
Secepat itu hari berlalu, tak terasa kehamilan Hania sudah memasuki usia empat bulan. Hari ini adalah jadwal ibu hamil untuk memeriksa kandungan.
Di kehamilan memasuki empat bulan perut Hania sudah sedikit membuncit. Bahkan berat badannya sudah naik 5 kilo gram.
Calon ayah dan bunda itu menyusuri lorong rumah sakit menuju poli ibu dan anak. Tidak ada acara mengantri karena Gaka sudah mendaftar lebih dulu lewat sambungan telepon.
"Selamat datang, Tuan dan Nona. Bagaimana dengan calon bunda, sehat?" seorang dokter menyapa dengan ramah.
"Alhamdulillah, Dok, saya dan calon bayi sehat-sehat. Cuma akhir-akhir ini pinggang terasa pegal. Apa itu normal?"
"Tidak apa, Nona, itu normal-normal saja. Minta calon ayah buat mengelus pelan, nanti akan berangsur hilang rasa pegalnya."
Ya, baru setengah bulan ini Hania mau didekati dengan Gaka. Dia sudah normal seperti sebelumnya.
"Mari berbaring, saya akan memeriksa denyut nadi dan kita lihat sudah sebesar apa dia."
Hania dipandu oleh perawat untuk berbaring di atas brankar. Pertama dokter memeriksa denyut nadi si bayi dan berbunyi "Duk duk duk" dalam 140-170 yang artinya normal dan sehat.
"Detak jantungnya normal, pasti bayinya sehat," ujar Dokter yang membuat Hania bangga dan senang. Gaka yang berdiri di samping Hania berbaring ikut mengulas senyum bahagia. Seolah segala kekesalannya terhadap ngidam si bayi luntur tak berbekas.
"Kita beralih melakukan USG," kata dokter lagi, pada saat itu perawat sigap membantu dengan menyingkap kemeja Hania ke atas dan melumuri perut sedikit buncit itu dengan sebuah gel. Agar memudahkan alat untuk berpindah-pindah.
__ADS_1
"Tuan, Nona, perhatikan gambar itu. Halo, Bunda dan ayah, dedek bayi sudah tumbuh semakin besar loh. Panjang tubuhku 16,4 cm. Sedangkan berat tubuhku 300gram. Sebentar lagi sudah bisa bergerak untuk menendangi perut bunda." Dokter menjelaskan dengan bahasa mudah dimengerti.
Hania terdiam dan fokus melihat ke layar seperti layar televisi itu. Kedua sudut matanya berkaca-kaca, haru dan bahagia bercampur menjadi satu. Kehamilan itu seperti anugerah terbesar dalam hidupnya.
Tangan Gaka mengelus dan mengecup telapak tangan Hania, calon ayah itu hatinya merasa hangat setelah melihat langsung perkembangan si bayi yang sehat.
"Dok, apa dia akan menjadi bayi nakal karena masih dalam kandungan sudah menendangi Emaknya?"
Pertanyaan Gaka membuat dokter tertawa. Begitupun Hania yang mencubit lengan suaminya.
"Tidak, Tuan, bukan berarti bayi Anda nakal. Maksud saya, si bayi sebentar lagi sudah aktif bergerak dan merubah posisi. Kalau umumnya disebut menendang, padahal cuma merubah posisi."
"Biasanya kandungan berjalan 4 ke 5 bulan sudah mulai menunjukan pergerakan, calon bunda pasti bahagia dan merasa takjub."
"Walau kehamilannya normal, tapi tetap dijaga pola makan dan jangan terlalu lelah." Dokter memberi pesan. "Sudah cukup ya melihat dedek bayinya. Saya akan meresepkan vitamin."
"Belum cukup, Dok! Saya belum puas melihat dedek bayinya," ujar Gaka.
Dokter kembali menggerakkan-gerakan alat di atas perut Hania, demi menuruti permintaan Gaka. "Ohya, Tuan, kita belum bisa melihat jenis kelaminnya. Sepertinya dedek bayi malu-malu karena kedua pahanya merapat. Biasanya usia 4 bulan sudah ada yang terlihat. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa dilihat ya."
"Saya yakin dia pasti laki-laki, Dok. Di lihat dari aksi ngidamnya yang nyusahin, dia pasti laki-laki," ujar Gaka antusias.
__ADS_1
"Mas-Mas, dari mana kamu bisa seyakin itu," sahut Hania.
"Gak percaya, pokoknya gue yakin dia laki-laki."
"Laki atau perempuan sama aja, Mas, yang penting sehat."
"Mitosnya kalau mengandung bayi laki-laki bundanya terlihat jelek, kalau mengandung bayi perempuan, terlihat cantik bercahaya. Tapi Nona terlihat cantik," ucap Dokter.
"Istri gue emang udah cantik dari sononya, tanpa mitos dia udah paling cantik sejagat raya."
"Ah, itu gombalan mu aja Mas, dulu kamu ngatain aku Maesaroh yang jelek dan nyebelin. Lupa kamu?" sela Hania.
"Itu 'kan dulu sayang, beda sama masa sekarang. Gak ada wanita lain yang bisa ngalahin kecantikan istriku."
So sweet, mereka bikin iri. Apalah nasib janda sepertiku. Batin dokter.
Ucapan sederhana itu membuat Hania bersemu. "Malu, Mas, ngegombal di depan dokter."
"Kenapa malu? Kita halal ini."
"Iya Nona, kenapa harus malu. Beruntung Anda mendapat suami seperti Tuan Gaka. Baik dan terlihat sangat mencintai Anda."
__ADS_1
Hania tersenyum, memang benar kata dokter karena Gaka selalu memberikan cinta yang indah dan bahagia. Dulu perjalanan cintanya tak sebahagia sekarang, tapi Hania sangat bersyukur karena pada akhirnya Gaka sudah berubah.