
Satu Minggu kemudian.
Wanita dengan rambut panjang terurai sepinggang itu tengah berdiri di sisi balkon. Menikmati semilir angin di waktu ujung senja.
"Sayang ...."
Belum terdengar pintu terbuka, tapi suaranya lebih dulu memenuhi telinga. Hania menoleh ke belakang, barulah Gaka muncul dari balik pintu. Sedang mendekat ke arahnya.
"Assalamualaikum, Mas," ralat Hania. Entah sudah berapa bulan mereka bersama, tapi terkadang Gaka memang lupa mengucap salam. Lebih keseringan memanggil dengan sebutan 'sayang' ketimbang mengucap salam terlebih dahulu. Namun Hania memaklumi, dan terus berusaha membimbing juga mengajari Gaka hal baik.
Dari radius satu meter pria itu menyengir. "Assalamualaikum, bidadarinya Ksatrya Higaka."
"Walaikum salam, Mas." Hania bersemu. Dia meraih tangan Gaka untuk dicium.
Gaka hanya bisa menghela napas. Sudah satu minggu, tapi ujiannya belum berakhir.
Tapi tunggu! Biasanya Hania akan langsung kembali menjauh setelah mencium tangannya. Beberapa saat wanita itu diam dan tidak berjarak. Gaka mengernyit.
"Lo gak mual, sayang?"
Hania mengendus-endus sebentar. "Enggak, sih, Mas. Iya, aku gak mual. Biasa aja." Dia pun ikut mengernyit. Yang pasti bukan Gaka saja yang heran, bahkan dia sendiri juga keheranan.
Hah? Gaka terbelalak. Kok bisa? Begitu pikirnya. "Beneran lo gak mual?" Bertanya ulang.
Dengan santai Hania menggeleng.
Gaka mengendus bau tubuhnya sendiri. Iiieyuh ... lumayan bau keringat, karena tadi begitu sibuk berada di luar kantor.
"Bau keringat gak mual, giliran bau wangi mual. Calon bayi kita agak gesrek apa gimana, sih? Dikasih wangian gak mau, giliran bau asem biasa aja," ucap Gaka.
"Hust, kamu nih, Mas. Ya suka-suka dia lah."
'Nah 'kan, belum apa-apa Emaknya juga dukung dia mulu'. Apalagi nanti kalau udah lahir. Gue bakal diurutan nomer sekian. Kalau laki, hem ... siap aja lo musuhan sama gue,' batin Gaka kesal.
"Bukannya seneng malah mukanya kesel gitu. Kemarin ngerengek biar aksi ngidamnya udahan, giliran udah biasa aja malah kek gitu. Mau kamu gimana, sih, Mas." Hania berganti kesal.
"Heh? Enggak gitu. Tadi gue lagi komunikasi antar batin sama calon anak kita. Sorry sorry." Gaka tersenyum. "Eh, seneng dong. Seneng bingit." Dia memajukan bibirnya dibuat monyong. "Gak sabar pengen nyium."
"Ih ... ha ha ... geli tau, Mas, liat kamu begitu. Ha ha ...." Hania menutup wajah dan tertawa terbahak-bahak.
"Beneran nih gak mual?" tanya Gaka memastikan. Namun Hania masih tenggelam dalam tawanya. "Gas poll."
"Akh' ...!" Hania berteriak saat Gaka tiba-tiba menggendong tubuhnya dan seperti melayang di udara. "Mas, kamu ngagetin," pekiknya.
"Bau-bau asem juga gak pa-pa lah. Yang penting junior gue buka puasa," ujar Gaka membawa Hania masuk ke dalam kamar.
"Mas, pelan-pelan, sekarang ada anakmu. Jadi agak slow, ya."
__ADS_1
"Okey, sayang."
Ahay, akhirnya mereka bisa berolah raga bersama. Menyalurkan rindu dengan sentuhan dan bisikan mesra. Meraih nikmat dengan penuh cinta. Dan yang terpenting ... si junior bisa buka puasa.
"I Love you, my wife." Di akhir pergulatan mereka, Gaka tersenyum puas. Hania tak membalas karena sudah terkapar tak berdaya.
Gaka langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Rekor pertama olah raga dengan keadaan penuh keringat.
Setelah keluar dari kamar mandi mendapati Hania sudah bersandar di kepala ranjang. Gaka tersenyum dan ingin mendekatinya lagi.
"Hoek! Hoek! Aku mual lagi, Mas." Tiba-tiba Hania diserang rasa mual. Wanita itu gegas ke kamar mandi dengan tubuh Gaka mematung.
Samar-samar terdengar suara Hania muntah-muntah. Gaka berkedip-kedip. Eh, bayi maunya apa sih? Gue wangi dia gak mau, giliran gue bau asem dia demen. Apa besok-besok gue gak usah mandi aja biar bisa tidur bareng sama Emaknya?
Pukul sebelas malam.
Entah ujian apalagi. Beberapa jam lalu hatinya berbunga-bunga karena si junior sudah bisa menikmati candunya lagi. Dia pikir aksi ngidam itu sudah tidak berlaku. Eh, ternyata salah besar.
Beberapa jam berikutnya harus kembali nelangsa pada titik awal. Hania tidak mau didekati lagi. Wanita itu tidur pulas dalam damai, sedangkan dia tidur dengan mimpi buruknya. Tidur di sofa dengan memeluk guling.
"Sialan! Baikan bentar udah ngajak musuhan lagi. Mau main-main sama Daddy?! Besok kalau lo udah keluar kita main jotos-jotosan! Kesel banget gue." Akhir-akhir ini Gaka lebih sering menggerutu daripada bersenandung lagu. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat dilanda kesal harus menahan aksi ngidam calon anaknya.
Gaka menghela napas panjang sebelum memejamkan mata. Walau kesal, tapi rasa kantuknya tidak bisa ditahan.
Rasanya baru satu menit dia tidur. Tapi seperti ada yang menyenggol-nyenggol.
"Hem. Ngapain ganggu!"
"Bangun, Mas."
Gaka mengucek mata. "Kenapa bangunin? Mau minta peluk? Mau minta dicelap-celup lagi?"
"Pikiranmu, Mas." Hania menaruh kemoceng ke atas meja.
Astagfirullah, beri kesabaran. Hania membangunkannya dengan kemoceng. Dia tidak tahu istrinya mendapat benda itu dari mana. Apa itu salah satu aksi ngidam juga? Bertambah kesal Gaka dengan si calon bayi.
"Tadi aku bermimpi," ujar Hania. Gaka diam mendengarkan.
"Aku mencium aroma rendang yang sangat enak."
Gaka mendengarkan dengan antusias. "Lo mau makan rendang? Bangunin koki, biar dia buatin rendang yang enak seperti di mimpi lo."
"Enggak. Gak seperti itu," tolak Hania.
"La terus?" Gaka mulai bingung.
"Aku gak mau makan daging tapi mau makanan yang ada bau-bau rendangnya."
__ADS_1
Heh? Mulai gak waras.
"Gak mau daging tapi mau makan yang ada bau-bau rendangnya?" Gaka berpikir sejenak. "Ah gak tau. Nanti tanya koki aja."
Gaka membangunkan koki untuk diajak pusing bersama. Memerintah koki membuatkan seperti yang dipinta istrinya.
Satu jam setengah, koki sudah menghidangkan olahan rendang dengan harum yang sangat menggugah selera. Tapi, ketika Hania melihat masakan itu, dia tidak mau.
"Aku 'kan udah bilang gak mau ada dagingnya."
"Dimana-mana namanya rendang pakek daging, sayang." Gaka menjawab dengan gigi bergemeluk. Meski kesal, namun ditahan. Satu jam dia menemani Hania, mengabaikan rasa kantuknya.
"Kamu marah sama aku, ya, Mas?" Hania melihat gurat kemerahan pada wajah Gaka.
"Enggak, sayang." Gaka menebar senyum. Pengen gue hih juga nih calon anak. Belum apa-apa tapi nguji kesabaran banget. Kalau udah jadi bocil, gue jitakin kepalanya.
Dua jam kepala Gaka seperti berdenyut. Sudah berapa menu makanan terhidang, tapi masih belum ada yang benar. Dia hampir frustasi, para pelayan yang membantu koki juga mengalami hal yang sama.
"Sayang, ditelaah kembali. Di inget dan di pikir mateng-mateng, sebenarnya lo mau makan apa?" Gaka menyubit pahanya sendiri saking gemas-gemas kesal. Dia tidak bisa menyakiti Hania, dan hanya itu yang bisa dilampiaskan. Mungkin saja besok pagi pahanya banyak tercetak lebam kebiruan.
"Ya seperti yang aku bilang tadi, Mas. Pengen makan rendang, tapi gak mau makan dagingnya. Mau baunya aja."
Lama-lama gue cekik leher gue sendiri!
"Okelah. Coba gue yang turun tangan!" Gaka sudah kehilangan kesabaran. Dia beranjak ke dapur dan menyuruh para koki pergi. Membuka satu per satu tempat penyimpanan bahan makanan. Dia memutar otak untuk memecahkan permintaan Hania yang tidak masuk akal.
'Aha!'
Lima menit kemudian.
Tap. Satu piring diletakan di depan Hania. Membuat satu menu makanan membuat Gaka banjir dengan peluh. Dia tidak pernah berkutat dengan dapur, tapi demi calon anak paling ngeselin itu dia harus terjun sendiri membuat makanan.
"Wah ... ini baru oke, sayang. Pasti enak banget. Baunya rendang tapi gak ada dagingnya."
Mendengar itu Gaka menghela napas lega. Akhirnya.
Permintaan tidak masuk akal itu dipecahkan dengan sepiring mie goreng rasa rendang.
"Mantap, Mas. Enak."
Jos mantap, padahal menguji kesabaran.
"Iya, sayang. Mantap, ya. Lo seneng gue yang senep."
"Apa Mas?"
"Gak pa-pa. Abisin dong. Kalau mau lagi masih ada dua dus kok."
__ADS_1