Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Cara Kerja Waktu Yang Cepat


__ADS_3

Menempuh perjalanan melelahkan akhirnya semua rombongan bis sudah sampai di Kota Yogyakarta. Para karyawan dengan tertib memasuki kamar hotel tempat mereka akan menginap. Teman satu kamar karyawan sudah di list dari sebelumnya, hingga kini mereka tinggal memasuki kamar masing-masing.


Bertepatan Hania satu kamar dengan Bunga dan satu temannya bernama Andira. Mereka bertiga mendapat fasilitas sederhana. Semua disesuaikan dengan pekerja dan jabatan.


"Tuan, kita sudah sampai." Pak Arya membangunkan Gaka yang ternyata ketiduran.


"Dia udah sampek 'kan?" Gaka celingukan mencari bis nomor sembilan. Bis yang ditumpangi Hania.


"Sudah, Tuan. Nona sudah masuk bersama teman-temannya." Pak Arya tahu yang dimaksud Gaka.


Tidak berkata lagi, Gaka turun dan langsung ingin ke kamarnya. Namun, pihak manager hotel terlihat menyambut kedatangannya. Wanita itu tersenyum ramah. "Selamat datang, Tuan Gaka. Senang bisa berjumpa dengan Anda lagi."


Gaka hanya membalas tersenyum.


"Mari saya antar langsung ke kamar Anda."


"Tidak perlu, Nona Lida. Sepertinya saya sudah hapal dengan kamar saya," tolak Gaka. Sangat sering Gaka menginap di hotel itu, dia selalu mendapatkan fasilitas VVIP karena SAG Grup memiliki saham di hotel itu.


"Kamar yang biasa disediakan untuk Anda sedang direnovasi, untuk kunjungan kali ini Anda berganti kamar. Walau berbeda tapi memiliki fasilitas yang sama," terang Lida.


"Ough, oke." Gaka tidak mempermasalahkan. Badannya yang lelah hanya ingin segera istirahat. Biasanya, setiap dia berkunjung ke Yogyakarta selalu menempuh jalur udara, namun kali ini demi Hania dia rela melakukan perjalanan jalur darat.


Tring ...


Hania yang baru saja ingin merebahkan tubuh dibuat terkejut setelah membaca pesan masuk dari Gaka. Dia melirik kedua temannya yang asik bermain ponsel. Berpikir sejenak untuk mencari alasan agar bisa keluar menemui Gaka.


"Mbak, aku keluar sebentar, ya."


"Lo mau kemana, Han?" tanya Bunga.


"Em, mau nemuin temen bentar. Dia bilang mau mampir ke hotel ini."


"Loh, temen lo tinggal di deket-deket sini?" Bunga menelisik, seolah ragu dan kurang percaya dengan alasan Hania.


"Iya, Mbak, kebetulan kos-kosannya temen deket sini. Aku keluar bentar, ya."


"Ya dah serah lo. Tapi ati-ati, awas nyasar. Ohya, jangan lupa juga dua jam lagi semua kudu kumpul di deket pantai," ujar Bunga mengingatkan.


"Iya, Mbak, aku inget. Aku pergi dulu." Hania gegas keluar kamar. Dia menunggu di depan lift karena lift sedang digunakan. Hania celingukan sambil melihat sekitar, tidak ingin karyawan lain melihatnya menuju lantai atas.


"Raut muka lo dah kek pencuri ...," ucap seseorang.

__ADS_1


Hania menoleh.


"Sok bangga dengan status lo, nyatanya hubungan lo kek selingkuhan. Idih ...." Gea bersedekap dada sambil meringis mengejek.


'Padahal aku begini buat hargai perasaan kamu juga, Ge,' batin Hania.


"Aku memilih begini untuk menghargai seseorang. Aku tau, seseorang belum sembuh dengan lukanya. Aku hanya ingin menjaga."


"Heleh ... jawaban busuk macam apa itu!? Kalau lo ngehargai gue dan gak ingin gue terluka, mustinya lo gak akan tega rebut dia dari gue!" Gea menatap nyalang.


"Lo tau, Han. Gue benci banget sama lo. Seluruh kehidupan gue benci banget sama lo!" tudingnya.


Hania berkaca-kaca. Sudah berapa kali dia dan Gea berdebat, tapi dasar hatinya tetap menembus rasa sakit.


"Aku gak merebutnya, Ge, tapi takdir yang merebutnya darimu. Silahkan membenciku, tapi aku tidak akan membalas kebencianmu."


Gea bergeming melihat Hania masuk ke lift. Memikirkan ucapan Hania barusan, tapi setengahnya dia tetap tidak mempercayai.


Di lantai atas, Hania tidak perlu berkeliling mencari kamar Gaka. Ternyata Pak Arya sudah menunggu di depan lift dan mengantarkan Hania menuju kamar Gaka.


Gaka membuka pintu dengan senyum sumringah. Begitu menarik Hania masuk, dia langsung melayangkan pelukan.


"Mas ...."


"Gombal. Cuma berapa jam gak ketemu," kata Hania. Namun dia pun menikmati pelukan dari Gaka. Menghirup wangi parfum pria itu yang kini mulai familiar baginya.


"Modusmu, Mas. Harusnya aku gak ketipu sama pria modus sepertimu."


Gaka cengengesan. Dia tadi mengirim pesan menyuruh Hania datang karena lukanya terasa sakit. Tapi tentu saja itu hanya modus. Makanya sekarang dia menyengir kuda.


"Beneran sakit, makanya lo harus temenin gue."


"Coba sebut aku, Mas. Jangan lo gue."


"Gak biasa, kaku lidah gue." Gaka mengajak Hania duduk di sofa, dan di atas meja sudah terhidang berbagai menu makanan lengkap. "Yuk, makan, gue laper. Tapi suapin, ya."


Hania melirik. "Lama-lama kok kamu kayak bayi gede sih Mas," selorohnya.


"Iya, karna bayi kecilnya belum ada. Ntar abis ini kita bikin bayi kecil." Gaka membalas selorohan Hania.


Beberapa detik terdiam. Gaka menyentuh dan menggenggam tangan Hania. "Sampek sejauh ini ingatan lo sama tindakan buruk gue. Sorry banget, waktu itu gue bener-bener gak sadar. Gue lagi mabuk berat."

__ADS_1


"Berapa kali kamu udah minta maaf, Mas, aku udah memaafkanmu. Tapi aku gak tahu, aku masih sangat ketakutan."


Gaka mengangguk memaklumi. "Semua itu juga salah gue, gue sanggup nunggu lo sampek bener-bener siap."


"Makasih, ya, Mas. Kita akan coba perlahan-lahan."


Selama dua jam kebersamaan mereka, Hania maupun Gaka memilih merebahkan tubuh dalam keadaan saling berpelukan. Tak ada aktifitas lain, dan keduanya hanya saling menyelami kehangatan.


Gaka mengelus kepala Hania yang tidak memakai jilbab, hingga kelamaan Hania tertidur dalam pelukannya.


"Takdir kita tuh lucu, gimana awalnya gue benci dan gak suka banget sama lo. Tapi cara kerja waktu yang cepat, sekarang malah gue yang jadi bucin sama lo," ucap Gaka tersenyum.


Dulu, dia adalah pria minim ekspresi, pelit senyum dan selalu memasang wajah dingin. Namun, sejak bersama Hania, semua ekspresi itu seolah dilupakan. Kini selalu tersenyum ketika bersama Hania.


Tolong garis bawahi, hanya di depan Hania, bukan orang lain!



"Masuk kamar sumringah begitu, Han? Kesambet apaan lo?" sambut Bunga ketika membukakan pintu untuk Hania.


"Gak kesambet apa-apa. Seneng aja bisa ketemu temen lama."


Bunga mengangguk. "Cepetan siap-siap, kita bakal seneng-seneng di pantai."


"Iya, Mbak. Aku ganti dulu." Hania menuju kamar mandi.


Setelah berapa lama, Hania, Bunga dan Andira sudah turun ke lobi hotel dan mereka menuju pinggiran pantai. Ternyata di sana sudah banyak karyawan yang berkumpul. Bisa dikenali karena semua yang merupakan karyawan SAG Grup menggunakan tanda pengenal diri.


"Kita di suruh kumpul disini berati cuma untuk seneng-seneng. Noh, para petinggi juga cuma duduk-duduk santai. Gak ada kasih perintah," ujar Andira.


"Ya elah, Ra, kita di sini memang disuruh seneng-seneng. Namanya juga liburan."


Andira menyengir. "Yuk, lari-larian," ajaknya.


"Hayuk ...."


.


.


.

__ADS_1


Udah ini pernikahan Gaka dan Hania akan kebongkar. Duh ... bakal melongo gak ya semua karyawan. 😁


__ADS_2