
Hari ini Hania meminta Bunga untuk menggantikan pekerjaannya. Hania memilih mengantar kopi ke ruang Tuan Pras daripada untuk Gaka. Dia ingin menghindari Gaka untuk obrolan singkatnya tadi bersama Al.
"Gue deg-degan mau masuk ke ruang Tuan Gaka," ucap Bunga.
"Dibuat santai. Tinggal taruh di atas meja, udah." Hania menanggapi.
"Maunya gitu tapi entah ini jantung gue berdebar-debar gini. Gue nervous abis. Menurut lo, gimana penampilan gue? Udah oke belum?"
Hania memutar bola mata ke atas. "Udah oke." Dia menjawab sekenanya. Hampir semua wanita di kantor mengidolakan pria menyebalkan itu. Entah apa yang mereka puja dari Gaka. Padahal perilakunya kasar dan semaunya sendiri.
"Doain gue berhasil ya, Han." Bunga bersemangat.
"Iya," jawab Hania tersenyum lucu.
Tok ... tok ...!
Ketukan di pintu membuat Gaka terkejut. Dia melihat jam dipergelangan tangannya. Pukul 9.30, waktunya Hania membawakan kopi untuknya.
Maesaroh?
Gaka segera bangkit menuju cermin yang tergantung di dinding. Merapikan rambut yang sebenarnya tidak berantakan, melihat penampilan diri sudah oke atau ada yang perlu dibenahi. Dia memegang pipi kanan dan kiri, merubah mimik wajah menjadi cemberut, kesal, marah dan dingin. Dia ingin menujukkan ketidaksukaannya karena tadi pagi Hania berbincang dengan satpam dikantornya.
Tok ... tok ....
Kembali pintu diketuk.
"Masuk!" perintah Gaka. Dia kembali duduk di kursi kerjanya dan bergaya sok cool. Sama sekali tidak beralih dari lembar-lembar kertas yang didepannya.
"Tuan, ini kopi Anda."
Gaka mengernyit, itu bukan suara Maesaroh. Perlahan dia mulai mendongak. Hampir saja dia ingin membuang semua yang ada di meja. Dia sudah menyiapkan diri tapi bukan Hania yang masuk. 'Setan Keparat !!!!!!!'
Bunga bergidik ngeri melihat bola mata Gaka melotot sempurna ke arahnya. Nyalinya menciut. Dia menunduk, dan merenung. Apakah dia telah berbuat kesalahan. Kenapa Gaka terlihat marah.
Perlahan dan gemetar dia menaruh gelas di atas meja Gaka.
"Kenapa kamu yang mengantar kopiku? Di mana cleaning servis yang biasanya?!" Gaka bertanya dengan dingin.
"Han-Hania ada tugas lain, Tuan," jawab Bunga takut-takut.
"Panggil dia kemari!"
"Baik, saya akan memanggil Hania." Bunga segera berbalik dan keluar.
__ADS_1
"Han, sini!" Baru keluar dari pintu, Bunga melihat Hania juga keluar dari ruangan Tuan Pras.
"Kenapa?" Hania bertanya.
"Gila, Tuan Gaka galak banget. Gue sampek keder gini." Bunga menunjukan tangannya yang bergetar dihadapan Hania. "Tuan Gaka marah gara-gara gue yang anter kopi. Noh, lo dipanggil Tuan Gaka."
Hania menghela napas panjang. Sudah berusaha menghindar, tetap saja dipanggil. "Ya udah, aku masuk dulu."
Tok ... tok ....
Setelah mengetuk pintu, Hania langsung masuk ke dalam. Dia berjalan mendekat ke meja pria dingin itu.
"Kenapa bukan lo yang anter kopi? Mau hindari gue!?" Gaka menyentak.
"Enggak. Aku sama Bunga memang punya jadwal tukar pekerjaan. Dan hari ini jatah Bunga buatin kopi buat kamu."
"Terus pekerjaan lo?"
"Tugasku anter kopi buat Tuan Pras."
Napas Gaka kembang kempis. Rasa marah yang sejak tadi dipendam seolah hampir meledak. Bagaimana bisa hatinya porak poranda sejak tadi pagi.
"Hania Putri Azahra! Lo gak boleh buatin kopi untuk orang lain. Terkhusus manusia itu bergenre laki-laki!"
"Gue bilang gak boleh ya gak boleh. Titik!"
"Baiklah, nanti aku diskusi lagi sama Bunga."
"Kopi ini bawa pergi, dan ganti yang baru. Harus lo yang buat."
"Kopi itu aku yang buat."
"Lo yang buat tapi bukan lo yang bawa. Udah, jangan bantah perintah gue. Dari pagi mood gue berantakan, lo jangan bikin gue tambah bad mood."
Hania mengambil cangkir kopi dengan melirik sinis. Gaka memang manusia paling aneh yang pernah dia kenal.
Setelah Hania pergi, Gaka menjatuhkan diri di kursi kerjanya. "Kok jadi uring-uringan gini, sih. Tadi otak gue, sekarang hati gue yang aneh. Huft ... lama-lama gue juga bingung sama diri gue sendiri." Dia menjambak rambut dengan kesal.
Dia tahu apa penyebab dirinya merasa kesal, tapi hatinya enggan mengakui.
Tidak lama Hania kembali masuk ke ruangan Gaka. Dia nyelonong masuk tanpa mengetuk pintu. Matanya terbelalak melihat Gaka menjambak rambut sendiri seperti orang frustasi.
"Kamu kenapa, Mas?" tanyanya khawatir. Kali ini melihat keadaan Gaka dengan serius.
__ADS_1
"Hah?" Gaka mendongak dan gelagapan. 'Kek **** bener, sih! Kenapa dia mergoki gue berantakan gini. ***!' umpatnya.
"Kamu pusing? Mau aku carikan obat?" tawar Hania.
"Enggak usah. Biar nanti aja gue check kesehatan di rumah sakit." Gaka menolak.
"Kalau pusing harusnya sekarang aja ke rumah sakitnya."
"Abis ini gue ada rapat. Ntar sore aja."
"Maaf, ya." Tiba-tiba Hania mendekat. Dia mengangkat tangan untuk membenarkan rambut Gaka yang sedikit berantakan. "Rambutmu sedikit berantakan," ucapnya.
Gaka terdiam dan menikmati harum parfum yang menusuk hidungnya. Saat Hania mundur, dia justru mencekal lengan wanita itu.
Keduanya bersitatap. Gaka terpusat pada wajah Hania, sedangkan Hania sendiri terhipnotis pada manik Gaka.
Ceklek ....
"Ups ...." Lili terbengong di depan pintu.
Hania segera melepas cekalan tangan Gaka. "Maafkan ketidaksopanan saya, Tuan. Saya hanya mengambil sobekan kertas di atas rambut Anda." Dia melirik ke arah Lili.
"It's oke," balas Gaka.
Lili lebih terbengong lagi mendengar jawaban Gaka. Harusnya pria itu memarahi Hania yang sudah lancang menyentuh rambutnya, tapi tapi Gaka hanya bersikap santai. Bahkan Lili sempat melihat sudut Gaka tersenyum simpul. Sebenarnya ada apa antara mereka berdua? batinnya.
Melihat Lili terdiam dengan pandangan bingung, Hania memberi kode agar Gaka pura-pura marah. Tapi Gaka justru tersenyum sendiri.
Sreak ....
"Akh' ...!" Gaka berteriak karena Hania menginjak kakinya. "Sakit, bodoh!"
"Iya, Tuan. Maafkan kebodohan saya," ujar Hania berpura-pura takut.
"Apa sih?! Udah kalian semua keluar! Keluar!" Gaka mengusir Hania dan Lili.
Setelah keduanya pergi. Gaka berdiri dan membuat gerakan tangan di udara, 'Yes'. Dia terkesan dengan Hania yang mau merapikan rambutnya. Hanya dengan perlakuan biasa itu membuat hatinya girang. Ouch, astaga! Sepertinya memang harus memeriksakan jiwanya ke rumah sakit. Ada yang tidak beres.
"Eh, lo tuh jangan kecentilan sama Tuan Gaka. Gue yang jadi sekretaris dan udah lama suka sama Tuan Gaka aja belum dapet lampu hijau. Lo yang cuma OB mau banyak tingkah. Sini, langkahin dulu gue!" ucap Lili menantang.
"Mbak bicara apa. Saya sama sekali gak suka sama Tuan Gaka."
Tuhan memang aneh mentakdirkan hidupnya bersama Gaka, padahal ada begitu banyak wanita yang memuji pria itu. Kenapa harus dia yang terjerat pernikahan tanpa rasa.
__ADS_1