Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Mencari


__ADS_3

Sepulang dari kantor, Gea dan Hania memesan taksi menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota Jakarta.


Gea mengajak Hania berkeliling Mall untuk mencari tas, sepatu, pakaian juga aksesoris. Semua yang dibeli Gea bukan barang murahan. Bahkan Gea sudah mengeluarkan sepuluh juta rupiah untuk membayar pakaian dan lain-lainnya.


"Ge, kamu belanja sebanyak itu gak sayang sama uangmu. Kalau bisa mending sisihin buat tabungan, jangan semata menuruti gengsi," ujar Hania.


"Kamu tenang, Han, selagi aku punya ATM berjalan, aku bisa beli apapun yang aku mau. Tinggal minta, sepuluh menit kemudian ATM-ku kembali menggembung."


"Maksud kamu?" Hania benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Gea.


"Oke, aku langsung praktekin aja, ya." Gea mengambil ponsel dan menghubungi nomor seseorang.


"Sayang, gue 'kan lagi belanja. Nah, ada barang baru yang pengeeeen banget gue beli."


'Ya dah, beli aja,' jawab Gaka. Hania bisa mendengar suara Gaka karena Gea memasang loudspeaker.


"Beliin dong sayang. Kalau gak, malam minggu nanti si junior bakal kedinginan!" ancam Gea.


'Berapa?'


"Sepuluh juta."


'Oke.'


Hania menghela napas. Ya Tuhan, kuatkan hatinya. Entah mengapa tiba-tiba merasa kesal mendengar percakapan Gea dan Gaka.


"Kamu udah ngerti maksud aku ATM berjalan 'kan, Han? Lihat, kurang dari sepuluh menit udah ada transferan masuk."


"Ya Allah, Ge. Itu sama aja kamu ngerendahin harga dirimu sendiri. Caramu salah. Sangat salah! Kamu menjual kehormatan demi uang. Seandainya Allah tidak mentakdirkan kamu dengan Gaka, bagaimana kamu akan melanjutkan hidupmu bersama pria lain?"


"Apa maksud kamu bicara begitu, Han? Kata-katamu yang justru merendahkanku. Kamu menghinaku. Bener kata Gaka, kamu tuh sok suci!" Gea berteriak marah dan tanpa bicara apapun lagi, dia meninggalkan Hania begitu saja.


"Ge, tunggu, Ge! Bukan begitu maksudku. Jangan salah paham, aku gak mau kamu salah jalan!" Hania berteriak dan memanggil-manggil Gea, namun wanita itu terus berlari di kerumuman orang hingga dia kesulitan mengejar dan sekarang mulai kehilangan jejak Gea.

__ADS_1


"Ge!" Hania benar-benar kehilangan jejak Gea. Mungkin Gea sudah keluar dari Mall, sedangkan dia justru berjalan tanpa tahu arah keluar.


"Ya Allah, kemana aku harus mengejar Gea?" Hania mencari-cari ponsel dan akan menghubungi Gea, namun sial ponselnya habis batrei. "Kenapa di keadaan genting gini ponsel ikut mati, sih?!" kesal Hania. Dia beralih menanyai sejumlah orang untuk bertanya pintu keluar Mall.


Di luar langit sudah berubah gelap. Hania tidak tahu sedang ada di titik mana. Alamat rumah Gaka juga tidak tahu, bagaimana dia akan pulang.


Dia mulai takut dan bingung. Menghubungi Gea juga tidak bisa karena ponselnya mati. Hatinya menerutuk, kenapa Gea tega meninggalkannya sendiri di tempat asing. Padahal Gea tahu kalau dia tidak hapal kota Jakarta, kenapa Gea tidak terpikir kalau dia bisa kesasar. Semarah apapun, harusnya Gea masih punya hati tidak meninggalkannya sendiri.


Pukul 10 malam Hania masih berkeliling tanpa tujuan. Dia tidak tahu lagi harus kemana. Dingin angin malam mulai menyergap. Dia mengusap lengan tangan dengan air mata mulai merebak keluar.


"Ya Allah, beri aku pertolongan untuk pulang ke rumah suamiku."


Di rumah.


"Gaka! Ini udah jam sepuluh, tapi Hania belum pulang. Dia pergi kemana? Dengan siapa dia pergi? Cari dia, Gaka! Ini udah malam banget. Mama takut terjadi sesuatu sama dia," kata Vara cemas.


"Ge, lo di mana?"


"Di rumah? Bukannya lo tadi pergi sama Hania?" sentak Gaka mulai cemas.


'Lo kenapa sih? Tumbenan peduli sama Hania?' Gea merasa aneh.


"Enggak, gue gak pa-pa. Ya gue aneh aja, bukannya tadi lo pergi bareng dia?"


'Dia ngeselin, gue tadi ke pisah di Mall.'


"Di Mall? Terus dia kemana?"


'Lo kenapa sih, aneh gini. Ya gak tau dia kemana. Mungkin udah pulang ke kos-kosannya. Bi ...." Gea belum selesai bicara tapi sambungan telepon diakhiri begitu saja.


"Sial!" Gaka berlari menaiki tangga untuk mengambil kunci mobil dan jaket. Teriakan Vara tidak dihiraukan lagi. Beberapa saat Gaka sudah menuruni tangga, namun Vara segera menghadang.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Hania ditinggalin di Mall. Mungkin dia gak tau jalan pulang, makanya kesasar. Gaka mau cari ke sekitar Mall."


"Coba telepon dulu," perintah Vara.


"Telpon?" Gaka mengeluarkan ponsel dan mengetik nomor Hania. "Sialan!" umpat. "Gaka gak punya nomernya."


Vara terbelalak. "Kamu ini gimana, istri sendiri gak punya nomernya. Giliran wanita lain kamu simpen," omel Vara pada angin, karna Gaka sudah berlari ke pintu keluar.


"Pa ... Papa!" Vara memanggil Tuan Haru yang sedari tadi berada di ruang kerjanya.


"Pa, perintahin orang buat bantu Gaka cari Hania." Vara menjelaskan detail, akhirnya Tuan Haru mengerahkan orang-orangnya untuk menyusul Gaka.


Di jalan, Gaka terus menambah kecepatan mobilnya. Dia harus segera sampai di Mall sebelum pusat perbelanjaan itu selesai beroperasi.


"Bagaimana bisa Gea ninggalin Maesaroh sendirian? Padahal dia tau temennya itu belum hapal daerah sini!" Entah mengapa dia terlalu mencemaskan Hania, fellingnya pun tidak baik-baik saja.


Sampai di Mall, ternyata sudah mulai sepi. Hanya beberapa pegawai yang sedang membersihkan gedung raksasa itu. Dia menemui satpam dan menanyakan Hania. Tentu saja satpam itu tidak tahu.


"Yang datang ke Mall ada ratusan orang, Tuan, dan saya tidak tahu wanita mana yang Anda maksud. Banyak wanita memakai jilbab lebar, tidak mungkin saya menghapal satu per satu," ujar satpam.


"*******! Kalau gak tau gak usah banyak bacot. Buang-buang waktu aja!" sentak Gaka marah. Dia kembali ke mobil dan akan mencari di sekeliling jalan raya.


Gaka mencengkram kemudi setir. Marah, kesal, bingung, cemas karena takut terjadi sesuatu dengan Hania. Ingin marah kepada Gea tapi tidak bisa, hal itu justru membongkar rahasia besarnya dengan Hania.


"Lo kemana sih?!" Mata Gaka awas melihat pinggir jalanan, tapi sepanjang jalan sudah mulai sepi. Pikiran Gaka mulai buntu, waktu sudah menujukkan pukul setengah dua belas malam, tapi dia belum berhasil menemukan Hania. Ada di mana wanita itu?


Denah lokasi yang ditinggali sangat privasi, hanya orang-orang tertentu yang tahu alamat rumahnya. Jika Hania bertanya kepada driver ojek, belum tentu mereka tahu dimana alamatnya.


Di Apartemen Gea.


Wanita itu terdiam dengan pikiran tertuju pada Hania. Bagaimana nasib Hania setelah tadi dia tinggalkan begitu saja? Apa Hania kesasar? Harusnya tidak. Hania hanya perlu memberi alamat tempat tinggalnya pada driver ojek, setelah itu akan diantar sesuai alamat.


Tapi, perasaanya pun sedikit cemas. Dia mencoba menghubungi nomor Hania, namun tidak aktif. Apa dia tadi terlalu berlebihan?

__ADS_1


__ADS_2