
Pukul sebelas malam Hania masih berjalan mondar-mandir di samping sofa. Giginya beradu menggigit pinggiran kuku-kuku. Raut wajahnya gelisah dan sesekali tertuju ke arah pintu.
Ceklek ....
"Huh!!!" Hania terlonjak kaget.
"Ngapain lo?" tanya Gaka.
"Gak pa-pa."
"Kenapa gak tidur?" Gaka berjalan santai menuju lemari pendingin mini yang ada di sudut kamarnya. Mengambil soda dingin dan langsung menenggaknya.
"Gak bisa tidur."
Gaka langsung menoleh. Hania bergerak tidak nyaman. "Kenapa sih? Aneh banget?"
"Saya gak nyaman tidur sekamar denganmu."
Gaka mengerutkan kedua alis. "Lo takut gue ngapa-ngapain lo? Takut gue nyium lo lagi?"
Ragu-ragu Hania mengangguk. "Jangan lakuin itu lagi. Jangan sentuh saya tanpa izin."
Gaka tersenyum singkat. "Lo gak salah ngomong? Mau gue cium, mau gue apa-apain, sah-sah aja. Lo istri gue. Dari ujung rambut sampai ujung kaki lo juga halal gue sentuh. Harusnya lo tau itu."
Deg ....
Hania terdiam. Apa yang dikatakan Gaka memang benar, tapi pernikahan yang dijalani masih abu-abu, tidak tahu kedepannya seperti apa. Dia tidak mau masuk lebih dalam untuk pernikahan yang belum jelas.
"Saya tau. Tapi kamu juga harus tau, seorang suami hanya akan menyentuh istrinya saja dan bukan perempuan lain. Kalau kamu menyentuh wanita lain, tolong jangan sentuh saya!"
"Lo ngatur gue?"
"Sama sekali enggak! Saya cuma bilang, kalau kamu menyentuh wanita lain, tolong jangan sentuh saya. Jangan samakan saya dengan wanita-wanitamu!"
"Udah lama gue gak nyentuh sembarang wanita, gue cuma sama Gea."
"Termasuk Gea. Walau kami bersahabat, tapi jangan samakan saya dengan Gea. Saya Hania, dan dia Gea."
~
Sesudah sholat subuh Hania langsung pergi ke dapur. Kepala pelayan sudah melarang Hania untuk tidak ikut menghidangkan makanan, tapi Hania memaksa. Dia merasa bosan tidak melakukan apapun. Selain itu, dia menghindari agar tidak lama-lama satu ruangan dengan Gaka.
Pukul 6 pagi Vara masuk ke dapur, dia terkejut melihat Hania menggunakan celemek juga memegang spatula.
"Hei, kenapa kalian diam saja menantuku masuk ke dapur dan memasak?" ucap Vara.
__ADS_1
"Kami sudah melarangnya, tapi Nona memaksa," jawab kepala pelayan.
"Iya, Ma, Hania sendiri yang pengen ikut memasak."
"Tapi sayang, ini bukan pekerjaanmu. Biar mereka yang mengerjakan."
"Maaf, Ma."
"Em, sudah-sudah. Lebih baik kamu bangunkan Gaka, dan siapkan keperluan kantornya," titah Vara.
"Iya, Ma. Hania ke atas dulu." Dia melepas atribut yang digunakan untuk memasak tadi, lalu bergegas pergi ke kamar.
Ketika membuka pintu kamar, dia tidak melihat Gaka di atas tempat tidur. Melainkan terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi. Pasti sedang mandi.
Dia berjalan masuk dan membuka tirai jendela yang menjulang tinggi, seketika cahaya mentari merambat masuk dan memberi kehangatan. Hania terdiam di sana dengan memejamkan mata. Dia memang suka keindahan langit pagi dan sore hari. Sampai Gaka keluar dari kamar mandi dan melihat ke arahnya, tapi dia jelas tidak tahu.
Gaka berhenti dengan aktifitasnya mengeringkan rambut. Tersenyum tipis melihat Hania berdiri dengan mata terpejam di depan jendela. Dia menggeleng kecil.
Blap ....
Handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambut tadi sudah berpindah tempat. Gaka melempar handuk tepat di muka Hania.
Hania menghirup udara sedalam-dalamnya dan membuangnya perlahan. Selalu saja pria yang menjadi suaminya itu berhasil membuatnya kesal di situasi apapun.
Setelah membuat Hania kesal, dengan santainya Gaka berjalan menuju ruang ganti. Tidak memperdulikan ekspresi Hania yang kentara menahan kesal.
"Gue nanti pulang malem. Lo gak usah cari atau nunggu gue," ujar Gaka tanpa menoleh pada Hania.
"Narsis. Siapa juga yang nunggu," gumam Hania.
Gaka tidak begitu jelas mendengar gumaman Hania, dia menuju meja rias untuk menata rambutnya.
"Saya mau izin juga. Nanti siang mau pergi keluar."
"Serah." Sesingkat itu Gaka menjawab dan beralih berpindah ke sofa. "Tolong ambilin sepatu gue!" perintahnya.
Hania melakukan perintah Gaka, setelah selesai bersiap keduanya turun ke bawah untuk sarapan bersama.
"Pagi, Ma. Pagi, Pa," sapa Gaka. Sedangkan Hania hanya mengangguk dan tersenyum.
"Pagi, sayang," balas Vara.
"Pagi," balas Tuan Haru.
"Hania, hari ini Mama harus ke butik lagi. Maaf gak bisa nemenin kamu ya."
__ADS_1
"Iya, Ma, gak pa-pa. Hania juga mau izin keluar."
"Oh iya, hati-hati. Minta anter Pak Adi aja."
~
Siang hari, seorang wanita mengenakan pakaian sexy terlihat setengah berlari menuju pintu keluar bandara. Senyum manisnya mengembang saat melihat seseorang melambaikan tangan padanya.
"Gea ...," panggil Hania juga tersenyum lebar. Dia berjalan menghampiri Gea, tapi senyumnya perlahan memudar saat sahabatnya itu justru tertuju pada orang lain.
"I miss you, sayang." Gea memeluk Gaka dengan erat.
Hania diam terpaku menyaksikan pemandangan di depannya. Bukan karena cemburu. Bukan! Dia hany merasa sedih diabaikan oleh sahabatnya sendiri.
Gaka sempat terkejut dengan kehadiran Hania di sana, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Ge, lepasin. Lihatlah, ada banyak orang tertuju pada kita," ucapnya memperingati, sambil melepas pelukan Gea.
"Bodo' amat dengan pandangan orang. Emang lo gak kangen sama gue?" Gea melepas pelukan dan merajuk.
Gaka menghendikan bahu.
"Huh!" kesal Gea. Dia berbalik dan baru melihat keberadaan Hania.
"Hai, Han ...." Wanita itu beralih memeluk Hania sebentar. "Ini kejutan. Lo gak bilang kalau mau jemput aku. Jadi aku telpon Gaka tadi."
"Iya, aku nggak ada rencana buat jemput kamu. Maaf kalau ganggu waktu kalian," ucap Hania.
"Gak pa-pa. Aku seneng banget di jemput pacar juga sahabatku. Yuk, kita cari tempat buat makan siang dulu. Laper nih."
"Sepertinya aku gak bisa, Ge. Kalian aja," tolak Hania.
"Loh, kenapa? Kamu gak asik, Han. Ayolah ... yok ...!" Gea berusaha membujuk Hania.
"Ini udah waktunya sholat dzuhur, aku mau ke Masjid. Nanti kalian lama nunggunya. Masih ada lain waktu, nanti kita janjian aja. Sekarang aku gak mau ganggu waktu kamu sama dia."
"Oke deh. Kamu pengertian banget. Aku memang kangen sama Gaka. Udah seminggu lebih gak ketemu. Tapi kamu gak marah 'kan?"
Hania menggeleng. "Enggak. Ya udah, aku pergi dulu."
"Tapi, Han. Apa kamu udah hapal daerah sini? Nanti kalau nyasar gimana?"
"Aku naik ojek, drivernya pasti udah hapal jalan. Kamu tenang aja."
Hania berbalik dan hampir meninggalkan mereka.
"Tunggu!" cegah Gaka. "Lo bisa bareng kita."
__ADS_1
"Makasih, tapi saya pergi sendiri aja." Hania benar-benar melangkah tanpa menoleh ke belakang lagi.
'Tuhan, apa aku salah mengambil keputusan? Pernikahan apa yang kami jalani?'