
Setelah Pras meninggalkan kantor SAG Grup dengan wajah babak belur. Seantero kantor langsung membicarakan tentang pemecatan secara tiba-tiba bahkan dengan cara tidak hormat. Banyak yang menduga, mungkin si pria genit itu terlibat kasus korupsi, makanya didepak dengan cara mengenaskan.
Mereka berpikir berarti CEO baru mereka lebih menakutkan dari kepemimpinan Tuan Haru. Sebagian dari mereka bergumam tidak akan melakukan kesalahan yang sama, takut dengan konsekuensi yang akan diterima seperti Pras barusan.
Di ruangan Gaka, pria itu duduk di sofa sambil memejam keenakan. Pijatan lembut dari seseorang membuatnya terbang ke dunia halu. Padahal, seorang yang ada di sampingnya terus bergumam sambil sesekali mendengus kesal.
Bagaimana tidak! Beberapa menit lalu mereka berdebat. Hania menyuruh Gaka kembali ke rumah sakit, tapi pria itu menolak mentah-mentah. Dia mau kembali asal Hania ikut bersamanya. Tentu saja Hania menolak, karena dia juga harus melanjutkan jam kerjanya.
"Kalau kek gini bener-bener gak ada bedanya kerja di kantor apa di rumah, sama-sama ngurusi satu orang," ucap Hania.
"Karna mau di sini apa di rumah, bosnya juga tetep gue," jawab Gaka.
Hania memutar bola mata, merasa jengah. Memang benar, di kantor pun Gaka bosnya, tapi maksud Hania kalau di kantor ingin bekerja normal sebagaimana cleaning servis, bukan merangkap pekerjaan yang menjurus pribadi. Akan tetapi, mau bagaimana lagi Gaka tidak mungkin terbantahkan.
"Ganti sebelah sini, nih," perintah Gaka sambil memegang kedua bahunya. Hania menuruti perintah itu.
"Agak turun sedikit deh."
Lagi-lagi Hania menurut.
"Gue ganti tiduran di paha lo ajalah. Perut gue keteken, lama-lama sakit," ujar Gaka.
Hania tidak mengiyakan, tapi mengambil bantal sofa dan menaruhnya di atas paha. "Silahkan, Tuan," ucapnya setengah menyindir.
Gaka langsung membuang bantal sofa hingga terpental ke lantai. "Gak usah pakek bantal, paha lo cukup nyaman buat tiduran."
"Mas! Kamu nyaman, aku yang gak nyaman. Nanti kalau ada yang masuk gimana? Bakal salah paham sama posisi kita," ujar Hania.
"Salah paham juga kenapa, sih? Lo istri gue, bebas aja 'kan? Apa perlu gue umumin sekarang."
__ADS_1
"Gak usah, aku nyaman seperti ini."
Hania terbayang, kebenaran yang akan disampaikan Gaka membuat seluruh pegawai kantor riuh. Pasalnya, dia sama sekali bukan siapa-siapa, bukan orang penting atau manusia sederajat dengan Gaka. Pasti banyak cercaan yang akan diterima. Selain itu, dia hanya seorang cleaning servis lalu menjelma menjadi istri Gaka, pasti banyak yang tidak percaya. Dan justru akan menuduhnya menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan Gaka.
Dia berpikir, untuk sementara biarlah semua begini. Setidaknya sampai Gea ikhlas menerima pernikahannya, dia tidak mau Gea semakin diselimuti kekecewaan. Dia memahami bagaimana perasaan Gea kalau sampai dia yang justru dikenal publik sebagai istri Gaka, padahal itu adalah impian Gea. Tidak! Biarkan saja dulu semua seperti ini.
Sore hari, akhirnya Hania pulang bersama Gaka. Pria itu kekeh pulang ke rumah dan tidak mau kembali ke rumah sakit. Ahli medis yang mengikuti sejak tadi disuruh kembali ke rumah sakit lebih dulu menggunakan mobil lainnya. Bisa dikatakan, Gaka menipu si ahli medis.
Sampai di rumah, keduanya langsung menuju kamar. "Eit!" Gaka menarik lengan baju Hania ketika wanita itu akan masuk ke kamarnya sendiri.
"Udah jadian ini, masa' kamarnya masih kepisah sih," ucapnya.
"Tapi ... aku belum terbiasa, Mas. Risih pasti sekamar sama kamu lagi."
Gaka mengusap wajah. "Ya kalau gak dibiasain, gimana mau jadi biasa. Ayolah ... si junior udah lama puasa gak masuk di itunya. Capek, senam lima jari mulu'!"
"Akh 'kan, kumat polosnya. Eh, polos apa bego' sih. Apa dia bener-bener awam sama fantasi liar," ucap Gaka dalam hati.
"Lo gak mudeng, itu urusan cowok. Dah lah, intinya mulai sekarang kita harus satu kamar." Gaka yang tidak sabar langsung menarik tangan Hania masuk ke kamarnya.
"Mas, aku mau langsung mandi, tapi sabun-sabun ku ada dikamar, aku harus ambil dulu."
"Gak perlu. Biar pelayan nanti yang pindahin."
"Kok nanti?"
"Sekarang kita peluk-pelukan aja dulu." Gaka mengerling sambil tersenyum genit.
"Otakmu ngeres terus, Mas. Mending sekarang bersih-bersih, mandi dan ambil air wudu, kita mengaji. Belajar membaca dan menghapal surah-surah pendek."
__ADS_1
Ough! Gaka menepuk jidat. Benar-benar berada di dua persimpangan. Satu berada di jalur baik, sedangkan satunya di jalur fantasi liar. Mana bisa fokus, sedangkan si junior sudah tegang dari tadi.
Gaka duduk di pinggir ranjang dan terlihat tidak penuh semangat seperti tadi. "Gue ngantuk nih, tidur dulu ajalah," ujarnya sambil pura-pura menguap.
"Setannya mulai bereaksi kalau diajak berbuat baik," gumam Hania lirih melirik Gaka. Detik berikutnya dia tersenyum. "Sayang sekali ya, Mas, kamu ngantuk. Padahal aku ada rencana mau ngajak mandi bareng, setelah itu baru kita belajar mengaji."
Mandi bareng? Gaka yang menunduk langsung mendongak sumringah. Kata 'mandi bareng' membawanya menjurus pada kenikmatan. Ihiiiir ....
"Ah, ngantuk nya ilang. Yuk ah, kalau mau mandi bareng, janji deh nanti mau belajar mengaji."
Hania tersenyum lucu. "Apa musti dikasih iming-iming dulu, baru mau." ucapnya. Tapi Gaka tidak menyahut, pria itu menariknya ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Gaka langsung melepas kaosnya. Hania menunduk karena malu sendiri dan belum terbiasa melihat tubuh pria bertelanjang dada. Tapi, netranya terfokus pada luka Gaka yang ada di perut sebelah kanan. Bagaimana pria itu akan berendam kalau lukanya belum sembuh total.
Kalau Gea, Gaka pasti akan menyerang dengan membabi buta. Tapi Hania? Dia justru bingung harus melakukan dari mana. 'Kok bingung gini! ***! Pakek tiba-tiba malu pula. Kenapa sih sama gue? Gue suhunya begituan, kok jadi lembek gini.'
"Kamu diem dulu, Mas, aku ambil handuk kecil buat menyeka tubuhmu. Kamu gak bisa langsung berendem, lukamu akan basah dan lama lagi sembuhnya."
"Eh, kalau kek gitu gak jadi barengan satu bathtub dong?"
"Mau lukanya cepet kering, enggak? 'Kan udah sama aja mandi bareng."
"Kalau gitu gue juga elap-elap tubuh lo, deh. Itu baru adil."
"Ada aja ide manusia satu ini," gumam Hania sambil menggeleng. Lalu dia pergi keluar lagi untuk mengambil handuk.
Gaka beralih duduk di pinggir bathtub. Pandangannya menerawang, fantasi liarnya berurutan tergambar, seperti melihat video.
"Gue mulai dari mana dulu ya? Atas atau bawah? Ohya, belajarin dia ciuman dulu aja, deh, biar gak kaku banget. Kira-kira cewek minim pengalaman kek dia, suka posisi yang gimana ya?" Gaka terus saja terbayang fantasi liarnya, padahal belum tentu semuanya terealisasi sore itu juga.
__ADS_1