Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Dimulainya Sandiwara


__ADS_3

"Gaka ...." Gea berbinar melihat Gaka muncul di depannya. Tangan kirinya menggapai Gaka meminta untuk digenggam, namun Gaka tidak membalas.


"Lo kenapa kek gitu? Apa karna gue abis kecelakaan dan belum bisa ngapa-ngapain makanya lo cuek gitu sama gue? Lo gak ada khawatir-khawatir sama sekali sama gue? Apa Lo gak suka gue udah sadar?" runtut Gea dengan air mata hampir menetes.


Gaka diam di tempat. Berbuat baik dan seolah tidak terjadi apapun membuatnya muak. Andai bukan karena permohonan sang istri, bagaimanapun keadaan Gea, dia tidak akan mungkin mau melakukan sandiwara itu.


Kaku, lidahnya terasa kaku untuk berkata manis pada Gea. Benar-benar canggung dan memuakkan. Gaka melamun, sampai tidak sadar kalau Gea sedang terisak. Pada saat itu seseorang menarik lengannya untuk menjauh.


"Kamu membiarkan anakku menangis."


"Tante?"


"Aku sudah tau apa yang terjadi antara kalian bertiga."


Gaka hanya menduga jika Hania lah yang menceritakan tentang mereka. Dia mengira ibu paruh baya di depannya itu akan marah, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


"Ku mohon, Nak, tolong Gea." Ibu Gina memohon dengan sorot mata iba. Sebagai seorang ibu, hal utama adalah kebahagiaan dan kesembuhan putrinya. Dan dia tahu, hanya Gaka yang bisa membangkitkan semangat Gea untuk sembuh. Dia dapat melihat Gea begitu mencintai Gaka. Untuk itu, dia ingin egois untuk meminta Gaka berpura-pura menjadi pacar Gea, meski dia tahu Gaka adalah suami Hania.


"Hanya kamu yang bisa membangkitkan semangat Gea untuk sembuh. Jangan biarkan dia terpuruk. Tante tau, kamu sudah beristri, tapi Hania juga sudah setuju. Tolong, lakukan sandiwara ini demi kesembuhan putri Tante. Setelah nanti ingatannya pulih, kita akan beritahu dia secara perlahan. Tante mohon, ya, Nak, sementara ini bersikaplah seperti saat kalian berpacaran. Perlakukan Gea dengan baik dan lembut, dia sedang tidak stabil, dia akan sangat sedih kalau sampai kamu acuh seperti tadi."


Gaka masih bergeming. Dia sangat ingin menolak dan sama sekali tidak ingin peduli, tapi dua wanita sudah memohon untuk kesembuhan Gea. Dia benar-benar bingung harus bagaimana.


"Tante mohon, bersandiwara lah dan bicara baik-baik sama Gea." Setelah mengusap air mata, Ibu Gina menepuk lengan Gaka dan pergi dari hadapan pria itu.


Gaka memejam dengan membuang napas berat. Dia berbalik dan mulai mendekati Gea. Wanita itu sudah tidak menangis, namun tidak memandang ke arah Gaka meski pria itu sekarang sudah duduk di samping brankar nya.


"Ge ...."


"Lo mau alasan kalau gue udah buruk dan lo mau kita putus, gitu, 'kan, Ka?!" Gea sudah menyembur dengan tuduhan. "Wajah gue emang rusak, tapi setelah fisik gue udah siap, gue bakal operasi wajah. Lo tau secinta apa gue sama lo. Jangan lo tinggalin gue. Setelah gue pulih, gue akan menjadi Rumia Geana yang lo cintai lagi."


"Lo baru sadar, jangan banyak bicara dan mikirin hal berat. Fokus aja sama kesembuhan lo. Gue gak akan ninggalin lo." Dalam hatinya Gaka merutuki keadaan yang membuatnya harus berada di situasi seperti ini.


"Lo harus janji gak akan ninggalin gue," lirih Gea. Gaka terpaksa mengangguk. "Peluk gue, Ka."

__ADS_1


Telapak tangan Gaka terkepal, dia sudah membayangkan hal ini akan terjadi. Lagi-lagi dengan hati terpaksa, Gaka memeluk Gea.


'Tuhan, apa aku berdosa membiarkan suamiku menyentuh wanita lain? Tapi bagaimana dengan keadaan ini? Engkau pasti tau, aku memintanya seperti ini demi kesembuhan Gea.' Hania meneteskan air mata melihat Gaka memeluk Gea. Dia tahu semua itu sandiwara, tapi kenapa tetap menembus rasa sakitnya.


Seseorang memegang bahunya. "Hanya sampai Gea sembuh," ucap seseorang itu.


"Iya, Bi, Hania tau." Hania berusaha mengembangkan senyum di depan ibunya Gea.


Gaka melepas tubuh Gea saat tahu Hania masuk ke ruangan itu. Dia berusaha menunjukan ketidaksukaannya terhadap situasi itu, tapi Hania berpura-pura tidak melihat.


"Kamu udah baikan, Ge?"


"Han, kamu dari mana?" tanya Gea dengan wajah sumringah. Kesedihan yang tadi ditunjukan di depan Gaka seolah semudahnya menghilang.


"Abis sholat maghrib."


"Walau keadaanku seperti ini, tapi aku seneng, ternyata Gaka benar-benar mencintaiku, Han. Dia tetap bersamaku." Gea menatap Gaka sebentar, lalu menautkan jemarinya pada jemari Gaka. Memamerkan kemesraannya di depan Hania.


Hania hanya mengangguk, lagi-lagi berusaha menerbitkan senyum.


Pukul satu dini hari Gaka baru pulang dari rumah sakit. Dia langsung menuju kamarnya untuk mencari keberadaan Hania, dia sangat merindukan istrinya.


Gaka hanya bisa mengumpat keadaan yang membuatnya tak berkutik untuk menolak keinginan Gea. Wanita itu tak membiarkannya beranjak sedikitpun, bahkan memaksanya menemani tidur di rumah sakit. Terpaksa dia tetap disana sampai Gea tidur, dan setelah tidur, barulah dia pulang.


Gaka berganti baju tidur dan menyusul Hania berbaring. Memeluk tubuh sang istri dari arah belakang. "Gue kangen," gumamnya.


Gerakan Gaka membuat Hania terbangun. Wanita itu berbalik menghadap Gaka. "Mas," panggilnya dengan suara serak. Dari aroma parfum, dia sudah mengenali bahwa itu Gaka.


"Kangen," ucap Gaka lagi. Dia mengeratkan pelukan dan menciumi wajah Hania. Ingin membuang kekesalan terhadap Gea dengan berkasih mesra dengan Hania.


"Mas mau lakuin itu?" tanya Hania, dan Gaka mengangguk. "Baca doa dulu, ya, Mas."


Gaka membaca doa lirih, lalu memulai dengan mengecup kening Hania. Selalu seperti itu yang dilakukan sebelum dia melakukan kewajibannya.

__ADS_1


Cukup lama mereka bergumul dalam sebuah penyatuan, karena Gaka tidak akan melepas Hania sebelum istrinya itu menyerah. Selain itu, staminanya terlalu kuat, belum akan puas jika belum menaklukan waktu yang ditentukan. Gila memang.


Dan, diakhiri dengan lenguhan panjang, akhirnya penyatuan mereka berhasil mencapai puncak bersama.


"Mudah-mudahan makhluk kecil segera hadir di dalam sini," ucap Gaka, lalu mencium perut Hania dengan lembut.


"Aamiin." Hania balas mengamini doa Gaka. Dia pun sudah ingin merasakan perjuangan seorang ibu hamil.


Gaka mencari posisi nyaman. Dan kembali memeluk Hania dari arah belakang. "Sorry, gue gak bisa pulang cepet. Dia nahan gue terus."


"Gak pa-pa, Mas, aku mau makasih karna kamu mau lakuin itu."


'Dia ini gimana sih, kok, malah bilang makasih. Apa hatinya terlalu kebal sama rasa cemburu?' Gaka membatin.


"Lo gak cemburu?"


"Kalau Gea gak dalam keadaan sakit, aku pasti cemburu banget."


'Apakah Hania sepeduli itu dengan Gea, sampai mengabaikan rasa sakitnya.'


Gaka berpikir, terkadang memiliki istri kelewat baik juga menyusahkan. Mengabaikan perasaan sendiri demi orang lain.


Mungkin jika penilaian dari versinya dulu sebelum tobat, Hania adalah wanita terbodoh di dunia. Akan tetapi untuk penilaiannya sekarang, apa yang dilakukan Hania adalah sebuah kebaikan yang berasal dari nurani.


.


.


.


Di bikin greget dulu ya. Biar tingkat kemarahan kalian sama Gea bertambah tinggi.


Eit, kapan nih dedek kecil hadir?

__ADS_1


Ayo, ditunggu komenan nya.😉


__ADS_2