Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Salah Paham


__ADS_3

"Hoek! Hoek!" Mentari masih malu-malu dalam menampakan diri, bahkan angin pagi menyergap kulit sampai terasa masuk ke tulang belulang, namun Hania sudah beberapa kali masuk ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening.


Keringat dingin bertebaran disekitar dahi, wajah ayunya juga terlihat pucat sejak kemarin. Hania bercermin, menatap diri di pantulan cermin. "Kenapa kek gini? Lemes dan badan rasanya gak enak banget," gumamnya.


Belum beranjak dari wastafel, mual kembali menyerang. "Hoek!" Kini bukan lagi cairan putih, melainkan sudah pada tahap kekuningan. Dan itu sangat pahit rasanya. Hania bernapas terengah-engah seperti sudah berlari ratusan meter.


"Sayang ...!" Terdengar suara Gaka dari luar kamar mandi, tapi berikutnya pria itu sudah di belakang Hania. "Dari tadi gak keluar-keluar. Ngapain?" Dia mendekat dan tepat berada di belakang Hania. Tangannya menyelusup di pinggang yang tertutup gamis lebar.


"Hoek! Mas, menjauh, aku mual."


"Astaga! Dari semalem gitu mulu'! Semaleman loh tidur di sofa. Pagi dideketin masih gini juga. Sebenernya lo kenapa, sih? Mustinya kita rayain kepergian Gea, tapi kok malah gini." Gaka mengomel, merasa ambang kesabarannya mulai menipis karena sejak kemarin sore Hania aneh. Istrinya tidak mau dipeluk. Eh, jangankan dipeluk, didekati saja tidak mau.


"Aku juga gak tau, Mas. Tapi aku beneran mual bau tubuhmu. Eneg banget." Hania berkata lirih. Dia pun tidak tahu ada apa dengan tubuhnya. Bukan sengaja dia seperti itu, tapi memang tubuhnya sendiri yang memberi reaksi demikian. Alias mual itu sungguhan.


Gaka mendekus, dengan teratur dia mundur dua langkah. Rasa kesalnya disebabkan karena dia tidak bisa menyesap candunya. Sehari tidak berdekatan, sudah hampir gila. Sekuat tenaga, semalaman dia menahan diri. Tapi pagi ini dibuat bertambah kesal lagi karena reaksi Hania ternyata masih sama. Tidak mau didekati.


"Hoek!" Hania berbalik dan memegang pinggiran wastafel. Rasa mual yang tiba-tiba membuatnya lemas tak berdaya.


"Gue udah jauh, lo masih mual juga. Makin gak beres, nih. Yuk, periksa!" ajak Gaka. Dia berpikir sudah tidak bisa ditoleransi lagi, mungkin ada sesuatu pada Hania. Atau istrinya itu sedang ada gejala sakit aneh.


"Mas ...."


Bruk. Tubuh Hania melemas dan hampir limbung ke lantai kalau saja Gaka tidak tanggap menyanggah tubuhnya.


"Hei, kok, pingsan!? Sayang! Sayang!" Gaka semakin panik begitu menyadari wajah Hania memucat. Dengan lembut menepuk pipi sang istri untuk membangunkan, tapi Hania sama sekali tidak bergerak.


Dia mengangkat tubuh Hania. Hati-hati menggendong sambil menuruni anak tangga. "Pak Arya!" Baru keluar pintu utama, Gaka berteriak keras memanggil supir pribadi.


"Iya, Tuan." Pak Arya menghampiri dengan tergopoh-gopoh. Pria paruh baya itu sedang asik mengopi bersama penjaga pintu gerbang. Begitu mendengar teriakan majikannya, segera dia mendekat.


"Siapkan mobil, antar ke rumah sakit sekarang juga!" Perintah Gaka masih dengan kepanikannya.


"Baik, Tuan." Tak banyak tanya, Pak Arya gegas berlari lagi menuju garasi. Dari melihat Gaka menggendong Hania, dengan keadaan lemas dan tak sadarkan diri, dia pun sudah bisa menduga kalau sedang terjadi sesuatu. Namun, dia tak bisa banyak tanya dalam keadaan genting.


Tiga puluh lima menit kemudian. Di Rumah Sakit Mitra Mulia. Gaka mengikuti perawat mendorong brankar Hania untuk dibawa menuju ruang IGD.

__ADS_1


"Pasien kenapa, Tuan?" tanya salah satu perawat.


"Dia tiba-tiba aja pingsan. Gue gak ngerti," jawab Gaka.


"Baik, Tuan mohon tunggu di luar, biar kami periksa Nona."


Gaka diam saja dengan pandangan melihat Hania masih belum terlihat sadar. Setelah brankar Hania masuk, dia teringat dengan mama dan papanya.


"Halo, Ma."


'Ada apa, Ka? Pagi-pagi udah telepon Mama? Jam enam juga belum ada,' jawab Vara dari seberang telepon.


"Gawat, Ma!"


'Gawat kenapa?'


"Hania pingsan."


'Apa? Istrimu pingsan?' Terdengar Vara sangat terkejut. 'Hania kenapa, Ka?'


"Oh, begitu. Hi hi ... yes, itu kabar bahagia, Ka. Kabar bahagia, sayang," pekik Vara antusias senang.


Gaka sampai menjauhkan ponsel dari telinganya. Lalu melihat layar yang menyala. "Otak Mama agak gimana, sih!? Di kasih tau kabar buruk kok malah bilang yes itu kabar bahagia. Rada'-rada'!" gumamnya.


'Hei, Mama dengar kamu bisik-bisik apa. Kamu malah ngatain Mama begitu!' Vara berubah marah.


"Ya gimana Gaka gak begitu, di kasih kabar Hania pingsan malah bilangnya kabar bahagia. Mama gak tau Gaka hampir nangis gara-gara itu."


'Eh, bukan begitu, sayang. Oke-oke Mama sama Papa susul kamu ke rumah sakit. Jangan sedih, jangan panik, jangan nangis. Mama yakin, istrimu baik-baik aja. Mudah-mudahan dokter kasih kabar bahagia,' ujar Vara lalu mematikan sambungan telepon.


"Kabar bahagia yang kek mana? Orang aneh, sakit, pucat, sampek gak sadarkan diri kok malah ngarepin kabar bahagia. Apa Mama baru bangun tidur makanya gak konek?" Gaka bermonolog sendiri. Pria itu menengok pintu ruang IGD tapi masih tertutup rapat. Semakin cemas menunggu dokter selesai memeriksa Hania. Istrinya terjangkit sakit apa? Berbahaya sampai mengancam nyawa kah? Atau ... tiba-tiba divonis kanker?


"Ya Tuhan." Dia mengusap wajah. Terpejam sejenak, menguatkan hatinya. Jangan! Jangan sampai Hania mengidap penyakit aneh-aneh dan berbahaya.


Tak cetak! Tak Cetak! Gema sepatu Tuan Haru dan high hell Vara menyusuri lorong menuju ruang IGD.

__ADS_1


"Sayang."


"Ma."


"Istrimu masih di dalem, Ka?" tanya Tuan Haru langsung.


"Iya, Pa."


"Gimana?" timpal Vara ikut bertanya.


"Dokter belum keluar, jadi belum ada kabar," jawab Gaka.


"Mama yakin dengan yang tadi, Pa." Vara melihat suaminya.


"Ya, semoga aja, Ma. Tapi sebelum dokter kasih tahu hasilnya, kita jangan berharap terlalu tinggi. Tau-tau mantu kita cuma masuk angin karna digarap Gaka sampek pagi. Bisa aja begitu. Tau sendiri anak kita gimana," balas Tuan Haru.


Vara mencebik. "Mama, sih, yakinnya begitu. Soalnya 'kan persis seperti Mama dulu."


"Mama sama Papa malah diskusi apaan sih? Gak jelas juga udah sampek sini," gerutu Gaka.


Ceklek. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang dokter pria memberikan senyum kepada mereka.


'Dokter aneh! keluar-keluar malah ketawa pula. Gak tau kecemasan gue! Gemes banget pengen gue tonjok!'


"Selamat Tuan ...."


Buk! Gaka yang sudah tidak terkendali melayangkan tinjuan pada dokter itu.


"Rasain! Orang panik malah dikasih ucapan selamat!" marah Gaka.


Dokter yang terhuyung ke belakang itu memegangi ujung bibirnya yang perih.


"Gaka!" bentak Tuan Haru.


"Apa, Pa?! Keadaan kek gini Dokter itu malah ngajakin becanda. Kalau Hania kena sakit parah dan mati, apa diucapin selamat juga, gitu?!" geram Gaka tidak bisa mengontrol kekalutan hatinya.

__ADS_1


"Tuan, jangan salah paham. Tolong dengarkan saya dulu." Dokter tadi menyela. "Maksud saya mengucap selamat itu untuk kandungan Nona."


__ADS_2