Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Gaka Jahil


__ADS_3

Ketukan di daun pintu membangunkan seorang wanita tengah tertidur pulas di atas sofa. Hania terkejut dan segera membuka pintu.


"Sayang, maafin Mama tidak menyambut kedatanganmu. Mama tadi lagi ada urusan penting. Tapi Mama seneng banget kamu sudah ada di sini." Begitu pintu dibuka, Vara langsung berkata panjang lebar.


"Iya, Ma, gak apa. Tadi dia, eh, Mas Gaka maksud Hania, dia menjemput Hania di kos-kosan dan mengajakku kesini."


"Oh, manis sekali panggilan mu untuk Gaka." Vara tersenyum. Meski ragu-ragu Hania juga ikut tersenyum, senyum yang dipaksakan.


"Dimana suamimu?"


"Dia, lagi tidur, Ma. Katanya kecapean."


"Kecapean?" Vara mengernyit, entah apa yang dipikirkan karena lagi-lagi dia tersenyum. Vara melongok ke dalam, menemukan anaknya tengah tidur tengkurap juga bertelanjang dada.


Kening Hania berkerut, merasa aneh dengan sikap dan raut mama mertuanya yang sedari tadi tersenyum merona. "Ada apa, Ma?" akhirnya dia bertanya.


"Tidak tidak, tidak ada apa-apa. Mama cuma mau kasih tau kalau nanti malam kita makan bersama. Itu saja," jawab Vara.


"Iya, Ma, nanti Hania sama Mas Gaka segera turun."


Vara mengelus bahu Hania dan pergi. Hania menutup pintu dan berbalik.


"Astaghfirullahaladzim." Hania memegang dada. Terkejut melihat Gaka sudah dalam posisi duduk di atas ranjang, memandang ke arahnya dengan belah bibir terangkat.


"Geli tau denger lo sebut gue mas," ucap Gaka.


"Lucu? Lucu gimana?"


"Ya lucu sama geli juga, sih! Mana pernah gue dipanggil begitu."


"Kamu suamiku, gak sopan kalau cuma panggil nama aja."


"Tapi bukan Mas juga."


"Terus siapa?"


"Serah." Gaka mengabaikan Hania dan masuk ke kamar mandi.


Hania menggeleng kecil. Dia berjalan menuju jendela kaca besar. Langit memancarkan kilau keemasan. Semilir angin menyerbu kulit lalu mendamaikan jiwa. Diam sejenak dengan menutup mata, sebentar saja dia ingin merasakan ketenangan.


Ketenangan itu hanya sepersekian menit, saat kumandang azan terdengar dia membuka mata dan buru-buru menutup jendela.


Saat itu Gaka sudah keluar kamar mandi.

__ADS_1


"Astaghfirullah ...." Lagi-lagi Hania mengucap istighfar. Gaka dengan santai dan kepercayaan dirinya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang dilingkarkan ke pinggangnya. Hania menutup mata dengan belah tangannya.


"Bisa gak sih, jangan sembarangan!" ucapnya kesal. Dia belum menurunkan tangannya. Tidak ada sahutan dari Gaka, tapi hidung Hania mencium wangi sabun yang sangat pekat. Dia membuka mata. Dan ....


"Ba ...!!!"


"Akh' ...!!!" Hania reflek mundur dan kehilangan keseimbangan.


"Ha ha ...." Gaka terbahak-bahak.


Hania membuang pandangan. Mengusap-usap pantatnya yang sakit. "Sakit banget," gerutunya.


Tawa Gaka menggelegar. Dia sampai memegangi perutnya. "Lo lucu banget jatohnya. Ha ha ...."


"Ada orang jatuh diketawain, awas kilas balik itu cepat terjadi," ucap Hania dengan nada kesal.


"Eh, lo nyumpahin gue?"


"Enggak." Hania beranjak bangun.


"Barusan lo nyumpahin gue."


"Susah ngomong sama orang gampang suudzon." Hania berjalan melewati Gaka. Pria itu mencekal tangannya dan itu membuat Hania terkejut.


Kejadian beberapa minggu lalu terulang kembali. Untuk yang kedua kali. Wajah keduanya terkikis dan jarak wajah mereka hanya beberapa inci saja.


Otak kotor Gaka mulai tertuju pada sesuatu indah di depannya. Tanpa izin, dia menekan kepala Hania dan mencium bibirnya.


Hania sangat terkejut. Membelalakkan mata dan meronta. Namun, gerakan-gerakan tubuhnya justru membuat Gaka semakin tertantang.


Duk ...!


"Auh auh!!!" Gaka mengerang kesakitan saat tongkat kerasnya tidak sengaja ditendang oleh Hania.


Hania langsung menyingkir dari tubuh Gaka. Pria itu bergulungan dengan memegangi benda pusakanya.


"Kamu ...? Em, maaf. Aduh ...." Hania bingung sekaligus takut melihat Gaka seperti itu.


"Apa sakit banget?" tanyanya.


"Bukan sakit lagi. Junior gue pasti sekarat. Aduh, lo kenceng banget nendangnya."


"Saya gak sengaja. Terus ... terus gimana?" gugup Hania.

__ADS_1


"Gimana apanya? Lo harus tanggung jawab. Auh' ...." Gaka masih merintih, dengan ekor mata melirik Hania. Wanita itu terlihat khawatir juga ketakutan. 'Ha ha ... lucu banget mukanya,' tawa jahatnya dalam hati.


"Tanggung jawabnya gimana?" Tangan Hania bergetar dan saling meremas.


"Ya kalau sakit, keseleo, itu musti diapain?"


"Diapain? Saya gak tahu musti diapain." Hania tidak mengerti.


"Di urut."


"Hah?"


Tawa Gaka hampir pecah melihat wajah Hania terbelalak kaget. "Apanya yang diurut?"


"Lo tadi nendang apaan?"


Hania menelan ludah. Dia tadi menendang sesuatu keras dengan bulatan lunak. Dia tahu apa itu, sesuatu yang membuatnya bergidik ngeri. Hania menutup wajah dan hampir menangis saat Gaka lagi-lagi melenguh kesakitan. Bagaimana dia akan mempertanggung jawabkan kesalahannya. Itu tidak mungkin, mengurut sesuatu milik Gaka. Sangat-sangat tidak mungkin!


"Saya panggil tukang urut saja, mereka pasti bisa," celetuknya.


Sumpah, muka Gaka berubah memerah. Bukan karena rasa sakit, tapi sedang menahan tawa.


"Aduh, sakit banget. Yang lo tendang tadi adalah nyawanya seorang pria, kalau gak cepet-cepet ditangani, gue bisa mati."


"Bisa se-fatal itu? Kalau gitu saya panggil Mama sama Papa sekarang saja buat minta bantuan."


Hania berdiri dan melangkah dengan cepat. Saat itu Gaka sudah melambaikan tangan tidak kuat untuk menahan tawa lagi. Seketika tawanya pecah memenuhi ruangan, bahkan sampai terbahak-bahak.


Akhirnya Hania berhenti. Baru sadar ternyata Gaka sudah mengerjainya.


"Kamu ngerjain saya?!"


"Ha ha ... Ada ya manusia se-lucu lo. Lo lucu sepaket juga sama bodoh," ucap Gaka masih dengan gelak tawa.


Hania membuang napas kasar. Ingin rasanya melayangkan benda apapun ke wajah Gaka yang menyebalkan. "Dosa gak sih, bunuh suami sendiri?!" gumamnya kesal.


Gaka yang mendengar itu kembali tertawa. Ternyata sangat menyenangkan mengerjai wanita itu. Apa yang dilakukan sangat konyol, tapi membuatnya tertawa bebas. Jarang sekali dia tertawa lepas meskipun sedang bersama Gea.


Tawa Gaka terhenti saat Hania tak terlihat lagi karena masuk ke kamar mandi. Sedangkan dia segera bangkit dan berganti pakaian.


Sekitar pukul tujuh malam keduanya turun ke lantai bawah untuk makan bersama. Di meja makan sudah ada kedua orang tua Gaka. Mereka menyambut dengan wajah senang.


"Mama hampir naik ke atas lagi buat manggil kalian, eh, taunya udah turun. Ayo, makan malam bersama," kata Vara. Dia mengambil makanan untuk suaminya, dan untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah itu, berganti Hania melakukan perannya sebagai istri dengan mengambilkan makanan untuk Gaka. Pria itu memperhatikan gerak-gerik Hania. Walau pernikahan yang terjadi bukan atas dasar perasaan, tapi Hania mau melayaninya di meja makan. Dia tidak tahu dengan pikiran Hania, apakah semua itu tulus atau cuma akting di depan kedua orang tuanya.


__ADS_2