Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Lima Puluh Juta Sudah Termasuk Diskon


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan Gaka, Hania meminta bantuan sekretaris Gaka untuk mengajarinya menggunakan lift, dia ingin turun ke lantai bawah namun kebingungan.


Setelah berhasil sampai di lantai bawah, Hania masuk ke ruang kebersihan. Dia duduk sebentar dengan napas tersengal. Pengalaman pertama dia jatuh menimpa tubuh seorang pria, hal itu membuatnya menggeleng beberapa kali. Merasa kesal, marah, malu, juga berdosa.


"Han, lo kenapa?" Teman yang bersamanya tadi baru masuk ruangan. Lalu mengambil duduk di depannya.


"Gak pa-pa, Mbak."


"Muka lo pucet, lo diteriak-teriakin sama Tuan Gaka?" tebak wanita itu.


Enggak! Tapi gue yang udah nampar dia. Ingin sekali Hania mengatakan itu, tetapi jelas tidak mungkin. Akhirnya dia hanya menggelengkan kepala.


Hania melirik telapak tangannya, bertanya-tanya ; apa dia bersalah? Harusnya tidak, karena apa yang diperbuat ingin menyadarkan pria itu bahwa tidak semua wanita bisa disentuh dengan sembarangan.


"Lo dipecat, Han?" Wanita yang ternyata bernama Bunga itu sangat penasaran. Terus menuntut penjelasan.


"Belum. Tapi setelah ini bakal dipecat," ujar Hania.


Bunga memasang wajah iba. "Yang sabar, ya. Lo gak diberi sangsi aja udah bersyukur."


"Mbak, saya mau sholat dulu, ya," pamit Hania.


"Tapi lo belum makan siang."


"Nanti aja, Mbak. Saya udah telat banget ini." Hania sudah melesat keluar.


Lima belas menit kemudian Hania kembali ke ruang kebersihan. Apalagi yang dia harapkan, sudah pasti setelah ini mendapat surat pemecatan. Sampai di ruangan, tepat saat itu ada sekretaris Gaka yang juga terlihat baru datang.


"Nih dia anaknya," ujar Lili melihat kedatangan Hania. "Surat dari Tuan Gaka." Dia memberikan amplop putih pada Hania. Setelahnya langsung melenggang pergi.


"Han, jangan-jangan itu surat pemecatan," kata Bunga.


"Mungkin, Mbak." Hania menjawab lemas.


"Coba buka dong!" rengek Bunga.


"Saya mau langsung beres-beres aja, Mbak." Hania menaruh surat itu di atas meja. Dia menuju loker untuk mengambil barang-barangnya.

__ADS_1


"Han, penasaran banget. Gue buka ya." Bunga mengibarkan surat ke udara, meminta izin untuk dibuka. Surat itu bukan seperti surat resmi karena tidak ada logo perusahaan dan membuat Bunga penasaran.


Bunga cepat-cepat membuka surat setelah mendapat anggukan dari Hania. Bola matanya kesana kemari membaca tulisan.


Kesalahan lo bener-bener fatal! Lo harus ganti jas dan celana gue tiga puluh juta. Sepuluh juta lagi karena lo udah bikin gue jatuh. Dan sepuluh juta terakhir untuk tamparan lo tadi!!! Total semuanya lima puluh juta. Lo gak akan terima gaji sebelum lo lunasi semua itu. Dan lo juga tidak boleh keluar dari perusahaan sebelum semua lunas!!!


"What???" Bunga menjerit histeris, sampai mengundang perhatian beberapa teman mereka.


"Ada apa, Mbak?" Hania ikut panik.


"Han? Berapa tahun lo bisa lunasi hutang sebanyak ini? Gila banget lo, Han! Lo tadi pagi bikin Tuan Gaka jatuh, dan barusan lo juga nampar Tuan Gaka? Lo siapa sih, Han? Jangan-jangan lo orang pinter ya, Han? Anak Ajengan atau anak dukun?"


"Mbak ngomong apa?" Hania merebut surat di tangan Bunga, juga terkejut setelah membaca isi surat itu.


Hania menghela napas panjang. Pria itu semaunya sendiri. Ingin sekali dia protes, tetapi tidak mau berurusan lagi dengan Gaka, biarlah dia tidak menerima gaji yang terpenting masih bisa bekerja di sana. Dia bisa mencari kerja sampingan.


Hania menyimpan surat dan kembali untuk bekerja. Pemecatannya gagal, itu artinya dia masih bekerja.


"Han, lo belum jawab gue! Jelasin dulu," ujar Bunga mengejar Hania.


"Lo belum makan siang."


"Saya udah minum air putih."


~


Sore hari, Hania berjalan menuju kos-kosan. Gaka melewati arah yang sama. Pria itu memperlambat laju kendaraan. Entah kenapa dia penasaran kemana gadis berkerudung lebar itu tinggal.


Hania memperlambat jalannya. Dia lupa sudah melewatkan jam makan siang, bahkan sekarang sudah setengah lima sore, tentu saja perutnya meronta-berontak minta makan. Hania duduk sebentar di pinggir trotoar. Dia melihat sekitar untuk mencari penjual makanan. Dan pilihannya jatuh pada seorang pedagang siomay keliling. Jajanan itu bisa mengganjal perutnya yang sangat kelaparan.


Gaka yang melihat itu menepikan mobil di pinggir jalan. Sedikit kasihan, tapi dia buru-buru tersadar dengan apa yang dilakukan.


"Kenapa gue ngintai dia gini? Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri. Dia langsung melajukan mobilnya kembali.


Gaka tidak mampir kemanapun. Dia langsung pulang dan ingin istirahat. Di teras rumah dia disambut Tuan Haru dan Vara.


"Sayang, sini," panggil Vara antusias, dengan ogah-ogahan Gaka duduk di samping mamanya.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu tersenyum. "Kata Papa, kamu tadi jatuh dilobi. Bener?"


"Papa rese' kek gitu diceritain segala," ujar Gaka menatap kesal ke arah Tuan Haru. Pria paruh baya itu tersenyum mengejek.


Vara hampir tidak bisa menahan tawa membayangkan putranya terjatuh di depan karyawan. Bukan dia tega, tetapi Gaka sekali-kali memang harus diberi kesialan karena sikap putranya terkadang keterlaluan.


"Mama penasaran, karyawan ceroboh yang buat kamu terjatuh. Apa dia udah kamu pecat?"


"Gak aku pecat, tapi aku kasih sangsi bayar kerugian lima puluh juta." Jawaban Gaka membuat Tuan Haru dan Vara terkejut.


"Gaka, memberi sangsi itu yang masuk akal. Dia cuma cleaning servis dan kamu suruh bayar lima puluh juta? Sampai kapan dia bisa melunasi hutangnya?" Tuan Haru berbicara.


"Masih lumayan Gaka suruh bayar lima puluh juta. Harusnya lebih. Itu udah termasuk Gaka kasih diskon."


"Ma, tempeleng aja kepala anakmu itu," ujar Tuan Haru.


"Papa!" Vara melirik sekilas. Gaka pun melayangkan lirikan maut.


"Sayang, kenapa kamu harus suruh bayar sebanyak itu, kasihan dia cuma petugas bersih-bersih."


"Jas dan celana Gaka tiga puluh dua juta, sepuluh juta karna dia bikin Gaka jatuh dan sepuluh juta lagi karna dia nampar Gaka. Semua lima puluh dua juta, tapi Gaka kasih diskon lima puluh juta aja."


"Belajar gak waras, Ma. Tempeleng, Ma, tempeleng aja biar sadar. Omongannya gak bener."


"Papa!" Kali ini Vara memberi tatapan tajam.


"Ck. Papa jangan bikin Gaka kesal. Kabur lagi nih!"


"Enggak, Gaka. Jangan dengerin omongan Papa. Lanjutin ceritanya, Nak."


"Ceritanya udah selesai, Ma."


"Loh, pipi kamu beneran di gampar? Kok merah gitu?" Vara melihat pipi Gaka dengan jelas. "Siapa yang berani gampar kamu? Mama mau lapor polisi."


"Ahli surga. Udah, biarin aja. Gaka lagi males."


Vara terkejut. Kasus serius seperti itu kenapa Gaka tidak bertindak? Harusnya sudah memberi pelajaran setimpal pada orang itu. Apalagi sampai berani melayangkan tamparan.

__ADS_1


__ADS_2