
Tiga hari berlalu.
Pukul enam pagi Hania sudah turun ke jalan, dia memiliki pekerjaan baru yaitu sebagai tukang sapu jalan raya. Pekerjaan itu tidak dikerjakan dengan waktu penuh, hanya pagi dan sore hari saja. Upah dari pekerjaan itu pun dibagi dua dengan seorang ibu yang memiliki pekerjaan tetapnya.
Jam 6.50 Hania harus sudah menyelesaikan semuanya, menyapu sebagian pinggir jalan raya dan nanti akan dilanjutkan oleh ibu-ibu yang lainnya. Sesudah itu pun dia tak memiliki waktu untuk istirahat, harus pergi ke kantor SAG Grup.
Meski lelah, tapi tak mengeluh. Justru aktifitas padat itulah membuatnya lupa dengan kesedihan yang dipendam. Tentang seorang pria yang sampai saat ini tidak tahu kabar juga keberadaanya. Pria yang hanya memberinya harapan palsu.
Abian, pria itu benar-benar seperti ditelan bumi. Menghilang tanpa jejak. Walau sudah satu bulan lebih tanpa kabar, namun hati kecilnya masih mengharapkan takdir indah dari Allah agar mempertemukannya kembali dengan Abian.
"Mbak Hania ...."
"Mas Al." Hania membalas sapaan petugas satpam yang biasanya.
"Sekarang berangkatnya siang terus, ya, Mbak?"
"Iya Mas, saya banyak kerjaan di rumah."
"Boleh tau gak, Mbak, rumahnya dimana?"
Diin din din din diiiiiiiiiiiiiiinn!!!
"Astagfirullah hal'adzim ...." Hania dan Al menutup telinga mereka masing-masing. Suara klakson mobil sport hitam metalik sungguh memekakkan telinga. Mobil itu melewati mereka begitu saja.
"Untung calon CEO, kalau cuma supir udah ku lempar balok kayu!" ucap Al menahan geram.
"Jadi itu mobil Gaka?" tanpa sadar Hania bertanya lirih. "Pantes. Dia memang manusia paling egois," lanjutnya.
"Mbak tanya apa?"
"Enggak enggak! Saya masuk dulu ya, Mas."
"Eh, iya."
Di dalam mobil, Gaka bergumam sendiri. "Pagi buta ganjen-ganjen sama satpam, giliran sama gue sok sadis. Gue yang aneh apa mata dia yang buta gak bisa bedain pria billioner sama pria kelas bawah. Mungkin aja selera dia pria dari kalangan melarat."
Begitu dia keluar dari dalam mobil, Hania lewat tak jauh darinya namun wanita itu cuek dan sama sekali tidak melihat kearahnya. Entah mengapa hal itu seperti ejekan bagi Gaka. Dimana wanita lain selalu terang-terangan memandangi wajahnya, menyambut kedatangannya, tetapi hal itu tidak berlaku bagi Hania. Sikap Hania membuat harga diri Gaka sebagai pria tampan tercabik-cabik, karena baru kali ini ada kaum hawa tidak memujanya.
Gaka semakin kesal kala semua staf berjajar menyambut kedatangannya tapi lagi-lagi Hania tidak peduli dan langsung masuk menuju ruang kebersihan.
Gaka yang geram tidak lagi memikirkan tanggapan karyawan, dia mengikuti wanita itu menuju ruang kebersihan.
"Tuan, kenapa Anda menuju ruang kebersihan?" tanya Lili sekretarisnya. Wanita itu mengekor di belakang Gaka.
__ADS_1
"Apa gue gak boleh keliling kantor?" Gaka bernada sinis.
"Ten-tentu saja boleh, Tuan." Lili tidak berani berkata lagi. Karyawan lain saling berbisik tapi juga tidak berani bertanya ataupun mencegah.
Akhirnya Gaka berhasil mengejar Hania dan menghadang langkah wanita itu. Lagi Gaka menjumput lengan baju Hania dan di geser ke belakang samping pintu.
"Astagfirullah, kamu ngagetin!" seru Hania memegang dadanya.
"Gue ganteng gak?"
"HAH?"
"Gue ganteng gak?" ulang Gaka.
Hania mematung. Bukan hanya Hania yang mematung, Lili ikut terpaku mendengar pertanyaan Gaka. Pertanyaan macam apa itu.
"Semua pria pasti ganteng," jawab Hania melongo. Dia tidak tahu apa maksud Gaka bertanya seperti itu.
Pria itu berbalik dan pergi begitu saja. "Dia ngakuin kalau gue ganteng, berarti emang dia berselera sama yang melarat," gumamnya.
"Tuan!" Lili mengejar langkah Gaka. "Kalau bertanya tentang itu, kenapa tidak bertanya dengan saya saja," ucapnya.
"Gue nyari orang yang jujur," balas Gaka.
"Saya sangat jujur, Tuan. Tuan itu tampan, tampaaaan sekali."
Hania terdiam di depan pintu, sampai tubuh Gaka tak terjangkau dari pandangannya dia masih saja diam. Dia ingat-ingat perkataan Gaka, mencari tahu apa maksud pertanyaan pria itu. Tapi nihil. Dia tetap tidak tahu maksudnya. Dasar aneh.
"Han, lo udah kenal sama calon CEO itu? Kok dia sampek nyemperin gitu?" tanya seseorang yang juga berseragam cleaning servis.
"Emang Lo siapanya sih?" Yang lain ikutan bertanya.
"Saya bukan siapa-siapa, Mbak. Dia cuma bicara singkat, terus pergi gitu aja," kata Hania.
"Kok aneh sih? Berapa bulan Tuan Gaka wara-wiri di kantor, tapi jarang ngomong sama karyawan. Apalagi sama kita-kita yang kalangan bawah. 'Kan aneh."
"Saya pernah bikin Tuan Gaka jatuh, jadi dia ingetin saya buat bayar denda. Gitu kali, tapi saya gak terlalu jelas dengernya, terus dia pergi." Hania memberi alasan bohong. Tidak mungkin dia ceritakan yang sebenarnya.
Karena jam kantor sudah hampir di mulai, Hania meminta izin untuk memulai pekerjaannya.
Di ruangan Gaka, pria itu belum menyentuh lembar-lembar surat penting. Bahkan pekerjaannya belum dimulai. Namun deringan ponsel memecah lamunan.
"Gea?" gumamnya. Ternyata Gea menelpon.
__ADS_1
"Halo?"
'Sayang, besok gue balik ke Surabaya ikut penerbangan pagi. Lo anterin gue, ya.'
"Jadi pulang?" tanya Gaka.
'Jadi. Mama telpon mulu.'
"Satu minggu, Ge. Lama." Gaka mendesau resah.
'Kalau kangen, susul dong ke Surabaya.'
"Gak bisa, kerjaan banyak banget."
'Beh, kek bukan Satrya Higaka banget jawaban lo.' Di seberang Gea terkekeh kecil.
"Gue usahain besok anter. Besok subuh gue ke apartemen lo langsung."
'Ada jadwal nge-dj ya?' Gea hapal dengan rutinitas Gaka, karena beberapa kali pria itu menggedor pintu kamarnya pukul 4 pagi. Dan itu saat Gaka baru pulang dari club.
"Iya," jawab Gaka singkat.
'Ya dah, gue tutup telponnya.'
"Tunggu, Ge!" cegah Gaka.
'Kenapa, baby?'
"Gue ganteng gak?"
'Lo bukan ganteng lagi, tapi cowok paripurna banget. Gantengnya paket lengkap. Emang kenapa?'
"Gak! Tanya aja."
'Kegantengan lo malah sumber ketakutan buat gue, Ka. Gue takut pas lo jauh dari gue, lo ke-goda sama perempuan lain. Gue cinta banget sama lo, Ka. Gue punya harapan indah untuk masa depan hubungan kita."
"Kok melow gini, gue kan cuma tanya pendapat aja."
'Abis lo tanya aneh banget.'
"Masa aneh? Gue cuma tanya aja, kok. Lo gak usah takut dan gak usah mikir yang aneh-aneh. Dahlah, gue kerja dulu, ya."
'Iya, yang semangat ya, baby. Love you.'
__ADS_1
"Too."
Gaka mematikan sambungan telepon. Dia menyadarkan punggung di sandaran kursi. "Kok gue jadi aneh gini. Ngapain tanya-tanya ke mereka gue ganteng enggak. Di lihat dari mana aja muka gue pasti sempurna. Ngapain ngukur selera Maesaroh. Standar Maesaroh emang kalangan bawah."