Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Pria Kurang Ajar


__ADS_3

"Mau lanjut sarapan apa udahan, Mas?" Setelah memastikan Gea sudah masuk ke kamar rawatnya, Hania kembali menghampiri Gaka.


Pria yang belum surut dengan emosinya itu menatap Hania dalam diam. Dia kagum dengan sikap lembut dan sabar dari wanita itu. Hania memang berbeda dari wanita-wanita yang dikenalnya.


Padahal kedatangan Gea barusan menciptakan keributan besar, bahkan sempat mengucap makian untuk Hania. Tapi sungguh luar biasa wanita itu bisa bersikap tenang seperti sekarang. Namun, sikap tenang Hania justru membuatnya semakin bersalah.


"Udah gak selera gue," jawab Gaka.


"Masih sisa banyak, sayang kalau gak dihabiskan. Ya udah, biar aku makan aja." Hania mengambil piring Gaka tadi dan mulai memakan makanan yang tersisa.


"Lo gak jijik, makanan itu udah dingin, pasti udah gak enak," ujar Gaka dengan memicing. Tapi Hania tidak memperdulikan Gaka.


"Lo bisa santai gitu," tanya Gaka lagi.


"Memang aku harus gimana? Marah? Ngamuk-ngamuk? Ngotot-ngotot buat ngomelin kamu? Bikin capek aja."


Gaka terkejut dan mengerutkan keningnya dalam. Dia tidak mengerti dengan sikap Hania. "Ya wajarnya lo begitu. Jadi aneh aja kalau lo malah tenang dan seolah gak terjadi apa-apa."


"Aku berusaha memaklumi kemarahan Gea. Kita gak bisa memaksa Gea untuk mundur atau langsung mengikhlaskan perasaanya. Biar waktu dan keadaan yang akan menyadarkan dia." Hania memang terlihat tenang, tapi Gaka tahu masih ada kesedihan yang coba di tutupi wanita itu.


"Mas, aku ke kamar mandi sebentar," pamit Hania. Dia sudah melenggang menuju kamar mandi, di sana bukan karena ingin membuang hajat, tapi wanita itu justru berjongkok dan menumpahkan tangis dengan suara tertahan.


Bagaimana dia tidak sakit dengan hinaan Gea? Bagaimana dia tidak sakit mendengar wanita lain menceritakan hubungan intim dengan suaminya. Terlebih sebagian ucapan Gea mampu menghantui pikirannya.


Gaka gak punya cinta. Dia hanya punya nafsu. Yakin, lo bakal dibuang kalau dia udah bosan.


Kata-kata itu terus berputar memenuhi otaknya. Benarkan Gaka hanya penasaran saja karena dia termasuk orang baru di hidup Gaka. Apakah ungkapan perasaan Gaka hanya sebagai pemikat dan bualan, setelah mereka semakin dekat ; setelah Gaka sudah terpuaskan dengan rasa penasarannya, dia juga akan dibuang.


Cukup lama Hania menumpahkan tangis, hingga dia tersadar tidak ingin membuat Gaka curiga. Segera membasuh wajah dan sudah terlihat segar, dia kembali keluar. Mengembangkan senyum saat Gaka menatapnya.


__ADS_1


Sudah dua hari Hania menemani Gaka di rumah sakit, dia meminta izin kepada Gaka untuk masuk ke kantor. Gaka adalah pemilik perusahaan, pria itu bebas berapa lamapun tidak masuk kantor. Tapi dia hanya pegawai biasa, tidak bisa cuti terlalu lama.


"Udah gue sembuh, bakal gue bongkar pernikahan kita supaya lo gak usah takut sama atasan lo. Lo juga bakal gue pindah jadi asisten sekretariat biar kita bisa deketan," ujar Gaka sedari tadi tak henti mengoceh.


Hania mengangkat bahu. Dibiarkan Gaka mengomel semaunya, yang terpenting pria itu sudah mengeluarkan kata izin.


Setelah memakai sepatu dan memeriksa isi tas, dia mendekati Gaka untuk menyalami tangan pria itu. "Aku berangkat ya, Mas. Mama 'kan nanti kesini, kamu gak akan kesepian."


Gaka masih memasang wajah kesal. "Iya dah sana pergi, pergi!" usirnya.


"Mas, keridhoan langkahku ada pada izinmu. Yang ikhlas dong."


Cup .... Hania mencium pipi Gaka. Perlahan mendung yang menyelimuti Gaka mulai menghilang. Tapi pria itu menggosok-gosok bibirnya pelan.


"Yang itu aku belum berani, Mas." Hania tahu kode dari Gaka.


'Okelah. Untuk awalan tidak masalah,' batin Gaka.


"Iya, gue udah ridho. Dah sana berangkat. Hati-hati. Ntar supir udah nunggu lo di depan rumah sakit."


"Wa-waalaikum salam," balas Gaka sedikit kaku. Entah kapan terakhir kali dia mengucap salam, dia pun lupa.



Hania menginjakkan kaki kembali ke kantor setelah dua hari cuti dengan alasan sakit. Begitu sampai di ruang kebersihan, dia disambut oleh kepala kebersihan yang memberitahu kalau tugasnya sementara ini dipindah ke ruang tuan Pras.


"Eh, belagu! Mampus lo pindah tugas ke ruang Tuan Pras. Bagusnya lo tuh disana aja gak usah pindah lagi," seru Nita. Pegawai yang memendam kesal kepada Hania karena posisi pekerjaannya digantikan oleh wanita itu.


Hania tidak menanggapi, dia berlalu begitu saja. "Baru masuk udah dapet sambutan kek gini," gumamnya.


Begitu sampai di lantai atas, Hania langsung menuju ruangan sekretariat tiga itu. Sedikit enggan sebenarnya, Tuan Pras adalah pria berumur namun memiliki tatapan genit.

__ADS_1


"Permisi, Pak, pagi ini Anda ingin minum teh atau kopi," kata Hania.


"Eh, kamu ...." Pria berambut ikal dan sedikit gemuk itu merekahkan bibir. "Kalau ada mau susu aja," balasnya sambil tersenyum genit.


"Tawaran saya hanya teh atau kopi. Kalau Anda ingin yang lain, Anda bisa memesan dari luar kantor," Hania menahan kesal melihat tatapan Tuan Pras yang kentara melihat tubuhnya secara intens. Meski dia berpakaian tertutup, tetap saja merasa risih dipandang demikian.


Pras berubah masam. "Kenapa ucapan kamu seperti itu! Kamu menghinaku!"


"Di mana kata saya menghina Anda? Saya berbicara apa adanya. Di kantor tidak menyediakan yang Anda minta, saya yakin Anda tahu itu."


"Cih! Sok pura-pura bodoh! Aku yakin, kamu juga tahu maksudku."


"Sekarang apa ganti Anda yang menghina saya?" sentak Hania. Jelas-jelas pria di depannya sudah merendahkannya.


Pras menghampiri Hania, langsung mencengram dagu Hania dan menatap sinis. "Pelankan suaramu. Kamu mau kehilangan pekerjaanmu detik ini juga?! Membuatmu dipecat dari kantor ini sangat kecil bagiku. Jadi, jangan macam-macam!"


"Jangan sok suci, wanita berpakaian penutup sepertimu tidak menjamin kesuciannya." Pras tersenyum mengejek.


Hania menyentak tangan Pras, tapi cengkraman pria itu terlalu kuat. "Saya akan laporkan Anda pada Tuan Gaka!" ancamnya dengan suara tidak jelas. Karena mulutnya tertekan tangan pria kurang ajar itu.


"Ha ha ha ...." Pras tertawa keras. "Laporkan saja! Kamu percaya diri sekali kalau Tuan Gaka akan mempercayai ucapanmu. Sebelum kamu lapor, aku pastikan kamu yang akan dipecat!" Pria itu balik mengancam.


"Lepaskan tangan Anda!"


Pras melepas cengkramannya, tapi pria itu justru lebih berani lagi memeluk Hania.


Plak ...


Tamparan keras Hania layangkan dipipi Pras, hingga pria itu terlihat murka. "Kamu berani menampar ku! Pegawai rendahan sepertimu berani menamparku!"


"Pekerjaanku mungkin dipandang rendah, tapi tidak dengan harga diri saya. Anda tidak bisa merendahkan harga diri saya sebagai wanita!"

__ADS_1


"Kau! Akan kupastikan kamu angkat kaki hari ini juga!" geram Pras. "Pergi dan kemasi barangmu sebelum nanti kamu mendapat surat pemecatan!"


Tanpa berkata apapun lagi, Hania berbalik dan keluar dari ruangan Pras. Dia mengucap istigfar berkali-kali. Sungguh, dia sudah menutup aurat sebaik mungkin, tapi entah mengapa masih ada yang menghina dan merendahkannya.


__ADS_2