu sedekah senyuman sama pembeli laki-laki itu, hatiku mendadak panas, Han. Rasanya gak rela."
Hania tersenyum lalu menunduk, sikap Abian semakin hari semakin kentara menunjukan perasaanya. Dia malu dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Sampai umurnya 22 tahun, tak sekalipun Hania berpikir tentang perasaanya dengan lawan jenis. Sama sekali belum pernah berpacaran. Hanya beberapa kali menyukai anak pak ustad kenalan ayahnya, itupun secara diam-diam. Dan ketika pria yang disukai telah meng-khitbah salah satu santri dari pesantren tak jauh dari rumahnya, dia hanya menyembunyikan kegalauannya. Semenjak itu tak lagi memikirkan pria manapun.
Dia meyakini, jika berjodoh, Tuhan pasti mendekatkannya dengan pria yang tepat.
"Masa aku harus cemberut saat melayani pembeli, Mas. Yang ada mereka bakal kapok dan gak mau datang lagi." Hania menaruh satu piring mendoan di depan Abian.
"Sebentar minumnya, Mas." Hania hampir berbalik, tetapi dicegah oleh Abian.
"Kamu duduk aja temenin aku. Ada sesuatu yang ingin aku bicarain sama kamu."
"Apa, Mas?" Hania duduk di seberang meja Abian.
__ADS_1
"Han, apa kita bisa pergi berdua?"
"Ma-maksud Mas?" Hania mulai gugup.
"Aku ingin mengajakmu pergi. Em ... pergi jalan-jalan." Abian tersenyum malu-malu. Jantungnya selalu berdebar setiap kali Hania melihat ke arahnya.
"Kalau bisa sore aja ya, Mas, aku gak tega ninggalin ibu sendirian kalau malam."
"Hah? Jadi kamu mau aku ajak pergi?" Abian terbelalak.
Hania mengangguk dengan bibirnya tersenyum. Sangat manis bidadari bumi ini.
"Yes yes yes!!!" Abian kegirangan seperti anak kecil. Pria itu tersenyum lebar. "Nanti sore aku jemput di rumahmu, ya."
Lagi-lagi Hania hanya mampu menganggukkan kepala. Sebenarnya bukan Abian saja yang berdebar-debar, wanita itu pun merasakan hal yang sama. Namun Hania tak begitu menunjukkan perasaanya karena semua belum jelas.
Sore hari Abian sudah bersiap rapi menggunakan kemeja putih berlengan pendek. Rambutnya tertata rapi dengan sedikit olesan minyak rambut. Sejak tadi tak henti tersenyum sendiri. Hatinya terlalu membuncah karena sejarah pertama kali dia mengajak Hania pergi.
Ceklek ...!
Pintu Apartemennya dibuka dari luar, tak lama seorang Gaka muncul dan masuk begitu saja. Menjatuhkan diri di sofa dengan santai.
"Lo kerjain ndiri, gue lagi ada urusan."
Gaka mendongak dan mengamati penampilan saudaranya itu. "Weh ... rapi banget. Mau kemana lo? Tumbenan?" Dia terheran-heran melihat penampilan Abian necis abis.
"Ada urusan."
"Urusan apa bikin wajah lo berseri macam orang jatuh cinta."
"Ada lah. Rahasia."
"Cih ... lagak lo rahasia-rahasiaan sama gue. Udah nemu wanita kayak malaikat lo?"
" Ada deh. Eh, ntar kalau mau pergi jangan lupa kunci pintu dan kuncinya tarok di tempat biasa. Gue cabut duluan."
"Ah, enggak enggak! Gue juga mau pergi mau nemuin Gea."
"Ck. Pasangan serasi banget kalian berdua."
__ADS_1
"Yaps. Kami memang pasangan serasi." Gaka menjentikan jari di depan Abian, lalu melenggang keluar.
~
Setelah meminta izin kepada Bu Mirna, Abian mengajak Hania pergi mengendarai mobilnya.
"Kita mau kemana, Mas?" tanya Hania.
"Kamu maunya kemana? Aku siap anterin."
"Kok malah ganti tanya. Aku serah Mas aja."
Dan, mereka memilih ke taman yang ramai dengan pengunjung. Menikmati bias senja yang begitu menawan.
Abian yang tadi pergi membeli camilan, kini sudah kembali dan duduk di samping Hania namun masih berjarak. Cukup lama mereka hening tanpa bercengkrama hingga Abian mulai mengatakan maksudnya, agar waktu mereka tak terbuang sia-sia.
"Han, ijinkan aku bicara serius."
"Silahkan, Mas."
"Mungkin apa yang ingin aku ungkapkan hanya seperti bualan bagimu, tapi bagiku adalah rasa yang sesungguhnya sulit ku lupakan."
"Han, dari pertama aku melihatmu, aku sudah memiliki ketertarikan pada paras mu. Dan, semakin aku mengenalmu ketertarikan itu semakin besar, apalagi sikap dan kebaikanmu membuatku semakin ingin menjadikanmu sebagai orang terdekatku."
"Han, maukah kamu menjadi orang spesialku? Maukah kamu menjadi calon istriku?" Abian terlihat sangat serius. Meski jantung berdebar-debar, dengan keringat dingin mengucur di dahi, Abian mencoba mengendalikan rasa gugup. Dia sudah mendapat kesempatan emas, tidak ingin menyiakannya begitu saja.
Hania terdiam dan menunduk. Jemari-jemari meremas ujung outher yang dipakai.
Beberapa detik Hania tak menjawab, Abian mulai cemas. Apakah ungkapan perasaanya ditolak, atau Hania sudah punya pria idaman lain. Pertanyaan itu menghantui benaknya.
"Mas, aku tidak mau terikat dalam status pacaran. Jika Mas sudah siap, aku ingin langsung dikhitbah saja. Alasanku, pacaran itu lebih banyak mudharatnya dari kebaikannya. Lebih baik saling mengenal setelah aku, kamu, menjadi kita."
"Bidadari di bumi ini memang mengagumkan," gumam Abian dengan pandangan kagum.
"Apa Mas?"
"Enggak, Han, enggak apa-apa." Abian gelagapan dan mengalihkan pandangan. "Tenang Han, segera aku dan kedua orang tuaku akan berkunjung ke rumahmu untuk melamar secara resmi." Abian mengembangkan senyum lebar.
"Alhamdulillah, Insya Allah, aku tunggu, Mas."
__ADS_1
"Makasih, Han, makasih."