
"Iya saya gila karna kehormatan saya kamu rampas dengan kejam!" Hania menatap tegas dengan suara dingin.
"Gue udah bilang, gue gak sengaja dan gue juga udah minta maaf. Ngeyel banget sih!" Gaka yang memang tidak pernah mengakui kesalahannya juga bersikap dingin. Keduanya sama-sama sinis.
"Lo gak tau, ada banyak wanita yang suka rela nawarin diri sama gue. Gue gak tidur secara acak."
"Gaka!!!"
Deg ....
Suara bariton itu sangat familiar di telinga Gaka. Mampus! Tamat riwayat gue!
"Gaka! Mama gak percaya ini."
Deg deg ....
Ternyata bukan cuma suara Tuan Haru, bahkan terdengar sahutan dari Vara.
Gaka bergeming, tidak berani menoleh ke pintu. Sial! Apes banget!
Bukan Gaka saja, tubuh Hania membeku. Dia sudah bernegosiasi agar tidak ingin mengenal mereka lagi, tapi justru tiba-tiba kedua orang tua Gaka datang. Bisa saja semua menjadi panjang dan lebih rumit. Ya Allah, beri jalan keluar.
"Hania?" Vara berjalan mendekat, tidak percaya dengan sosok yang dilihat. Ternyata wanita yang sedang berhadapan dengan Gaka adalah Hania. Gadis sholehah yang ditemui di Surabaya, dan sekarang ada di sini. Lebih mencengangkan lagi sedang terkena musibah karena ulah anaknya.
Vara beralih mendekati Gaka dengan menatap nyalang pada putranya sendiri. Dia mendekat dan ....
Plaaak .... Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Gaka.
"Kamu benar-benar keterlaluan, Gaka! Mama sangat kecewa dengan apa yang kamu lakukan."
"Ma, Gaka bisa jelasin." Pria yang selalu menatap dingin itu nampak ketakutan.
"Kamu mau jelasin versi kebohongan mu, iya?! Mama dan Papa sudah mendengar semuanya. Kalau gak ingat kamu anak kami, Mama langsung laporin kamu ke polisi. Mama geram, marah, syok, dan kecewa sekali dengan perbuatan mu kali ini!"
__ADS_1
"Ma ...."
Vara tertunduk dan menangis.
"Itu kekecewaan dari mamamu. Dan yang ini kemarahan dari papamu!" Tuan Haru mulai bersuara.
Plak ... Sreakkk! Kali ini tamparan dari Tuan Haru lebih keras lagi, sampai tubuh Gaka terhuyung dan terkatuk kursi.
Gaka memegangi bekas tamparan yang terasa panas. Dia menggerak-gerakan mulutnya karena mati rasa.
Tangan Tuan Haru kembali terkepal dan melayangkan satu pukulan lagi di sudut bibir Gaka, sampai bibir itu mengeluarkan darah. Gaka hanya bisa diam menerima tanpa menghindar. Dia menyadari tamparan itu memang pantas diterimanya.
"Pak, tolong hentikan!" ujar Hania ingin menghentikan keributan antara anak dan orang tuanya. Sadar sedang berada di rumah sakit, tidak ingin sampai keributan itu terdengar sampai keluar ruangan.
"Aku ingin membantu kamu menghilangkan nyawa pria pecundang ini." Tuan Haru menatap geram pada Gaka. Bahkan jari telunjuknya tepat mengarah di depan wajah Gaka.
Tidak henti-hentinya anaknya itu membuat masalah yang merugikan orang lain. Malu, kecewa, putus asa, merasa gagal mendidik anak.
"Pa, ini di rumah sakit. Jangan membuat keributan lebih dari ini," ujar Vara ikut melerai.
Sejak tengah malam mendapat laporan dari pengawalnya, Tuan Haru sangat penasaran apa yang terjadi pada Gaka. Anaknya itu memang selalu membuat masalah, tapi apa yang dilakukan kali ini sama sekali tidak terduga.
Awalnya seorang pengawal yang diutus untuk memata-matai Gaka memberitahu jika Gaka membawa seorang wanita ke rumah sakit, dan Gaka juga tidak pulang karena sedang menungguinya. Hal itu menimbulkan rasa penasaran besar, hingga dia meminta pengawal itu untuk mencari tahu nama wanita yang bersama Gaka.
Saat sudah mengetahui nama wanita itu, dia hanya bisa menduga apakah nama Hania sama dengan gadis yang ada di Surabaya atau bukan.
Dan setelah pagi-pagi sekali dia datang ke rumah sakit, dia dikejutkan lagi dengan percakapan Gaka dan Hania yang tanpa sengaja mengungkap tabir kelam dan mengungkap sebuah kejadian besar.
"Hania, ceritakan semuanya pada Tante. Tante sudah mendengar semuanya, tapi ingin mendengar langsung darimu," pinta Vara.
Hania menolak, tapi berkat bujukan dan desakan Vara, dia mulai bercerita dari awal dia tertabrak mobil hingga pingsan dan saat terbangun kejadian naas itu sudah terjadi. Semua diceritakan secara runtut dan detail sesuai yang diingat.
Tak jauh dari mereka, Gaka terdiam. Tidak menyela atau membantah keterangan Hania, karena semua yang diucap Hania memang sesuai dengan apa yang terjadi kemarin malam. Dia tidak bisa berkilah.
__ADS_1
"Kamu harus tanggung jawab, Gaka," tegas Vara menunjuk Gaka dengan pandangan tajam.
"Tanggung jawab gimana, Ma?" Gaka mulai menciut dan khawatir. Tidak mungkinkan harus tanggung jawab dengan menikahi Hania. Sama sekali dia kepikiran dengan itu.
"Nikahi Hania."
"Hahh?!" Gaka terbelalak. Bagaimana mamanya memberi perintah yang mustahil.
"Jangan becanda, Ma. Pacaran sama dia aja ogah. Ini malah di suruh nikahin?" Gaka menolak tegas.
"Gaka!!!" Tuan Haru berteriak marah. Tatapannya pun tak kalah tajam dari istrinya. Apa yang dilakukan Gaka kali ini benar-benar kelewatan. Bila wanita itu bukan Hania, dia tidak akan semarah saat ini.
"Besok hari peresmian kamu menggantikan posisi Papa. Dan setelah itu, kamu harus menikahi Hania," sambung Tuan Haru tanpa mau dibantah.
Hania masih bungkam, apa yang dikatakan kedua orang tua itu membuatnya syok.
"Tante, boleh saya bicara bicara berdua dengan Anda?" pinta Hania.
Vara mengangguk, lalu beralih pada suaminya. "Pa, bawa Gaka keluar."
"Ayo keluar!" Tuan Haru menarik lengan jaket Gaka dan menyeretnya keluar.
"Pa, jangan begini. Masa Gaka harus nikahin dia. Dia gak hamil, kenapa Gaka harus tanggung jawab." Gaka berusaha bernegosiasi, siapa tahu keputusan kedua orang tuanya masih bisa dibatalkan.
"Kamu sudah mengambil paksa kehormatan Hania, kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatan mu." Tuan Haru tidak menggebu seperti tadi. Mereka sedang ada di luar ruangan, dia tidak mau kalimatnya di dengar orang lain karena itu sebuah aib.
"Ini bukan yang pertama kali Gaka lakuin itu. Ada beberapa cewek yang aku gituin, tapi gak ada aku tanggung jawab. Tinggal kasih uang, udah beres."
"Hania berbeda, Gaka. Dia bukan seperti wanita-wanita yang sering kamu kencani. Dia taat agama, pasti berat menerima apa yang kamu lakukan. Satu-satunya mengembalikan marwahnya adalah dengan kamu bertanggung jawab menikahinya. Karena kamu yang telah menyentuhnya pertama kali."
"Tapi Pa ...." Gaka masih ingin menyangkal, tapi papanya kembali bersuara.
"Jangan jadi pria pengecut, berani berbuat, harus berani bertanggung jawab."
__ADS_1
"Ahli neraka kek gini gak pantas sama ahli surga, Pa. Gaka gak pantes sama dia. Ibarat dia langit dan Gaka bumi, kami tidak mungkin bisa bersatu."
"Apapun bisa menjadi mungkin. Jangan jadikan itu alasan. Kalau kamu merasa seperti itu, maka berusahalah untuk memantaskan diri."