Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Setelah Aku Seperti Ini, Apakah Kamu Masih Mau Bersamaku? (Abian)


__ADS_3

"Maesaroh, lo udah selesai belum?" Gaka berdiri di depan pintu kamar Hania sambil tak henti menggedor pintu kamar dengan tidak sabaran.


"Sabar, Mas, orang sabar di sayang Tuhan." Hania membuka pintu, telinganya berdengung karena Gaka terus berteriak.


"Semboyan apa itu?! Lo kira gue anak kecil. Tuhan gak akan pernah sayang gue." Gaka menghendikan bahu.


"Gimana Tuhan mau sayang, orang Mas juga gak mau disayang."


"Udah belum? Lama banget sih, keburu bete' duluan gue."


"Bentar lagi. Masuk dulu." Hania mengajak pria itu masuk ke dalam kamarnya. "Tinggal pakek liptin dan rapihin jilbab."


Gaka mengekor di belakang Hania, lalu memilih duduk di pinggir ranjang. Memperhatikan Hania yang sibuk merias di depan cermin.


"Emang ada acara apa Mama ngundang kita ke sana, Mas?"


"Gak tau. Katanya mereka kangen aja, dan pengen makan malam bersama."


"Oke, dah selesai. Yuk, berangkat." Hania mengambil tas selempang kecil dan melampirkan di atas pundaknya. Mereka berdua keluar kamar.


Sekitar 45 menit, mobil Gaka sudah berhenti di depan rumah orang tuanya. Tak lama mesin mobil mati, Vara dan Tuan Haru terlihat keluar untuk menyambut kedatangan mereka.


"Hai ... sayang," teriak Vara senang. Wanita paruh baya itu menghampiri Hania dan langsung memberikan pelukan.


"Assalamualaikum, Ma. Mama sehat, 'kan?" Hania menyambut pelukan mama mertuanya dengan senang.


"Walaikum salam. Alhamdulillah, Mama sehat. Mama tuh kangen banget sama kamu. Berapa hari gak ketemu aja udah numpuk kangennya."


"Uh, lebai," gumam Gaka, memutar bola mata ke atas. Beruntung Vara dan Hania tidak mendengar.


"Pa, Gaka kangen banget. Yuk, kita pelukan," ujar Gaka dengan meniru gaya centil para wanita.


Tuan Haru memicing dan bergidik. "Hih, geli banget denger kamu bicara begitu," tanggapnya.


"Ha ha ... Gaka bercanda, Pa."


"Ayo, kita masuk," ajak Vara dengan merangkul bahu Hania.


"Ma, katanya ada kejutan?" tanya Gaka.


"Oh itu. Iya, orangnya ada di dalam."

__ADS_1


Mereka berempat masuk ke dalam, Hania berada di belakang tubuh Gaka.


"Hay, Ka."


"Yan?! Ini elo? Gila ... parah gila, lo!" Gaka mendekati pria itu dan meninju lengannya dengan gaya ala-ala mereka dulu.


Hania kini sudah berjajar dengan Gaka, ketika wajahnya mendongak, seketika tubuhnya membatu.


Deg ... deg ....


"Han-Hania?" Pria itu bereaksi sama seperti Hania. Terkejut dan membantu.


'Mas Abian?' Bibir Hania berucap tanpa suara. Sudut mata sudah mulai tergenang cairan bening. Sekali berkedip, air mata itu akan membasahi pipi.


Gaka memperhatikan tatapan Abian yang tak beralih dari Hania. "Dia Maesaroh ... ups ... maksud gue, Hania. Keknya lo udah tau, 'kan,' ujarnya.


Abian mengangguk pelan. "Gue tau banget." Bahkan Abian masih tetap tertuju pada Hania.


Hania keseringan menatap ke atas, hal itu dilakukan demi menghalau air matanya yang ingin sekali merangsek keluar.


Berapa lama dia menantikan kedatangan seorang Abian, dan kini dia dipertemukan kembali dengan pria hangat itu. Akan tetapi, sangat disayangkan semua keadaan sudah berbeda.


Kenapa? Kenapa baru sekarang Allah memberinya takdir bertemu. Bukan bertemu dalam kebahagiaan, tapi justru bertemu dalam kesedihan. Kesedihan karena mereka sudah tidak bisa saling memiliki.


Vara mengajak semuanya langsung mengisi meja makan. Melanjutkan obrolan sambil menikmati makan malam.


"Yan, gimana kabar lo!"


"Alhamdulillah, Allah masih kasih kesempatan gue hidup. Walau sekarang gue berubah jadi pria jelek." Abian tersenyum getir.


Setelah pertemuan terakhirnya dengan Hania, dia terlibat kecelakaan yang menyebabkan kondisinya lumayan parah. Dia kehilangan kesadaran dan Kedua orang tuanya membawanya berobat ke luar negeri.


Kedua orang tua Abian belum tahu tentang rencanya yang ingin mengkhitbah Hania, maka dari itu tidak mengutus orang untuk memberitahu kabar buruk tersebut.


Sampai Abian sadar dari koma, barulah pria itu menceritakan keinginannya kepada kedua orang tuanya. Dan begitu orang tua Abian mendatangi rumah Hania, sayangnya Hania sudah pindah ke Jakarta. Dan mereka tidak bisa menemukan Hania.


Setelah menuntaskan sesak di dada, Hania kembali bergabung dengan kelurga Gaka. Dia mengambil duduk di samping kiri Gaka dan berhadapan lurus dengan Abian. Meski begitu Hania hanya menunduk, tidak berani menatap Abian langsung.


Di meja makan, paling mendominasi adalah suara Vara dengan Gaka. Hania hanya menjawab ketika ada yang menanyainya. Sebenarnya Gaka sedikit curiga dengan gelagat Hania maupun Abian. Dari pancaran mereka terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.


"Han, apa kamu lupa sama aku?" Setelah lama bungkam, Abian tak bisa menahan lagi untuk menyapa Hania.

__ADS_1


"Eng-enggak, Mas. Aku gak lupa," jawab Hania kaku.


"Apa kamu keberatan kalau aku ingin bicara berdua denganmu?"


Hania langsung menoleh ke arah Gaka. Bagaimana reaksi pria itu mendengar permintaan Abian.


"Ma, Pa, Mas, aku ingin bicara sebentar dengan Mas Abian," izin Hania.


Gaka mengerutkan dahi, dugaanya semakin kuat bahwa mereka menyembunyikan sesuatu. Tapi ingin melarangpun tidak mungkin, Abian terlihat serius.


Halaman belakang dekat kolam menjadi tempat pilihan Abian dan Hania untuk bicara. Abian menaruh tongkat penyangga di sisi kirinya. Terlihat kesakitan saat menekuk kedua lutut.


"Mas ...."


"Han ...."


Setelah hening menyelimuti, keduanya justru memanggil secara bersamaan.


"Kamu aja duluan," ujar Abian mempersilahkan.


"Enggak, Mas aja yang duluan." Hania masih tertunduk dengan meremas kedua tangannya.


"Aku mencarimu ke mana-mana, Han. Aku terkejut, ternyata kamu tinggal bersama Om Haru."


"Han, aku sangat kehilanganmu."


"Kemarin-kemarin aku juga sangat kehilanganmu, Mas. Aku menunggumu tapi kamu gak pernah datang. Dan, sebenarnya apa yang terjadi padamu?"


Abian mulai menceritakan kejadian naas yang dialami. Hania pun mendengarkan dengan seksama tanpa menyela atau memotong. Air mata berdesakan keluar mengetahui yang sebenarnya, dia segera menyeka.


Ya Allah, apa Engkau benar-benar tidak menjodohkan kami bersama?


"Setelah kamu melihatku seperti ini, sebagai pria cacat dan buruk, apakah kamu masih mau bersamaku?"


Deg ...


Hania menoleh cepat. Apapun keadaanmu aku pasti menerimamu, Mas. Tapi sekarang, aku bukan lagi Hania yang sama seperti yang kamu kenal. Aku sudah bersama orang lain.


Kali ini punggung Hania bergetar akibat menahan tangisan. Kenapa dia tidak sabar menunggu Abian? Kenapa dia memutuskan pergi tanpa berpikir bahwa Abian akan datang meski terlambat? Andai dia mau bersabar sebentar saja, mungkin saat ini mereka masih bisa melanjutkan perasaan mereka.


"Aku tidak pernah memandang fisikmu, Mas. Kamu jangan rendah diri. Tapi, maaf, aku gak bisa bersamamu lagi." Hania berucap lirih.

__ADS_1


Bukan! Sebenarnya bukan ini keinginannya, dia pun masih berharap bisa bersama Abian terlepas apapun yang terjadi padanya. Akan tetapi, itu tidak mungkin lagi.


__ADS_2