
Dua hari berlalu. Gaka bersama Lili sedang menghadiri acara di luar kantor. Pada saat itu Hania mengirim pesan pada Gaka meminta izin untuk datang ke apartemen Gea.
Semalam, Gaka sudah berhasil mengambil sesuatu yang disimpan di apartemen Gea, dan apa yang mereka dengar begitu mengejutkan.
Rencananya pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, Gaka bersama Hania akan mendatangi Gea. Namun Gaka harus menghadiri rapat penting yang tidak bisa diwakilkan, akhirnya pria itu menyuruh Hania untuk menunda sampai dia kembali ke kantor.
'Jangan kesana dulu, tunggu gue!' Balasan pesan dari Gaka.
'Gak pa-pa, Mas, please ya aku kesana duluan. Kamu tenang aja, Gea gak akan bisa menyakitiku.' Satu balasan lagi dari Hania. Padahal Gaka belum membalas, tapi Hania sudah beranjak keluar kantor.
"Selamat siang, Nyonya Bos," sapa suara yang tidak asing di telinga Hania. Wanita itu menoleh ke post satpam.
"Mas Al?"
Pria itu menunduk tanpa membalas tatapan Hania.
"Sapa dan panggil aku seperti biasanya, Mas," ujar Hania lagi.
"Gak bisa, kalau seperti itu gak sopan. Kamu sekarang istri dari atasan saya," balas Al.
Hania menghela napas. "Statusku emang istri atasan kamu, Mas, tapi di kantor ini aku masih tetep jadi OB, loh."
Entah mengapa pria bernama Al itu tiba-tiba menatap Hania dengan sendu. "Belum berjuang tapi hatiku udah terpatahkan, Mbak," ujarnya.
Hania beralih tersenyum. "Patah satu bakal ada cabang baru, Mas, tenang ... bestie ku masih single."
Al mengernyit tidak mengerti.
"Andira. Dia gak kalah cantik dan juga solehah."
Sejak pulang dari Jogja, Andira dan Bunga memutuskan untuk istiqamah berjilbab. Alhamdulillah, sampai sekarang mereka semakin berubah baik.
Al menyengir dan menggaruk rambut. "Takut kalau mau yang gitu lagi. Agak trauma. Emang nasib cowok miskin gak terkenal gini susah dapet jodoh. Pakek ngarep yang sempurna, gak tau diri banget. Allah juga berpikir ulang kalau mau kasih jodoh orang kek saya."
"Gak boleh pesimis, Mas. Mas baik, pasti dapet jodoh yang baik. Ntar saya bantu, ya."
__ADS_1
"Eh, takut sama Tuan Gaka," sergah Al.
"Dia mah aman."
Mobil Pak Arya sudah berhenti di samping Hania. Wanita itu berpamitan pada Al dan langsung masuk ke dalam mobil.
•
Sekitar apartemen Gea terlihat sepi. Hania mengetuk pintu beberapa kali sampai pintu terbuka dan menampilkan Gea yang menyambut ramah kedatangannya.
"Hai, Han. Gak kasih kabar dulu kalau mau dateng?"
"Sengaja mau kasih kejutan," kata Hania. Setelah Gea mengajak masuk, mereka berdua kini duduk di sofa.
Hania mengambil ponsel dan mengotak-atik sebentar. "Ge, apa kamu secinta itu sama Mas Gaka?"
Gea mengernyit bingung. Raut wajahnya benar-benar terlihat polos, namun siapa sangka otaknya tersimpan kelicikan hakiki.
"Apa maksudmu, Han? Gaka pacarku, tentu aku sangat mencintainya. Tanpa dia, semangatku buat sembuh gak akan sebesar ini. Dan tanpa dia juga aku lebih memilih mengakhiri hidup."
"Tapi maaf Ge, Mas Gaka adalah suamiku. Aku gak bisa lagi pinjamin dia buat semangatin kamu sembuh."
Hania menggeleng. "Aku sama sekali gak becanda. Aku memang istri Mas Gaka."
"Gak mungkin, Han. Kamu pasti bohong! Gimana bisa kamu menikah dengan pacarku, kamu gak kenal Gaka, gimana tiba-tiba mengaku menikah dengan dia? Jangan nge-prank aku."
Prok prok prok ....
Hania bertepuk tangan dan terdengar sangat nyaring. Sudut bibirnya tersenyum miring. "Bukannya kamu yang nge-prank aku sama Mas Gaka? Aku gak tau lagi dengan kamu, Ge, aku benar-benar semakin gak ngenalin kamu. Satu kekecewaan bisa merubah mu sejauh ini."
"Aku gak ngerti kamu bicara apa! Aduh-duh, kepalaku sakit." Gea mengeluh dan memegangi kepalanya yang sakit. Aktingnya memang sangat bagus.
"Kepalamu sakit, Ge? Mau ku bantu panggilkan dokter atau ku bantu supaya gak sakit lagi?" Hania sedikit muak melihat akting Gea.
"Han ...."
__ADS_1
Plak .... Tamparan keras di pipi sebelah kanan membuat Rumia Geana menoleh dan memegangi pipinya yang terasa panas. "Hania!" bentaknya.
"Itu kejutan buat kamu karna kamu sudah mempermainkan aku dan Mas Gaka."
Belum berhasil Gea menguasai diri, wanita itu mendapat satu kejutan lagi di pipi kirinya.
"Itu untuk kebohongan mu!" sentak Hania dengan kemarahan. Seseorang yang selalu baik dan lemah lembut pun bisa berubah menjadi monster bila terus-menerus di usik. Hania menunjukan sikap beraninya di depan Gea. Itu semua karena dia benar-benar muak.
"Aku dan Mas Gaka sudah tau rencanamu, gak perlu pura-pura lagi. Semua sudah berakhir, Ge, apapun keadaanmu, aku gak akan peduli. Aku memang bodoh, sempat percaya dengan tipu dayamu. Bahkan aku menjadi istri zalim karna menyuruh suamiku untuk berzina dengan wanita yang bukan muhrim. Itu semua demi kamu. Tapi nyatanya kamu lebih jahat dari yang pernah aku bayangkan."
"Tutup mulut lo, wanita bodoh! Sialan!" desis Gea. Kedua matanya nyalang menatap Hania. Wanita berjilbab lebar juga membalas tatapan yang sama.
"Kalau pun gue gak bisa balik sama Gaka, gue pengen hubungan lo berakhir. Biar lo rasain juga sakit ati!!!" jerit Gea.
Hania menggeleng pelan. "Apa kamu bener-bener gak bisa ikhlasin Mas Gaka buat aku?"
"Cih! Siapapun gak akan bisa ikhlasin orang yang disayang tiba-tiba jadi pasangan sahabatnya sendiri. Berat, Han! Berat!" teriak Gea.
"Ge, ada sebuah alasan besar kenapa aku menerima pernikahanku. Kamu tau, Ge, Gaka adalah pria yang menodai ku."
Deg ....
Gea terpaku dengan tatapan sulit diartikan.
Hania terdiam dengan kedua tangan tergenggam. Meski sekarang dia dan Gaka sudah saling mencintai, namun mengingat masa kelam itu pun dadanya berdebar kencang.
"Sungguh, jika bukan karna hal itu, dari awal gak mungkin aku menerima Mas Gaka. Aku kehilangan marwah ku sebagai wanita. Ku pikir, setelah menikah dan terpisah aku akan lebih mulia menyandang status janda daripada wanita tanpa mahkota. Tapi, manusia hanya bisa berangan, Pemilik Hidup yang menentukan. Di antara kami perasaan itu hadir begitu saja.
Katakan, Ge, bisakah kita mengatur perasaan? Aku sudah meminta Mas Gaka untuk kembali padamu, tapi dia tidak mau.
Bukan cuma kamu, tapi aku pun berat. Aku berat berada diposisi ku."
Gea menunduk dan menangis. Sama halnya dengan Hania yang juga menangis. "Kamu masih ingat, sepenting apa arti mahkota bagiku. Aku tidak memiliki kepercayaan diri lagi atas diriku setelah itu terenggut."
Gea semakin terisak. Sepuluh tahun lebih mereka bersahabat, bahkan Gea sudah sangat tahu dengan Hania. "Gaka emang brengsek!" umpatnya. "Kenapa kamu gak jujur dari awal?"
__ADS_1
"Bagiku itu adalah aib, juga kenangan terburuk. Aku ingin menguburnya dalam-dalam. Gak ingin mengungkitnya lagi."
.