
Gaka masuk dan duduk di sofa. "Gue gak sangka lo bisa mempermalukan Hania seperti itu!" Sudut bibirnya terangkat, sedangkan tatapannya sangat sinis.
Gea yang belum sempat duduk kini bersedekap dada. Ekspresinya mengikuti pria itu. "Lo udah tau. Bagus 'kan, dia emang pantas dipermalukan seperti itu. Lain kesempatan gue bakal telanjangi dia di depan umum."
"Rumia Geana! Sebelum lo lakuin itu, gue duluan yang akan bikin lo malu seumur hidup! Jangan coba-coba lakuin lebih dari ini kalau lo gak mau nyesel!" Gaka menatap tajam.
"Wow, ancaman menakutkan. Gaka, lo gak ingat gue siapa dan Hania murahan itu siapa?!" Amarah Gea mulai tersulut. "Gue wanita yang lo cintai, gue wanita yang lo sanjung hebat nahklukin elo. Sedangkan Hania, dia sama sekali bukan selera lo, sama sekali gak tau cara buat lo seneng. Please, Ka. Akhiri sandiwara kalian! Gue tau hubungan kalian dipaksa kedua orang tua, lo, 'kan?!"
"Berhenti bicara panjang lebar tanpa ada kebenaran, Ge. Semua yang lo omongin salah. Dulu, lo emang wanita yang buat gue ketagihan. Tapi sekarang sama sekali udah gak ada rasa sama lo. Dan semua gak ada hubungannya dengan Hania, jangan salahkan dia karena posisinya juga sulit. Gue yang buat dia ada di posisi sekarang. Kalau lo mau salahin, salahin gue aja!"
Gea tersenyum sinis. "Sulit? Posisi sulit seperti apa yang lo maksud?"
"Bukan Hania yang menginginkan posisi seperti ini, tapi gue penyebabnya. Intinya, semua salah gue. Ada alasan yang gak bisa gue jelasin."
"Kalau lo gak jelasin, gue gak akan tau. Dan sampek kapanpun gue gak akan terima hubungan kita berakhir. Lo gak bisa ninggalin gue gini aja. Lo nikmatin gue sesuka hati, udah bosan lo campakin gue gitu aja. Sesampah itu kah badan gue!?" bentak Gea berapi-api.
"Lo jangan sok merasa dicampakin. Pertama kali gue sentuh lo udah gak perawan. Lo jangan munafik! Lo juga nikmati permainan gue, nikmatin harta gue. Gue pikir semua itu impas. Hubungan kita sekedar timbal balik. Gue butuh tubuh lo sedangkan lo butuh harta gue buat gaya sosialita. Gaksah muna! Karna itu kebenarannya? Kata cinta itu hanya pemanis."
"Busuk banget mulu' lo, Ka! Brengsek lo!"
"Makian lo emang bener, dari dulu gue emang brengsek! Gue bejad! Tapi setiap orang punya kesempatan berubah. Dan gue pilih merubah kebiasaan gue. Hania halal bagi gue, dan gue akan perjuangin dia."
Deru napas Gea terdengar berat, seolah ada benda besar yang menghimpit dadanya. Sakit sekali mendengar semua ungkapan Gaka.
"Jangan katakan kalau lo menyukai Hania," lirih Gea menahan kesakitan tak kasat mata.
Gaka mengangguk perlahan.
__ADS_1
Deg ....
Gea mematung dengan air mata berdesakan keluar. Pengakuan Gaka menjadi ujung rasa sakit yang sejak kemarin dia tahan. Tidak! Dia tidak bisa mendengar pria yang dicintai menyukai sahabatnya sendiri. Tidak! Itu menyakitkan, sangat menyakitkan hatinya.
"Kenapa harus dia, Ka. Kenapa harus Hania? Kenapa bukan orang lain, asal jangan Hania. Gue gak rela lo berpaling menyukai sahabat gue. Gue gak rela. Hati gue gak sanggup liat lo sama dia." Gea terduduk lemas di sofa tunggal berseberangan dengan Gaka. Dia menutup wajah dan menangis terisak.
"Gue gak tau, takdir begitu aja nuntun gue buat jalani semua ini. Gue tau perasaan lo. Tapi lo juga harus belajar ikhlas tau tentang perasaan gue."
"Kalau orang lain gue bisa ikhlas, tapi bukan Hania. Gue gak akan ikhlas sampek kapanpun."
"Terserah. Tapi gue mau peringati lo, jangan sampek lo berbuat macam-macam lagi dengan Hania. Kalau sampek lo berani berbuat macam-macam, gue gak akan segan balas lo dengan cara lebih kejam! Lo tau gue, setiap omongan gue selalu nyata!" Gaka beranjak dan akan meninggalkan apartemen Gea. Tapi wanita itu menahan lengannya.
"Ka ...."
"Gue udah bilang, gue gak akan ambil semua yang gue kasih. Tapi jangan tuntut perbuatan gue lagi. Anggap kita sudah impas! Hubungan kita kemarin sekedar timbal balik." Gaka mengulangi perkataanya, agar Gea mengerti bahwa hubungan mereka sudah berakhir.
"Tapi gue rela balikin semuanya, asal lo kembali sama gue."
"Lo gak bisa berubah, Ka! Gak bisa! Kalau lo gak bisa kembali sama gue, lebih baik gue mengakhiri hidup. Gak ada arti lagi gue hidup."
Sreak ....
Secepat kilat Gea berlari ke pantry untuk mengambil pisau buah. Lalu mengacungkan pisau itu ke urat nadinya. "Lebih baik gue mati di depan lo. Ini bukti cinta gue ke elo, Ka."
Gaka mengusap wajah kasar. Sial! Gea membuat posisinya tersudutkan. "Jangan bodoh! Gak perlu lo lakuin itu!" ucapnya.
"Lo gak percaya gue bisa lakuin ini?! Liat aja, kalau lo gak mau kembali sama gue, seumur hidup lo akan dihantui rasa bersalah!" Bukan sekedar ancaman lagi karena Gea mulai menyayat kulitnya hingga darah mulai keluar dan menetes di atas keramik.
__ADS_1
"Ge, jangan gila!" bentak Gaka.
"Gue emang gila! Gue gila gara-gara elo, Ka. Ha ha ...."
Gaka melangkah ingin mendekati Gea, tapi wanita itu membentak. "Berani melangkah, gue gak segan-segan buat sayat tangan gue lebih dalam lagi!"
"Please, jangan aneh-aneh. Buang pisau itu dan jangan bikin rumit!"
"Bikin rumit? Siapa yang bikin rumit? Hubungan lo dan Hania yang bikin rumit."
Gaka menghela napas panjang. Pria itu mencari selah untuk merebut pisau dari Gea. Yang dilakukan bukan karena peduli dengan Gea, hanya saja posisinya sekarang sedang tersudutkan, dia tak mau terseret dalam kasus Gea kalau sampai wanita itu sungguh akan mengakhiri hidupnya.
"Oke oke. Lo tenangin dulu pikiran lo. Apa yang lo lakuin cuma sia-sia. Pikirkan baik-baik, lo masih bisa lanjuti hari lo sama pria lain. Jangan lakuin hal konyol, Ge. Lo bakal nyesel."
"Gue bakal nyesel lagi kalau gak bisa milikin lo lagi."
"Kita bisa bicara lagi, tapi jauhin pisau itu."
"Gue bakal jauhi pisau ini kalau lo janji mau balikan sama gue." Bibir Gea bergetar, bahkan mulai pucat. Meski sayatan itu belum mengenai urat nadi, namun darah terus saja keluar.
"Oke, gue bakal balik sama lo." Terpaksa Gaka mengatakan itu hanya demi membujuk Gea.
Di saat Gea mulai kurang fokus, dia bergerak cepat untuk merebut pisau dari Gea. Tapi Gea pun dengan erat memegang gagang pisau.
Sreak ....
Tes ... tes ....
__ADS_1
Kali ini darah yang keluar bukan lagi menetes, tapi merembes dan mengalir keluar. Suara benda jatuh seolah menghentikan waktu. Hingga terpaku dan bergeming.
Huhf ... deg-degan gak? Akak Mei aja deg-degan. Ayo, ditunggu like dan komen biar hari ini akak mei semangat crazy up ya.