
Sore ini Hania tidak menumpang di mobil Gaka atau pun mobil Pak Arya, melainkan pulang bersama Gea.
Kemarin dia sudah janji ingin menemani Gea jalan-jalan.
"Enaknya kemana, ya, Han?"
"Aku mah ikut kamu aja, yang penting pulangnya jangan sampek langit udah gelap."
"Lo masih takut dengan yang waktu itu?" tanya Gea.
"Iya, aku masih takut. Bukan aku gak percaya pergi sama kamu, tapi traumaku masih ada."
'Lo takut sama kejadian wakti itu, tapi lo gak takut sama perbuatan lo,' batin Gea tersenyum sinis.
"Kamu kenapa Ge? Dari tadi sikapmu aneh." Hania menatap Gea dengan pandangan bingung dan aneh. Beberapa kali dia melihat Gea menatapnya sinis, bahkan terkadang tersenyum mengejek. Perasaannya mulai tidak enak, tapi dia mencoba tidak berpikir jauh.
"Gue gak biasa aja, Han. Aneh gimana?" Gea berganti memasang senyum yang dibuat-buat.
"Enggak. Mungkin cuma perasaanku aja."
"Eh, kita jadinya kemana nih? Ke Mall, Taman Kota, ke Cafe atau ke Taman Hiburan?" Gea bertanya ulang tentang tujuan mereka.
"Terserah. Aku ikut aja."
"Oke deh. Kalau gak kita ke Cafe langganan gue sama Gaka aja. Gue kangen suasana di sana," ujar Gea.
Gea langsung melajukan mobilnya menuju Cafe yang disebutkan tadi. Hanya sekitar tiga puluh menit mobil itu sudah terparkir di depan lahan Cafe.
Dia mengajak Hania turun dan masuk ke dalam cafe. Wanita berambut sebahu itu langsung memanggil waiters dan memesan berbagai macam makanan. Bukan itu saja, tak tanggung-tanggung, dia memesan lima gelas jus dengan berbagai rasa. Satu gelas kopi, teh dan coklat milk.
"Ge, banyak banget pesennya? Siapa yang mau habisin makanan sebanyak itu?" Hania terkejut sampai melebarkan bola mata. Mereka hanya berdua, tapi Gea memesan untuk lebih dari lima orang.
Lagi-lagi Gea tersenyum miring. "Tenang aja, Han, semua gue pesen buat kasih surprise seseorang." Wanita itu bersedekap dada dan menyandarkan punggung di sandaran kursi.
"Kamu janjian sama orang lain juga? Memang kejutan untuk siapa?" Hania benar-benar dibuat aneh dengan sikap Gea hari ini.
"Ada, nanti lo bakal tahu dan bakal terkejut setengah mati." Gea mengedipkan sebelah matanya lalu menyeringai.
Sekitar sepuluh menit kemudian, dua waiters datang membawa berbagai menu makanan yang dipesan Gea tadi. Beberapa minuman juga berjajar rapi di atas meja.
__ADS_1
"Selamat menikmati," ucap salah satu waiters dengan ramah.
"Terima kasih," balas Gea. Dia beralih melihat Hania. "Ayo, Han, di makan."
"Loh, gak nunggu orang yang mau kamu kasih surprise dateng?"
"Enggak."
Meski sikap Gea benar-benar aneh, namun Hania berusaha tidak berpikir macam-macam.
"Lo tinggal pilih mau makan apa, Han," kata Gea. Sedangkan wanita itu memilih mengambil piring spageti.
"Aku laper banget, jadi pilih nasi goreng aja, biar kenyang." Hania mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai menyantap perlahan.
"Kita bersahabat sudah berapa lama, ya, Han?" tanya Gea tiba-tiba.
"Udah lama banget, Ge. Dari kita SMP sampai sekarang," jawab Hania.
"Walau udah lama, tapi gue gak peduli dengan persahabatan kita!" sinis Gea berjalan memutari meja dan mendekati Hania.
"Maksud kamu?"
Gea menyahut satu gelas jus dan disiram di atas kepala Hania.
"Ge ...." Hania terpaku atas perlakukan Gea yang tanpa terduga.
"Kenapa?! Lo, kaget? Gue lebih kaget lagi sama perbuatan lo, Han! Gue gak nyangka lo tega nusuk gue dari belakang! Di mana otak lo" bentak Gea dengan suara keras.
"Aku bisa jelasin, Ge. Kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini." Suara Hania bergetar. Bahkan air mata sudah keluar membanjiri pipi.
"Apa yang mau lo jelasin?! Gue udah jelas sejelas-jelasnya dengan kedekatan lo sama Gaka!"
Byuuuur ....
Gea menyiram jus kedua tepat ke wajah Hania. Wanita menggunakan jilbab putih itu menunduk menahan malu. Tega sekali Gea memperlakukannya seperti ini di depan umum.
"Lo pernah bilang, gue ngerendahin diri di depan Gaka. Tapi perbuatan lo lebih rendah. Kita sahabatan udah sangat lama, tapi lo tega sama gue. Lo tega rebut Gaka dari gue!" Gea semakin menjadi-jadi mempermalukan Hania di depan pengunjung cafe. Bukan lagi segelas jus yang dia siramkan, bahkan wanita itu mengambil spageti yang tadi di makan lalu tanpa perasaan menuang sisa spageti di depan dada Hania.
Tubuh Hania bergetar hebat. Dia sangat malu menatap sekeliling, dan melihat pengunjung cafe melontarkan kata-kata pedas.
__ADS_1
"Kamu tau aku seperti apa, Ge."
"Ya gue tau lo dulu sangat baik dan lugu. Lo satu-satunya sahabat gue yang paling tahu perasaan gue gimana. Tapi sekarang gue baru tahu sifat asli lo kek gini, Han. Gue aja gak nyangka lo bisa semunafik ini. Lo lebih rendah dari ******! Menjijikan!"
"Cukup, Ge! Cukup!" Hania menjerit. Isak tangis tak lagi bisa ditahan. Apa yang dilakukan Gea sudah sangat keterlaluan. Dia tahu Gea mungkin sudah mengetahui pernikahannya dengan Gaka, tapi tidak menyangka wanita itu bisa berbuat sangat keterlaluan.
Plak ... plak ....
Gea memberi tamparan dua kali di pipi kanan dan kiri Hania. Sangat keras sampai kedua pipi itu memerah.
"Kamu sangat keterlaluan, Ge," desis Hania dengan memegangi pipi yang terasa panas.
"Diam!!!! Lo gak berhak bicara!" Gea terus saja berbicara dengan nada tinggi.
"Hei, semua! Hati-hati kalau kalian punya sahabat, jangan sampai kalian bernasib sama seperti gue. Gue udah lama sahabatan sama dia, tapi dia tega main belakang sama pacar gue. Menjijikan dan gak tahu malu banget kan? Gue sengaja permalukan dia seperti ini, bahkan apa yang gue lakuin rasanya gak sepadan sama kemunafikan dia."
"Iya, betul, itu."
"Pelakor emang pantes digituin. Dasar gak punya hati!"
Dan masih banyak lagi para pengunjung yang ikut melontarkan kata-kata pedas.
"Gimana surprise gue? Apa lo terkejut?"
"Ya, sangat mengejutkan. Demi seorang pria dan kesalahpahaman, kamu tega mempermalukan aku seperti ini." Hania menatap Gea dengan genangan air mata.
"Kenapa enggak? Lo yang tega sama gue?! Lo tega rebut Gaka dari gue! Kalau gue gak buntutin lo sama Gaka, gue gak akan tau pengkhianatan lo."
"Penampilan lo gak sebaik tingkah laku lo. Percuma lo menutup aurat tapi kelakuan lo seperti ******!" Gea mencengkram jilbab Hania, ingin melepas paksa jilbab lebar itu, tapi Hania sekuat tenaga mempertahankan.
"Lepas! Percuma lo pakek ini!"
"Jangan Ge! Kamu bisa menamparku, tapi jangan lepas jilbab ku! Aku gak akan maafin kamu, Ge!"
"Gak kebalik? Gue yang gak akan pernah maafin lo!"
Keduanya saling tarik menarik. Gea berusaha kuat melepas jilbab Hania untuk mempermalukan wanita itu, sedangkan Hania berusaha mempertahankan jibabnya agar auratnya tidak dilihat banyak orang.
Hay, maaf akak mei belum sempat up ya. Yang 2 bab sudah saya ganti judul sudah saya revisi, yang judulnya masih sma belum di revisi. 🙏🏻 insya allah besok mulai up lagi ya🙏🏻
__ADS_1