
Sore hari Gaka pulang dari kantor, tidak terpikir apapun karena dia sudah menyuruh seorang supir untuk menjemput Hania di rumah sakit. Berpikir wanita itu pasti sudah ada di rumah, dia tidak perlu menjemput ke sana.
Ketika masuk ke dalam rumah tidak menemukan kedua orang tuanya. Hania juga tidak ada. Kemana semua orang?
"Tuan Gaka sudah pulang?" Asisten rumah tangga menyambut ke datangannya.
"Gak ada orang? Kemana mereka?" tanya pria itu.
"Tuan Besar dan Nyonya pergi dari jam dua tadi, Tuan. Sepertinya ke butik."
Vara memiliki beberapa usaha butik, memang tidak setiap hari datang, tapi beberapa hari sekali harus meninjau perkembangannya. Bukan karena pendapatan yang menggiurkan, tapi lebih ampuh untuk mengusir kebosanan. Begitu kata Vara.
"Maesaroh di mana?" tanya Gaka lagi.
"Maesaroh? Siapa itu Maesaroh, Tuan? Apa seorang pelayan baru?" Kepala pelayan tadi terlihat kebingungan.
Pelayan? Gaka hampir tergelak. Nama julukan yang dibuat memang mirip-mirip nama pelayan. Wajar kalau kepala pelayan menebak seperti itu.
"Ah, bukan-bukan! Intinya, ada orang baru yang datang, gak?"
"Tidak ada, Tuan."
Tidak ada? Terus Maesaroh kemana? Tidak berkata apa-apa lagi, Gaka memutar badan dan kembali keluar. Dia hampir ke rumah sakit, tapi mengingat perkataan dokter bahwa Hania sudah boleh pulang siang ini, harusnya wanita itu sudah checkout.
Kos-kosan? Ah iya, Hania pasti pulang ke sana. Mau kemana lagi kalau bukan bangunan itu tujuannya. Dia langsung tancap gas menuju kos-kosan Hania.
"Sialan! Gue harus bolak balik gini. Tau dia di kosan, gue langsung ke sana aja gak perlu pulang." Gaka menggerutu dengan hati menahan dongkol. Kosan Hania sangat dekat dengan gedung SAG Grup, dia harus kembali menempuh perjalanan yang baru saja dilalui.
Gaka menepikan mobilnya di belakang mobil SUV hitam. Dia sangat hapal dengan mobil itu. Dia mengetuk kaca mobil dan tak lama kaca itu langsung terbuka.
"Tuan Gaka?" Pengemudi mobil itu terkejut.
"Ngapain malah molor di sini?" sentak Gaka dengan wajah garang. Tidak peduli bila supir itu lebih tua darinya.
"Saya menunggu wanita itu, Tuan." Supir itu mengerut ketakutan.
"Bodoh! Kenapa gak langsung dibawa pulang ke rumah, gue tadi suruh bawa dia ke rumah. Lo budek?"
Gaka memiliki tempramen buruk maka cepat sekali marah ketika ada yang membuat kesalahan dengannya. Dan itu tidak pandang siapapun.
__ADS_1
"Dia tidak mau, Tuan. Wanita itu mengancam akan turun di jalan kalau tidak diantar ke kosan. Jadi terpaksa saya antar ke sini. Tapi, dari tadi tidak keluar-keluar."
Gaka mendengus dan berjalan ke kosan Hania.
Brak ... brak ....
Ceklek.
"Hampir aja saya siram pakai air seember," semprot Hania ketika membuka pintu. Siapa lagi yang menggedor pintu kosannya secara tidak sabaran jika bukan manusia egois itu.
"Ngapain malah pulang ke sini?!" Gaka tidak peduli omongan Hania.
"Saya maunya di sini."
"Gak bisalah. Lo harus ikut gue pulang ke rumah."
"Tapi ...." Hania ingin menolak. Tapi Gaka kembali bicara.
"Lo lupa kita udah nikah. Gimana tanggapan mama sama papa kalau kita tinggal terpisah."
"Kita bisa tinggal di sini beberapa hari lagi, saya butuh penyesuaian." Nada bicara Hania tidak meninggi seperti tadi. "Lagian, sayang sama uang sewa kosan. Masih bisa tinggal satu minggu lagi di sini."
Gaka terbelalak. Kenapa wanita yang menjadi istrinya itu malah kepikiran tentang uang sewa kosan.
"Lima ratus ribu. Bukan masalah uangnya, tapi sayang aja masih ada waktu satu minggu lagi."
"Udah, jangan buang waktu. Gue capek banget mau cepet istirahat. Kemas barang-barang lo, gue tunggu sepuluh menit!" perintah Gaka tanpa mau dibantah.
Hania sedikit cemberut, tapi lekas berkemas. "Kamu duduk aja di situ." Dia menunjuk satu kursi kayu yang ada di sudut ruangan.
Hanya sebentar Hania mengemasi pakaian dan barang-barangnya setelah itu kembali berdiri di depan Gaka. "Udah selesai," ucapnya.
Gaka keluar ruangan, berjalan lebih dulu. Tapi merasa aneh saat tidak mendengar langkah kaki Hania. Dia menoleh. Astaga ... hilang kemana lagi si Maesaroh.
Saat kembali, ternyata Hania sedang berbincang dengan wanita paruh baya. Terlihat Hania memberikan sejumlah uang kepada ibu itu.
"Kamu nungguin?" Hania sudah kembali berhadapan dengan Gaka.
"Maaf, tadi harus pamitan dulu sama ibu kos dan bayar kekurangannya," sambung Hania.
__ADS_1
Gaka tidak menyahuti dan kembali berjalan. Sampai di mobilnya dia langsung masuk tanpa membukakan pintu untuk Hania.
Dalam perjalanan, keduanya diam membisu. Gaka fokus dengan jalanan, sedangkan Hania hanya melamun.
Mobil itu sudah sampai di depan gerbang. Tidak perlu memanggil satpam, ternyata pintu gerbang sudah terbuka secara otomatis.
Ketika Hania melihat ke depan, dia terkejut sekaligus kagum dengan istana megah di depannya.
Mobil sudah masuk ke garasi, lalu Gaka menyuruh Hania untuk mengikutinya.
"Masya Allah," ucap Hania menganggumi bangunan rumah yang sedang dipijak.
"Tuan Gaka ...." Kepala pelayan yang tadi kembali menyambut. Tapi Gaka acuh dan melanjutkan langkahnya menuju tangga.
Kepala pelayan melihati Hania, dia masih belum tahu siapa wanita itu karena Gaka juga tidak memperkenalkannya.
Gaka melihat Hania sedang mengagumi desain rumahnya. 'ck, kampungan!"'
"Cepetan ikutin gue!" perintah Gaka.
"Iya-iya," jawab Hania sedikit kesal.
Gaka menaiki anak tangga dan diikuti Hania, saat Gaka membuka pintu kamar, Hania terlihat ragu untuk mengikuti lagi.
"Apa saya tidur satu kamar denganmu?"
Hah? Pertanyaan macam apa itu? Gaka berbalik. "Ya harus satu kamar lah, lo gimana sih?!"
"Tapi saya gak mau. Sa-saya ....gak terbiasa."
"Ck, mulai sekarang lo harus biasa." Gaka menarik tas yang dibawa Hania, otomatis Hania ikut tertarik dan masuk ke kamar Gaka.
Blam ....
Pintu kamar ditutup dan Gaka melepas tas itu. "Dah, sekarang terserah lo mau apa. Gue capek banget mau tidur dulu." Gaka membuka jas, dasi dan membuka satu per satu kancing baju.
Hania membeku. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Akhirnya memilih berjalan ke sofa panjang dan duduk di sana. Badannya masih belum terasa enakan, dia juga ingin mengistirahatkan tubuhnya.
Sebelum dia memejamkan mata, sempat melirik sebentar ke arah Gaka. Pria itu tidur tengkurap.
__ADS_1
Dia benar-benar belum percaya dengan apa yang terjadi. Bersuami seorang pria pemarah, ketus, dan bersikap semaunya sendiri. Dia memang terkejut dengan kekayaan keluarga Gaka, akan tetapi bila dia boleh memilih lebih baik mendapat suami sederhana asal berakhlak baik dan lembut daripada pria seperti Gaka.
Sebelum Gaka tertidur pun pria itu sempat mengintip Hania, apa yang dilakukan wanita itu. Tetapi melihat Hania rebahan di sofa, dia berusaha mengabaikannya.