Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Setragis Itu Kisah Lo?


__ADS_3

Sekarang Gaka dan Hania sedang berada di salah satu kedai yang ada di pinggir jalan.


"Kamu gak ikut pesen soto, Mas?"


"Hah? Enggak enggak! Ini sejarah pertama kali gue ada di tempat seperti ini."


Hania menepuk kening, dia lupa pria di depannya itu adalah Gaka. Pria yang sudah angkuh dari lahir. Katanya.


"Kamu juga gak mau pesen minum?" Oke, Hania tidak menawari atau memaksa.


"Enggak ah!"


Gaka sibuk mengotak atik ponsel. Setelah selesai memasang kartu, dia memberikan ponsel itu pada Hania.


"Nih, dah bisa lo gunain."


"Doain tanganku gak kebas dan mati rasa, ya, Mas."


"Kenapa?" Gaka kebingungan.


"Gak biasa pegang hp mahal, sih."


"Hah? Ha ha ha ...." Gaka tertawa keras.


"Jangan keras-keras ketawanya!" Hania memukul lengan Gaka.


"Abis lo lucu banget." Gaka menyusut sudut mata. Dia terbahak sampai mengeluarkan air mata.


"Yang aku bilang emang beneran. Aku gak pernah pegang ponsel mahal. Harusnya beli yang biasa aja. Toh, kegunaannya juga sama.


Selain itu, kapan aku bisa ngembaliin uang kamu kalau harganya aja semahal itu."


"Kenapa ngeyel mau dikembaliin, gue ikhlas kasihnya. Anggap aja lo menang lotre."


Kini berganti Hania yang tertawa. "Kamu ada-ada aja, Mas."


"Pesanan datang," ucap seseorang sambil membawa satu mangkuk soto beserta satu gelas es jeruk manis. Menaruh semua itu di depan meja Hania.


"Makasih, ya, Mas."


"Sama-sama Mbak."


"Eit-eit! Lo panggil dia apa? Mas? Lo samain panggilan gue sama dia. Jangan panggil dia dengan sebutan itu!" Gaka memberi lirikan tajam.

__ADS_1


"Taulah, Mas, terserahmu aja. Selalu itu yang direbutkan. Kalau gitu biar nanti ku panggil dia Ayang."


"Apa!? Berani lo panggil dia begitu, gue bakal culik dia dan gue suruh dia operasi transgender."


Hania menggeleng dengan wajah frustasi. "Lama-lama gak kuat aku sama kamu, Mas. Rasanya aku hampir gila," ucapnya pelan.


Sebelum Gaka menjawab, ponsel yang baru di aktifkan beberapa menit lalu sudah mendapat panggilan masuk.


"Halo, Ge?"


'Lo dimana, Ka?'


"Lagi di jalan mau ke club nemuin anak-anak. Kenapa?"


'Ada jadwal nge-dj?'


"Iya."


'Gue kangen, Ka.'


"Gak bisa sekarang, besok aja, ya."


'Lo mulai berubah, Ka. Sekarang jarang ada waktu buat gue!' Suara Gea terdengar merajuk.


Dengan menikmati semangkuk soto, sesekali Hania melirik ke arah Gaka. Dia berusaha biasa saja meski ada yang dipendam. 'Dia memang milik Gea, Han. Lo gak berhak marah.'


Pembicaraan Gaka dan Gea terjadi lumayan lama. Bahkan Hania sampai menghabiskan separuh makanannya. Merasa kepedasan, dia meraih gelas es jeruk dan meminumnya pelan. Sesekali memainkan ujung sedotan dan menggigit-gigit kecil. Dia berusaha abai dengan obrolan Gaka dan Gea, tapi entah mengapa lama-lama terasa panas juga.


Gaka yang sedari tadi mengobrol dengan Gea tidak sadar sudah menarik gelas es jeruk Hania, pertama dia hanya memainkan bagian pegangannya saja tapi lama-lama menempelkan sedotan itu di bibirnya. Lalu di seduh perlahan sampai habis.


Hania menggeleng sambil mendengus. "Dasar!!! Bilangnya gak mau, tapi di embat sampek habis."


Hania bertambah kesal melihat Gaka tertawa. Entah apa yang membuat pria itu tertawa keras. Saking kesalnya, tiba-tiba dia melayangkan sendok ke mulut Gaka. Tanpa di duga, pria itu mengunyah perlahan. "Enak," ucapnya.


Dan lagi, Gaka menggeser mangkuk soto itu sampai berpindah ke hadapannya, lalu menghabiskan semuanya.


"Huh! Dasar dasar dasar!" Hania tak bisa lagi berkata-kata.


Setelah menyelesaikan pembicaraannya bersama Gea. Dia menyimpan ponsel dan melihat Hania.


"Udah kenyang, Mas," sindir Hania.


"Kenyang?" Gaka mengernyit.

__ADS_1


"Tuh, soto ku kamu abisin. Bahkan es jeruk ku juga gak ada sisa." Hania menunjuk mangkuk dan gelas yang sudah berpindah di depan Gaka.


"Eh." Gaka terkejut juga menahan malu.


"Katanya gak mau, gak doyan, gak pernah makan? Makanya, kalau belum dicoba jangan bilang gak mau. Kalau udah tau rasanya, ketagihan 'kan?" Hania tersenyum lucu.


"Gue tadi gak sadar. Suer."


"Pas udah sadar, ketagihan 'kan?"


"Ya udah, pesen lagi gih."


Hania tertawa lebar. "Kamu, Mas Mas, bisa ngelucu juga."


"Pak, pesen soto lagi dua sama es jeruknya juga dua, ya." Akhirnya Hania memesan lagi.


Hening melanda di antara mereka. Hania maupun Gaka sama-sama larut dalam lamunan mereka.


"Mungkin lo udah tau semua tentang gue. Tapi gue sama sekali gak tau apapun tentang lo," celetuk Gaka.


"Apa yang mau kamu tau tentang aku? Dari awal kamu juga tau kalau aku cuma gadis biasa, polos dan tidak memiliki wawasan apapun. Gak ada yang bisa aku ceritain. Kehidupanku ya cuma seperti ini. Tapi waktu aku masih bersama kedua orang tuaku, kehidupanku sangat bahagia dan menyenangkan. Setelah mereka tiada, aku cuma berpasrah kepada Allah untuk semua kehidupanku dan takdirku selanjutnya."


Gaka mengangguk. Tiba-tiba merasa bersalah ketika Hania menceritakan tentang kedua orang tuanya. Karena dia juga penyebab ayah Hania meninggal. Meski kejadian itu dianggap takdir, tapi lewat dia takdir itu terjadi.


"Tentang orang yang lo sukai," ujar Gaka.


Hania menatap Gaka dan menampilkan senyum masam. "Aku gak punya cerita menarik tentang orang yang aku sukai."


"Kalau gue, bahkan hampir semua orang tau gue sering gonta-ganti cewek. Cuma sama Gea yang lumayan lama. Kalau lo, gue penasaran banget sama percintaan gadis tertutup kek lo. Gimana cara lo menyukai pria. Gimana cara lo berpacaran."


Hania menggeleng. "Aku gak pernah dan gak mau kenal yang namanya pacaran. Kalau memang berjodoh, aku inginnya langsung dikhitbah. Tapi akhirnya yang terjadi bukan cuma dikhitbah, malah langsung sah sama kamu."


"Aku pernah gak tahu diri suka sama pria sholeh yang selalu menjaga pandangannya dari yang bukan muhrim, tapi mungkin karena aku tidak sepadan, Allah tidak menakdirkan kami menjadi pasangan. Pria itu memilih mengkhitbah anak pak kyai.


Yang kedua, ada seorang pria baik dan hangat mengajakku berkenalan lewat jalan baik. Lama-lama kami saling mengenal dan dia mengutarakan keinginannya langsung mengkhitbahku. Tapi, lagi-lagi Allah belum memberi jodoh, dan akhirnya pria itu menghilang tidak pernah kembali lagi."


"Maksud lo menghilang?"


"Setelah pertemuan kami yang terakhir, dia janji mau datang untuk melamar secara resmi, tapi nyatanya pria itu gak pernah muncul lagi. Bahkan sampai detik ini aku juga gak tahu kenapa dia tiba-tiba menghilang. Aku gak tahu apa yang sudah terjadi dengannya."


"Setragis itu kisah lo?"


"Ya, sangat tragis. Tapi lebih tragis lagi karena pada akhirnya aku malah berjodoh dengan pria sepertimu."

__ADS_1


__ADS_2