
Setelah penyatuan mereka yang sempurna, Gaka memandang Hania dengan penuh kebahagiaan. Benar, sesuatu yang didapat dengan sepenuh hati akan lebih terasa nikmat dari sekedar yang di dapat oleh nafsu.
Gaka mengecup kening Hania dengan lembut. "Makasih udah percaya, dan ngasih yang terindah buat gue." Dia membenarkan selimut dan menyusul Hania ke alam mimpi.
Suara kokok ayam menjadi penanda waktu menjelang subuh. Seseorang yang sudah terbiasa bangun pagi akan langsung terbangun untuk membersihkan diri dan melakukan kewajiban sebagai seorang muslim.
Hania terbangun dalam dekapan hangat tubuh Gaka. Kehangatan menjalar ke seluruh tubuh karena kondisi mereka sama-sama polos tanpa mengenakan pakaian. Hanya selembaran selimut yang menutup hampir seluruh tubuh mereka.
Hania terdiam sesaat. Dia mengingat kembali penyatuan mereka. Akh' menjadikan dirinya sangat malu. Dia tersenyum sambil menggelengkan kepala. Meski malu, tapi ada juga kebahagiaan yang dirasa. Selain berhasil mengalahkan rasa takut, akhirnya mereka berhasil menyempurnakan ibadah dalam pernikahan.
"Mas ... bangun!" Hania membangunkan Gaka untuk melakukan sholat subuh bersama.
Sholat? Seorang Gaka sholat? Iya, Satrya Higaka mulai belajar sholat, kalau tidak, Hania tidak mau menyempurnakan pernikahan mereka. Segitu patuhnya Gaka dengan Hania? Yah ... mungkin juga karena Allah telah memberikan pintu hidayahnya.
Sebelum membangunkan Gaka kembali, Hania memilih memakai pakaiannya terlebih dahulu.
"Mas, yuk, bersih-bersih dan sholat subuh dulu," bisik Hania di telinga Gaka.
"Hem ...." Gaka berdehem dan belum sadar dari alam mimpi sepenuhnya.
"Mas ...."
"Masih ngantuk. Ntar ajalah."
"Kalau udah waktunya sholat, gak boleh entar-entar. Allah ngasih kebahagiaan buat kamu nya juga entar-entar."
"Lo duluan aja. Gue ntar lima menit lagi," jawab Gaka seperti gumaman.
Hania menghela napas. Memang dari awal harus bersabar dengan Gaka. Bisa menuntun Gaka lebih baik pun sudah sangat bersyukur. Setidaknya Gaka mau berubah sedikit demi sedikit. Seseorang tidak akan langsung berubah baik, melainkan melalui tahapan.
"Oke. Tapi nanti kalau kamu minta sesuatu dariku, aku juga bakal jawab nanti lima menit lagi. Dan bisa molor sampai satu jam."
Gaka tidak menjawab dan justru menarik pinggang Hania untuk di jadikan tumpuan pelukan hangatnya. "Sekali lagi, ntar abis itu kita baru sholat."
"Mas, itu termasuk dosa karena menunda kewajiban. Sebaiknya lakukan kewajiban dulu baru kita melakukan hal yang lain." Hania membelai lembut rambut Gaka.
'Ae' dosa lagi, dosa lagi. Sehari bisa sepuluh kali dia ingetin dosa. Berasa kek manusia berlumpur dosa kalau kek gini mah. Ini dosa, itu dosa, lama-lama gue mati gara-gara ketakutan dia khutbah dosa mulu.'
"Abis sholat kita ulangi yang semalam, ya," pinta Gaka.
"Dikasih jeda, Mas, anu ku aja masih sakit. Kamu udah mau lagi. Punyamu apa gak sakit juga, Mas?"
__ADS_1
"Dah biasa," jawab Gaka spontan.
Buk!
Hania memukul punggung Gaka lumayan keras, sampai pria itu mengaduh sambil mengusap-usap punggungnya.
"Dah biasa kamu bilang?" Hania mulai kesal.
"Ups. Nih mulut pakek keceplosan sih!" Gaka seketika membuka mata. Dia memukul mulutnya yang salah berucap. Tidak sadar malah membuka keburukannya sendiri.
Gaka merubah posisi menjadi telentang. Kepalanya masih berada di pangkuan Hania, sedangkan wajahnya tepat mengadah ke atas. "Sayang ...," panggilnya.
"Hem." Hania menyahut dengan berdehem.
"Baiklah sholat sekarang, tapi kasih vitamin dulu," ujar Gaka.
"Vitamin biasanya, ya. Jangan seperti yang semalam. Nanti waktu sholatnya gak keburu. Karena kita harus mandi besar dulu."
Cup cup .... Hania memberi ciuman di pipi dan di bibir Gaka. Barulah pria itu mau bangun.
"Mas!!!" Hania berteriak ketika Gaka berdiri tanpa sehelai benangpun. Meski semalam mereka sudah melakukan penyatuan, tapi tetap saja ada rasa malu.
"Dia udah hampir tegak lagi, nih, lo kenapa malah nutup mata? Semalam udah liat juga."
"Mandi? Ah' gimana kalau kita mandi bareng?"
"Kamu minta di hiih, ya, Mas! Buruan!" Hania masih tetap menutup mata dengan telapak tangannya.
"Iya-iya." Gaka melangkah ke kamar mandi.
Setelah melaksanakan sholat, Gaka mengajak Hania duduk di balkon menikmati sunrise dari ufuk timur. Langit orange keemasan menjadi daya tarik menawan bagi mata yang memandang.
Gaka memeluk Hania dari belakang. Menghirup wangi Hania yang lembut tapi memabukkan. "Sehari ini kita gak usah kemana-mana. Gue mau gini terus."
"Mas, geli ah." Hania menggeliat kecil, menolak tangan jahil Gaka dari perut malah merambat naik ke sesuatu yang kenyal.
"Geli tapi nikmat 'kan?" ujar Gaka menciumi ceruk leher Hania yang sebenarnya tertutup jilbab.
"Mas, apaan, sih. Katanya mau lihat matahari terbit, kok malah gini. Mataharinya tuh di sana, kamu malah sembunyi di leherku. Geli!" Hania menahan geli di beberapa titik tubuhnya dan itu karena ulah Gaka.
"Lo gak sadar punya gue udah idup lagi."
__ADS_1
"Punyamu mah disentuh dikit dah langsung idup."
"Yok, sekali lagi. Setengah jam aja. Mumpung langit belum terang."
"Memang kenapa? Jangan bilang kamu mau lakuin itu ... di sini?" Hania terbelalak.
"Yap, di sini. Gak perlu dibuka, kita main cantik dan tertutup."
"Astagfirullah, Mas. Pengen ku pukul kepalamu karna bayangin yang kek gitu."
Gaka menyengir. Fantasinya memang keterlaluan liar. Dia juga lupa bahwa wanitanya sekarang adalah ahli surga, bukan wanita remah remah neraka seperti teman kencannya yang dulu.
Dulu dia bebas merealisasikan fantasi liarnya dimanapun tempat yang dikehendaki. Bahkan dia pernah melakukan di club malam, tangga darurat, juga di balkon kamar hotel seperti sekarang.
Tapi sekarang alih-alih mengajak Hania melakukan itu di balkon, di dalam kamar hotel pun dia harus mengeluarkan jurus merayu dan merajuk.
"Udah sering kepala ini gue pukul karna berfantasi liar, tapi ya kepikiran lagi. Otak kalau udah tercemar ya gini, susah diajak berfantasi baik. Kalau ada yang jual otak, berapapun gue beli, biar otak gue fress dan gak ngeres mulu."
"Ha ha ... kamu nih ada-ada aja, Mas. Mana ada otak di ganti. Harusnya bukan otak yang di ganti, tapi kelakuanmu yang perlahan-lahan harus dirubah."
"'Kan lagi usaha." Tangan Gaka berusaha menyelusup ke dalam baju Hania lagi.
"Mas?"
"Pengen pegang balon ulang tahun." ucap Gaka.
"Anu ku masih sakit, loh, Mas," kata Hania.
"Cuma pegang aja. Suer."
"Punya lo tertutup, tapi ternyata balon kembarnya gede'. Bahkan ini yang paling gede karna tangan gue gak cukup mencakup semuanya."
"Mas! Ya ampun, ngeres banget sih omongannya!" sentak Hania menahan malu.
"Serius loh."
Hania menepuk kening. "Abis ini, apalagi yang mau kamu komen?"
"Em, yang bawah ...."
"Berani komen, aku tinggal pergi," ancam Hania.
__ADS_1
"Ha ha ... enggak. Jangan pergi." Gaka lebih mengeratkan pelukannya. "Yang bawah nagihin."
"Akh' aku pergi! Aku pergi!" Hania menutup wajah memakai kedua telapak tangannya. Merasa malu karena Gaka berbicara secara blak-blakan.