Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Perasaan Tumbuh Seiring Kebersamaan


__ADS_3

Setelah melepas jas dan sepatu, pria itu ikut menelusup dibalik selimut. Memejamkan mata menghirup wangi yang akhir-akhir ini memabukkan baginya. Dengan hati-hati dia menyusupkan tangan ke badan Hania, terasa hangat dan sangat nyaman sampai dia ikut terlelap.


Dalam tidur Hania, wanita itu merasa ada kehangatan yang membuatnya nyaman, namun rasa kantuk membuatnya enggan membuka mata dan justru tertidur lagi.


Pukul setengah lima sore badan Hania menggeliat, wanita itu merasakan sesuatu besar menimpa tubuhnya dan membuatnya terasa sesak.


Dia bergerak, tapi tetap sama saja. Akhirnya dengan perlahan dia membuka mata. Dan ... ternyata sesuatu yang berat itu adalah Gaka. Pria itu tidur di samping dengan posisi memeluk tubuhnya seperti guling. Pantas saja dia merasa sesak.


"Mas, bangun!" Hania membangunkan. Tangannya menyingkirkan tangan Gaka yang ada di atas tubuhnya. "Bangun! Enak sekali kamu tidur!"


"Hem ... memang nyaman," balas Gaka seperti gumaman.


Hania menoleh, mendapati wajah Gaka sangat dekat dengan wajahnya.


Deg ... deg ....


Dia terdiam, hampir terpesona dengan wajah Gaka.


"Jangan pantengin gue kek gitu, awas ntar suka sama paripurna gue."


"Mulutmu, Mas! Pengen aku pukul!" Hania menyentak tangan Gaka sampai terlepas. Pria itu justru tertawa.


"Siapa yang ijinin kamu tidur di sini!" Hania bangun dan menjauh. Sedangkan Gaka menyangga kepala di atas bantal.


Meneliti wajah Hania, benar saja pipi itu masih terlihat memerah. Andai dia tidak melihat video Gea mempermalukan Hania, mungkin sampai sekarang dia tidak tahu apapun.


"Bilang aja lo nyaman tidur di pelukan gue." Gaka mengambil bantal guling untuk dipeluk. "Apa gak ada yang ingin diceritain sama gue?"


"Gak ada," jawab Hania singkat, dia langsung menoleh. "Tapi ada yang ingin aku tanyakan."


"Apa?"


"Bagaimana kamu dengan Gea, Mas?"


Mendengar itu, Gaka menghela napas kasar. "Gue udah gak ada hubungan apapun!" jawabnya lugas.


"Kalau perasaanmu padaku?"


"Maksud lo?"


"Aku ingin tau perasaanmu padaku."


"Kemarin gue udah jabarin panjang lebar. Perasaan gue tetep seperti itu."


"Kalau aku minta perpisahan ...."

__ADS_1


"Itu gak akan pernah terjadi!"


"Mas ...."


Gaka tersenyum masam. "Jangan karna perlakuan Gea kemarin, lo minta pisah. Gue bakal perjuangin hubungan kita. Lo gak usah gentar sama Gea, gue bakal bikin perhitungan sama dia."


"Kamu udah tau kejadian kemarin ...." Lagi-lagi ucapan Hania belum selesai selalu dipotong oleh Gaka.


"Hal sekecil apapun tentang lo, gue pasti tau." Gaka kembali mendengus. " ******! Gue gak kira Gea bisa lakuin itu. Katanya lo sahabatan udah lama, harusnya Gea gak berbuat sejauh itu."


"Wajar dia marah, Mas. Posisiku dan pernikahan kita memang salah."


"Gak ada yang salah. Semua yang terjadi emang takdir kita. Please jangan paksa gue berhenti disini. Gue bakal buktiin kalau gue serius perjuangin lo." Gaka merubah posisi mengikuti Hania menyandar pada headboard.


"Lo tinggal bilang, gue harus bales Gea seperti apa. Lo ditampar dua kali, gue bisa tampar Gea empat kali ...."


"Astagfirullah, jangan, Mas!" Hania reflek memukul lengan Gaka. "Kamu aneh-aneh. Jangan lakuin itu, dan jangan bales apapun ke Gea. Perlakuan dia kemarin aku anggap wajar karna dia sangat marah mengetahui kita tinggal serumah. Aku paham perasaan dia. Gea sangat mencintaimu, Mas."


"Iya gue tau itu."


Hania melotot. "Aku bicara serius, Mas."


"Ya gue juga serius. Gue paling tau perasaan Gea. Dia punya cinta yang besar buat gue."


Tanpa sadar Hania membuang muka dan terlihat cemberut. Ekspresi itu tidak luput dari penglihatan Gaka, lalu dia tersenyum lucu. "Ada yang panas, nih?" selorohnya.


"Yakin badan aja yang panas? Hati itu di jaga biar gak kepanasan." Gaka gencar menggoda Hania.


"Sok tau!" kesal Hania.


"Taulah. Muka polos lo mudah ketebak!"


"Dah lah, pergi! Aku mau sholat ashar."


"Ya udah sono, gue masih mau di sini." Gaka tidak ingin beranjak.


"Ohya, Mas, aku mau kasih tau," ujar Hania.


"Apa?"


"Kalau kamu mau deketin aku, deketin dulu pemilik kehidupanmu. Aku cinta Allah, kamu juga harus cinta Allah."


Gaka terdiam dengan tatapan lurus ke depan. Sedangkan Hania membiarkan Gaka terdiam, dan dia lekas turun dari ranjang langsung menuju kamar mandi.


__ADS_1


*Tuhan, Engkau pengatur skenario terbaik. Engkau pemilik takdir semua yang ada di bumi. Sekaligus penentu takdir hidupku. Jodoh, takdir pelik ini semua atas skenario-Mu. Ku mohon, beri petunjuk untuk memilih jalan terbaik.


Aku hamba penuh salah dan dosa. Aku tahu rasaku ini salah, tapi kenapa Engkau sendiri yang memberiku takdir seperti ini. Engkau yang mengendalikan hati, aku tak mampu mengelak dari pesona ciptaan mu. Perasaan ini tumbuh seiring kebersamaan kami.


Aku memohon, jika rasa ini adalah takdir maka kuatkan cintaku. Tapi bila pada akhirnya kami harus berpisah, ku mohon bantu aku untuk mengikhlaskan*.


Sederet runtutan doa Hania pada Tuhannya.


Sedangkan di dalam kamar Gaka. Pria itu tengah berdiri di balkon kamar. Terdiam dan merenungi ucapan Hania tadi.


'Kalau kamu mau deketin aku, deketin dulu pemilik kehidupanmu. Aku cinta Allah, kamu juga harus cinta Allah.'


Dia mengembus napas panjang. Baru kali ini dia menyukai seseorang namun sangat sulit di takhlukan.


Mungkin Hania adalah wanita pilihan, dia pun harus rela bersabar untuk bersanding dengan wanita terbaik.


Keesokan harinya.


Terjadi perdebatan cukup panjang antara Gaka dan Hania. Si wanita kekeh ingin berangkat ke kantor sedangkan si pria juga kekeh tidak mengizinkan.


Dan perdebatan itu dimenangkan oleh Gaka. Bagaimana tidak, pria arogan tertinggi di muka bumi itu memunculkan berbagai ancaman. Dari ancaman masuk akal sampai yang tidak masuk akal. Dari ancaman mengerikan sampai ancaman paling konyol dari seorang Gaka.


Hania menggeleng frustasi. Semakin lama bersama Gaka, dia tahu bagaimana watak dan sikap asli pria arogan itu. Tak terbantahkan sekaligus menjengkelkan!


Hania menggeleng frustasi, sedangkan Gaka tertawa lebar. Semakin Hania cemberut kesal, dia semakin gencar menggoda. Semakin Hania melotot, tawanya semakin pecah.


"Cepetan pergi, Mas. Kalau enggak, aku siram kamu pakek air!" ancam Hania.


"Ha ha ... oke oke, gue pergi sekarang. Baik-baik di rumah, ya, sayang." Gaka mengerling.


"Maaaassss!"


"Ha ha ...." Pria itu langsung kabur keluar rumah.



Tok ... tok ....!


"Tunggu sebentar!"


Kriet ....


"Gaka?" Gea sangat terkejut melihat Gaka berdiri di depan pintu apartemennya.


"Elo dateng?" Dia sudah berbinar bahagia melihat pria yang masih sangat dicintai datang ke apartemennya.

__ADS_1


Gaka tidak menggubris sambutan Gea. Pria itu menatap datar wajah Gea.


"Ayo masuk! Gue seneng banget lo dateng. Lo kangen servis gue, ya?" ucap Gea tanpa malu.


__ADS_2