
Abian baru saja akan pergi, tetapi terhenti ketika ada pesan masuk. Ternyata notifikasi pesan dari Tuan Haru. Saat membaca alamat yang dikirim, bola mata Abian melebar. "Bukankah alamat rumah ini yang kemarin dikirim oleh Gaka juga?" ucapnya.
"Tapi Gaka bilang, dia kirim barang sebagai ucapan terima kasih untuk orang yang sudah menolongnya."
"Bagaimana ini? Ke rumah sakit dulu atau ke alamat ini?" Abian terus bermonolog sendiri. Setelah dua menit menimang, akhirnya Abian memilih ke rumah sakit lebih dahulu. Barulah datang ke alamat yang di kirim oleh Tuan Haru.
Tak sampai satu jam, dia sudah sampai di loby rumah sakit. Langsung menuju kamar rawat Bu Mirna karena Gea sudah memberitahu ruangnya.
Tok ... tok ....
"Assalamu'alaikum ...." Abian mengucap salam, tak lupa lekas menyunggingkan senyum terbaiknya saat membuka pintu. Hatinya berdebar dan mulai gugup untuk menemui Hania. Wanita yang disukainya dalam diam.
"Walaikum salam ...." Hania dan Bu Mirna membalas salam Abian. Di sini Hania paling terkejut melihat siapa yang datang. Yang Hania tahu, pemuda itu adalah pelanggan tetap kiriman Allah di saat dia sedang mengharapkan rezeki. Entah bagaimana pria itu tiba-tiba datang ke sini.
"Mas Abian?" Hania benar-benar tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Abian masih menyunggingkan senyum terbaik, mendekat dan memberikan sekotak kue dari brand ternama di daerah mereka.
"Terima kasih, Mas," ucap Hania. "Kok ... sampek sini?" tanyanya.
"Aku kehilangan penjual mendoan terenak langganan ku, jadi ku cari sampek ke sini," jawabnya. Pria itu menyurai rambut ke belakang untuk mengurangi rasa grogi.
Entah, dia pun bingung. Bagaimana bisa senekat ini untuk bertemu dengan Hania. Kalau dipikir, memang aneh tiba-tiba dia menjenguk ke rumah sakit padahal mereka tidak begitu dekat.
"Maksudku, dari mana Mas tahu kalau kami ada di rumah sakit?" Hania mengulang pertanyaan lebih jelas.
"Nduk, ada tamu datang bukannya disuruh duduk dulu malah ditanyain terus." Bu Mirna menyahut dan memperingati putrinya.
"Maaf, Hania terlalu terkejut." Hania beralih lagi pada Abian. "Silahkan duduk, Mas."
"Maaf, apa Ibu masih ingat saya?" Abian duduk di kursi tunggal yang ada di samping brankar Bu Mirna. Bertanya apakah Bu Mirna masih mengingatnya.
"Ingat. Kamu sering beli mendoan di tempat kami, tapi ibu lupa-lupa ingat juga." Bu Mirna tersenyum, Abian juga ikut tersenyum.
"Maafkan saya kalau tiba-tiba datang menjenguk ibu," ucap Abian.
"Nggak apa, Nak. Ibu senang, dan terima kasih kamu repot-repot mencari kami sampai ke sini."
Ceklek ....
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Gea dengan wajah basah seusai mencuci muka.
__ADS_1
"Kak Bian, beneran sampek sini?" Gea terkejut.
"Beneranlah. Lo kira gue main-main." Abian tersenyum miring.
Gea tersenyum menyelidik, wanita itu berasumsi bahwa saudara pacarnya itu memiliki sesuatu dengan Hania. Terbukti dengan keberanian pria tersebut datang ke rumah sakit.
Hania berjalan mendekati Gea. "Kamu yang kasih tahu Mas Abian kalau aku di rumah sakit?" tanyanya lirih. Secara tidak langsung, sudah tertebak ternyata Abian mendapat informasi dari Gea.
"Dia tanya, ya aku kasih tahu." Gea menyengir.
"Kenapa, sih, Ge? Aneh-aneh aja kamu."
"Aneh gimana? Han, sepertinya Kak Bian ada rasa deh sama kamu. Kalau nggak, mana mungkin dia ke sini," ujar Gea.
"Hust ... ngawur! Kenal aja baru berapa hari, Ge, kamu ada-ada aja."
"Tatapan Kak Bian ke kamu beda. Aku yakin dia ada suka sama kamu."
"Aku nggak mau mikir jauh, Ge. Orang yang suka mikir jauh sering sakit hati."
Gea menghela napas. "Hania Hania ... kapan kamu mau terbuka sama cowok," gumamnya.
"Ya ya ya ... wanita didikan surga beda sama didikan ahli dunia gini." Gea terkekeh.
"Apaan, nyambung enggak."
Abian menyengir terpaksa mendengar cerita-cerita singkat dari Bu Mirna. Dia datang karena ingin bertatapan dengan Hania, tapi apa? Wanita itu justru mengobrol dengan Gea. Dia dicueki dan malah menjadi pendengar setia Bu Mirna. "Wah ... kacau!" gumamnya dalam hati.
Melihat raut Abian sudah tidak fokus, Bu Mirna memanggil Hania untuk menemani Abian karena dia harus istirahat.
Sepertinya dia pemuda baik, dan terlihat memiliki perasaan pada Hania. Aku akan merestui hubungan mereka andai pemuda itu berjodoh dengan putriku.
Memang perkenalan mereka bisa dikatakan lumayan singkat, namun Abian terlihat pemuda yang baik.
Hania, Gea, dan Abian memilih mengobrol di luar ruangan agar tak menganggu istirahat Bu Mirna.
"Nggak apa 'kan Han tiba-tiba aku dateng?"
"Nggak apa lah, Mas, aku nggak ada hak larang orang buat jenguk Ibu. Tapi aku malah mau bilang makasih."
"Aduh, berasa obat nyamuk deh gue," celetuk Gea.
__ADS_1
"Apa, Ge, kalau mau ngobrol tinggal ngobrol."
"Gue seneng lo sadar diri, Ge, harusnya segera cari ide buat kabur," sindir Abian.
"Eh, terang-terangan gitu ngusirnya." Gea mencebik. "Huh, telpon Gaka aja deh."
"Ge, kamu tadi bilangnya mau nemenin aku," protes Hania tidak setuju.
"Kamu udah ada yang nemenin, Han. Tuh." Gea menunjuk Abian yang berjarak 1 bangku dari Hania. Gea sengaja menggoda dengan senyumannya.
"Kamu tahu aku nggak pernah ngobrol berdua dengan lawan jenis."
"Karena nggak pernah, sekarang dicoba biar jadi pernah," kata Gea.
Dia benar-benar wanita berbeda. Aku semakin mengaguminya. Tuhan Maha Baik, tolong jodohkan hamba mu ini dengan dia. Abian berdoa dalam hati. Pandangan matanya terlihat sekali sedang menganggumi sosok Hania.
Diam tak ada yang bersuara. Abian dan Hania sama-sama diam, sedangkan Gea sibuk dengan benda pintarnya.
Tak lama Gea bangkit. "Aku pergi dulu, ya, Gaka nunggu aku di luar."
"Ge, kamu pergi beneran?" Hania tak menyangka sahabatnya itu sungguhan meninggalkannya dengan seorang pria.
"Kita nanti wa-an aja." Lalu Gea nyelonong pergi.
"Kamu keberatan ngobrol sama aku?" Tiba-tiba Abian berucap.
"Bukan begitu, Mas. Kamu tadi dengar aku bicara apa dengan Gea."
"Maaf, Han, tapi kita 'kan ngobrolnya ditempat umum."
"Iya, Mas. Maaf karena aku nggak terbiasa."
"Kalau kamu nggak nyaman, aku bisa pergi."
"Enggak gitu, Mas. Kalau gitu, kesannya aku jahat. Aku nyaman tapi nggak terbiasa."
Hania gugup duduk berdua dengan lawan jenis. Sebelumnya juga pernah duduk bareng pria bernama Gaka, di rumah sakit yang sama juga namun keadaanya berbeda. Sewaktu dengan Gaka, dia tidak mengenal Gaka, juga tidak saling bicara.
Tapi dengan Abian sekarang, Hania merasa berbeda juga gugup.
Lama Abian tak beralih pada Hania, membuat wanita itu menunduk karena malu ditatapi lawan jenis sampai demikian.
__ADS_1