Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Tidak Mungkin Ada Di Sini


__ADS_3

Dia tampan tapi jarang tersenyum, raut wajahnya selalu disetting dingin. Begitulah bisik-bisik beberapa karyawan bila anak pemilik perusahaan terlihat datang.


Belum lama ini Gaka sering datang ke perusahaan, dia diberi arahan bagaimana memajukan perusahaan karena sebentar lagi posisinya akan menggantikan Tuan Haru sebagai CEO.


Sampai di ruangannya, Gaka langsung melepas jas dan melampirkan ke sandaran kursi. "Ck. Males banget kerja kek gini, gak asik," gumamnya. Dia beralih mengambil ponsel dan menelpon seseorang.


'Hay, Baby,' sapa seseorang diseberang sana.


"Gue bete'," adu Gaka.


"Lo lagi di kantor?" tebak Gea. Dan hanya di jawab helaan napas saja. "Wa gue tadi pagi gak lo balas, Ka."


"Tadi langsung berangkat, gak sempet bales." Gaka bangkit dari duduknya dan beralih melihat pemandangan luar jendela.


"Bete banget sih suaranya. Dah, jangan lemes gitu, nanti pulang kantor mampir ke Apartemen aja."


"Lo udah gak sibuk?" sahut Gaka.


"Ya masih lah. Tapi denger lo bete gitu gak tega."


"Dua hari gak ketemu, dah gak sanggup nahan," goda Gaka.


"Idih ...."


"Udah sana kerja. Yang semangat ya, itu juga buat masa depan kita nanti."


"Oke."


"By ... love you."


"Lov ...."


Pletak!


"Au ...." Gaka mengaduh kesakitan saat kepala bagian belakangnya ada yang melempar pena. Dia berbalik dan mendapati papanya sedang menatap dengan wajah garang.


"Pa, ngagetin aja. Sakit tau!" protesnya.


"Kamu di sini kerja, bukan hanya bersantai sambil telponan!"


"Telpon bentar ini, Pa. Cari penyemangat."


"Ini jam kantor. Waktunya kerja harus kerja nggak ada alibi apapun!" tegas Tuan Haru.

__ADS_1


"Eh, apa lo?! Diem!" Gaka melotot dan memarahi sekretaris papanya yang terlihat menahan tawa. Tapi Tuan Haru jelas salah sangka.


"Berani kamu bentak Papa?! Berani nyuruh Papa diem?!"


"Loh, enggak, Pa! Enggak! Gaka marahin dia tuh!" Gaka menunjuk seseorang yang ada dibelakang papanya. "Dia ngetawain Gaka barusan. Suer!"


Tuan Haru melihat sekretarisnya yang ternyata diam juga menunduk.


"Tadi ngetawain Gaka. Sumpah."


"Sudah! Papa gak mau memperpanjang. Sebagai hukuman, kamu harus lembur."


"Loh, Pa. Gak bisa gitu. Eh, bangsa ... t," ucapan itu terpotong karena Tuan Haru memelototi Gaka.


"Pelajari berkas-berkas itu dan kasih laporannya 2 jam lagi." Setelah itu Tuan Haru dan sekretarisnya keluar.


"Bedebah! Persetan!" Gaka meninju angin untuk meluapkan kekesalan.


~


Pukul empat sore jam kantor hampir usai, namun Gaka dirundung galau karena dia mendapat tugas lembur. Ada pesan masuk dari Gea, namun tak dihiraukan. Bukan sedang sibuk, melainkan takut dengan dua orang yang berjaga di sofa ruangannya.


Ya, Tuan Haru menyuruh dua pengawal untuk mengawasi Gaka. Bukan di dalam ruangan saja, bahkan di luar ruangan juga ada.


Gak habis pikir. Gue anaknya apa tahanannya sih. Gini banget. Gaka membatin.


Jadi, umpatan dan pengusiran dari Gaka tak diindahkan sama sekali.


Gaka mengepalkan tangan, namun diurungkan untuk menghajar karena sadar pengawal papanya lebih dari dua.


Dan, Gaka baru boleh meninggalkan kantor setelah pukul enam sore. Segera dia keluar kantor dan ternyata di luar sudah sangat gelap. Cuaca mendung dengan gerimis yang mulai membasahi bumi.


Gaka menunggu di lobi karena staf bawahannya sedang mengambil mobilnya. Saat netranya melihat ke depan, dia memicing. Seperti mengenali sosok wanita yang berdiri di post satpam sedang mengobrol dengan seorang pria.


"Ah, gue pusing, nih. Iya, gue pasti lagi pusing. Pandangan gue kabur gara-gara pantengin berkas terus. Gak mungkin 'kan cewek nyebelin itu ada di sini. Gak mungkin." Gaka berbicara sendiri. "Tapi kok mirip? Apa dia punya kembaran?"


Gaka tersadar dia sedang ditertawakan oleh beberapa orang. Mungkin dikira belajar gila karena berbicara sendiri.


Setelah mobil Porsche berhenti di depannya. Dia langsung mengambil alih kemudi dan melesat ke rumah Gea. Pada saat melewati post satpam, dia tidak begitu jelas melihat sosok wanita itu karena kaca mobilnya tergenang rintik gerimis.


Tok ... tok ....


Gaka mengetuk pintu apartemen Gea. Dan langsung disambut pelukan hangat dari pacarnya.

__ADS_1


"Kok jadinya malem gini?"


"Bokap tuh rese banget, gue disuruh lembur." Keduanya duduk di sofa.


"Dua hari aja udah kangen banget, apalagi kalau nanti gue pulang ke Surabaya," ujar Gea.


"Pulang? Katanya abis selesai ini mau ngelamar di perusahaan. Kenapa pulang?" Gaka terkejut.


"Enggak pulang beneran, sayang." Gea tersenyum lebar. Merasa gemas dengan wajah Gaka yang terkejut. "Mama nyuruh pulang karena ada acara keluarga. Cuma satu minggu kok," imbuhnya menjelaskan.


"Kenapa harus selama itu, Ge? Kelamaan adik gue puasa. Akh! Gak asik," decit Gaka.


"Mau gimana lagi, ini urusan keluarga, gue harus dateng, Ka. Anggep aja kita lagi dipingit," seloroh Gea dengan kekehan.


"Pingit apaan! Persetan!" Bukan mereda, kekesalan Gaka terus bertambah.


"Gue ambilin minum deh biar agak dingin." Gea berdiri dan pergi ke dapur.


Apartemen yang ditinggali Gea adalah fasilitas dari Gaka. Bukan itu saja, mobil, uang bulanan, dan barang branded juga mendapat jatah dari pria itu. Semua lancar jaya asal hubungan mereka masih lancar celap celup.


Gea kembali membawa minuman soda dingin juga ponsel di tangan kanannya.


"Aneh. Kamu kemana, sih, Han?" Gea bergumam sendiri.


"Siapa?" Gaka menyahut.


"Hania. Udah berapa hari nomornya gak aktif. Terakhir kali dia hubungi waktu ibunya meninggal. Gue gak enak banget gak bisa dateng dan nemenin dia."


Gaka terkejut, namun segera menguasai diri. "Setelah bokapnya, sekarang nyokapnya yang mati," ujarnya.


"Hem. Kasihan banget, ya. Dalam waktu dekat kehilangan kedua orang tuanya. Gue pengen hubungi dia karna kemarin-kemarin masih sibuk banget. Menurut lo, apa dia marah ke gue ya?"


"Entah." Gaka menjawab acuh. Dia memejamkan mata dan menutupnya dengan lengan tangan. Dia memikirkan sosok wanita yang dilihatnya tadi, apakah itu sahabat Gea atau bukan.


Tapi, mendengar cerita Gea barusan. Mana mungkin Hania ada di kota ini? Harusnya wanita itu sedang bersedih atas kematian ibunya. Ah, malang sekali nasibnya.


"Ka, lo gak mau manja-manja? Kok lemes gini." Gea menggerayangi dada bidang Gaka yang terbungkus jas mahal.


"Lo ngomongin orang lain mulu'."


"Enggak enggak! Tadi cuma ngomong dikit doang." Gea menarik pelan lengan tangan Gaka dan menyuruhnya membuka mata.


"Udah bisa dimulai nih kuda-kudaanya?"

__ADS_1


"Eh, apaan kuda-kudaan? Kemarin kemarin bilangnya tempur, perang, sekarang dah ganti?"


"Ganti nama aja, olah raganya tetep sama. Lo yang mimpin."


__ADS_2