
Sepanjang dia bekerja, perasaan Hania sama sekali tidak tenang. Beberapa kali melihat penunjuk waktu. Biasanya jarum jam berputar lebih lambat, tapi kenapa hari ini terasa cepat sekali.
Tiga puluh menit lagi waktunya jam istirahat kantor, perasannya mendadak cemas. Bagaimana nanti dia harus berhadapan dengan Gaka.
Dia sudah diserbu beberapa teman sesama cleaning servis karena insiden besar yang dilakukan. Hal itu membuat nyalinya lumayan menciut.
"Lo baru dua hari kerja dah bikin calon CEO jatuh. Hebat, ya. Punya nyawa berapa lo?"
"Siap-siap bakal abis lo."
"Bukan cuma dipecat, bisa aja lo masuk penjara."
Ah, bukankah itu terlalu lebai kalau sampai menakut-nakuti mau dipenjarakan? Padahal Gaka yang telah menabrak ayahnya sampai meninggal dia tidak memperkarakannya.
"Lo gak tau?! Tuan Gaka itu galaknya minta ampun! Dia juga gak punya toleransi sama sekali."
"Siap-siap aja lo, siap-siap!"
Beberapa orang terus menakuti dan memojok-mojokan, membuat nyalinya yang besar lumayan mengerut. Bukan takut dengan Gaka. Enggak sama sekali. Tetapi dia lebih takut dengan pemecatan. Pekerjaan yang baru dijalani dua hari itu membuatnya nyaman. Dia memiliki teman baru, lingkungan baru dan mengetahui apa yang belum pernah dia ketahui. Intinya dia sudah sangat nyaman.
"Han, udah waktunya istirahat. Balik ke ruangan, yuk." Teman Hania yang sama-sama mendapat tugas membersihkan lantai satu mengajak kembali ke ruangan untuk makan siang.
"Aku belum selesai, kamu duluan aja, Mbak."
"Diselesaikan nanti ajalah, emang kamu gak laper?"
Kelaparan itu sudah menghilang. Yang dipikirkan sekarang, bagaimana dia akan menemui Gaka.
Tok ... Tok ....
"Mana yang namanya Hania?" Seorang wanita berpakaian ketat tiba-tiba muncul dan menanyakan Hania.
"Saya, Mbak." Hania mengangkat tangan.
"Di tunggu di ruangan Tuan Gaka."
"Kenapa dia gak lupa aja, sih," gumam Hania lirih.
Wanita itu berbalik dan hampir pergi, tapi Hania memanggil. "Mbak, saya gak tau ruangannya."
__ADS_1
"Makanya ikuti saya. Dari tadi malah bengong," ketus wanita itu. Hania akhirnya mengikuti langkah wanita di depannya.
Ting ....
Pintu lift terbuka, Hania takjub melihat deretan ruangan dengan interior modern. Ruangan sangat luas dengan kaca-kaca besar. Namun tetap tidak bisa melihat ke dalam ruangan langsung.
Wanita itu mengetuk pintu. "Tuan, bolehkah saya masuk?"
"Ya."
Ketika membuka pintu, di suguhi pandangan Gaka dengan pandangan tajam. Namun Hania tak melihatnya dan justru sibuk meneliti ruangan besar yang baru pertama kali dilihatnya.
"Ck. Kampungan," gumam Gaka semakin kesal dengan tingkah Hania.
"Lili, lo keluar aja!" Gaka mengusir sekretarisnya.
"Lo gak ada santunnya sama gue. Gue di sini Bos!" Gaka menekankan kata 'Bos'.
Jantung Hania berdegub kencang, tetapi sebisa mungkin dia menutupi rasa takut.
"Bisa gak mbak yang tadi di suruh masuk aja. Saya gak nyaman ngomong berdua sama kamu," ujar Hania tidak menggubris Gaka yang tengah membelalakkan mata.
"Barusan gue bilang, gue di sini Bos. Beraninya lo ngatur-ngatur gitu." Gaka bersungut.
"Gak usah takut, gue gak doyan sama lo!" ujar Gaka dengan gaya mengejek.
Hania menghela napas panjang. Meminta kesabaran ektra untuk menghadapi pria seperti Gaka.
"Jelasin apa tujuan lo bekerja di sini?"
"Tujuan ...? Saya pengen cari uang dan cari pengalaman."
"Huft ... susah emang ngomong sama Maesaroh," ucap Gaka lirih.
"Nama saya Hania, bukan Maesaroh. Tolong hargai almarhum kedua orang tua saya yang memberi nama itu."
Gaka menggaruk kepalanya dengan kesal. Baru ini dia berbicara dengan wanita polos, atau lebih tepatnya adalah bodoh. Versinya.
"Ah, lanjut aja ke pertanyaan gue tadi. Lo kenapa bisa kerja di kantor bokap gue? Tujuan lo apa? Lo pasti punya tujuan gak baik! Baru dua hari kerja lo udah berani bikin gue jatuh dan buat gue malu. Jangan-jangan lo pura-pura bekerja di sini buat balas dendam ke gue karna kesalahan gue nabrak bokap lo?!"
__ADS_1
Hania terdiam.
"Lo mau celakai gue balik? Lo mau neror gue? Lo mau balas dendam. Perempuan gak tau terima kasih lo. Bokap gue udah bayar kompensasi banyak, tapi lo tetep mau balas dendam!"
"Terserah dengan pikiran buruk Anda! Tapi tujuan saya bekerja di sini hanya mencari uang dan mencari pengalaman."
"Alibi aja cari uang! Setiap bulan lo dapet uang banyak dari bokap gue," tukas Gaka.
"Tanyakan itu pada orang tua, Anda," tegas Hania. "Untuk tadi pagi saya benar-benar minta maaf. Saya sudah bersumpah dengan menyebut nama Allah, kalau Anda seorang muslim, pasti tau artinya sumpah tanpa saya jelaskan berulang kali."
Gaka membuang napas panjang, melihat mata Hania dan tidak ada kebohongan di sana.
"Satu lagi, saya sama sekali tidak tau kalau ini kantor Anda. Kalau saya tau dari awal, saya pasti berpikir ulang untuk melamar kerja di sini."
Hah? Gaka dibuat terheran-heran dengan sikap Hania. Sama sekali tidak ada takut dan ragu.
"Kalau sudah tidak ada pembicaraan, bolehkah saya pergi."
"Heh, karyawan lain belum tentu punya kesempatan ada disini, bisa ngomong sama gue itu kesempatan langka. Lo harusnya bersyukur udah gue undang langsung malah pengen cepet-cepet keluar."
"Saya tidak merasa begitu. Saya pengen hindarin penyebab saya bisa masuk neraka?"
"Hah?!" Gaka tercengang. "Apa lo bilang?!"
Hania menghirup udara sebanyak-banyaknya dan mengeluarkan perlahan. Nasib sial apa ketemu pria seperti Gaka. Dia benar-benar tidak suka.
"Maafkan ketidaksopanan saya." Hania menundukkan kepala sebentar dan meraih handel pintu. Gerakan itu membuat Gaka reflek mengejar Hania agar tidak keluar.
Gaka yang berjalan cepat tak sengaja menendang kaki Hania hingga oleng dan menabrak Gaka. Keduanya tak punya keseimbangan baik dan justru terjatuh dengan posisi Hania di atas tubuh Gaka.
Keduanya terdiam dalam keterkejutan.
Tik tuk tik tuk ... jarum jam sebagai musik dalam keheningan.
Plaaaak ....
Naas. Gaka yang belum sadar dalam keadaan sudah menerima tamparan keras dari Hania.
Gaka bertambah tercengang lagi.
__ADS_1
"Inilah yang saya takutkan! Lagi-lagi kamu menyentuh saya!" kesal Hania. "Saya menghargai Anda, tapi Anda tidak menghargai wanita." Hania bangkit dan segera keluar dari ruangan Gaka. Tidak perduli lagi kalau dia harus kehilangan pekerjaan. Bertemu Gaka selalu membuatnya gagal menahan amarah.
Gaka duduk di lantai. Perkataan Hania tadi hanya berlalu begitu saja. Dia masih tercengang dengan tamparan Hania. "Cuma gak sengaja jatuh gitu aja gue kena tampar, gimana kalau gue tidurin dia? Bisa di gantung idup-idup gue?"