Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Dendam


__ADS_3

Hari itu memang bertepatan dengan hari libur, namun hari libur kali ini justru berbeda.


Hania termenung seorang diri di dalam kamar karena sejak pergi dari subuh tadi, Gaka belum juga kembali. Ingin menghubungi, tapi ponsel Gaka tertinggal di atas meja.


Hania menghela napas panjang dan mendesah berat. "Kamu kemana, sih, Mas?" Entah keberapa kali pertanyaan itu diucapkan. Hatinya berdebar resah tak karuan. Pasalnya kepergian Gaka kali ini dengan kemarahan dan kekecewaan. Kekecewaan karena keras kepalanya yang terus menerus memaksa sang suami untuk melanjutkan sandiwaranya. Dia gusar dan merasa bersalah untuk hal itu.


Tring, ada pesan masuk dari Gea, lagi-lagi mengirim dua foto. Dia langsung membukanya, dan betapa terkejutnya melihat Gea sedang berpelukan dengan Gaka.


"Mas, ternyata kamu kesana lagi?" gumamnya bertanya pada diri sendiri. Dia yang tadi sudah berhenti menangis, kini air matanya kembali berdesakan keluar.


Dia mencemaskan Gaka, akan tetapi yang dicemaskan justru terlihat santai bersama Gea.


Perasaan macam apa ini? Bukankah semua itu memang keinginannya? Lalu kenapa dia harus menangis dan seolah tersakiti.


Hania menegakkan badan, menghapus sisa air matanya dan beranjak keluar rumah. Di antar Pak Arya, dia ingin datang ke apartemen Gea.


Tok tok ....


Mengetuk pintu beberapa kali sampai terbuka. Dan ternyata yang membuka adalah Gaka. Keduanya bergeming dan bersitatap.


"Kamu di sini, Mas? Sia-sia dari tadi aku mencemaskanmu," ucap Hania lirih.


"Kenapa harus cemas? Bukannya kek gini yang lo mau," jawab Gaka.


"Mas ...."


"Yuk, masuk! Gue, Gea, sama Tante lagi mau makan siang." Perlakuan itu mungkin menyakiti Hania, akan tetapi dia sendiri lebih memendam sakit karena terpaksa melakukan itu.


Maafin gue terpaksa bersikap kek gini sama lo. Gue cuma pengen lo sadar kalau dilanjutkan malah elo sendiri yang akan kesakitan. Harusnya kalau lo emang cinta sama gue, seburuk apapun keadaan Gea, lo gak akan terus-terusan paksa gue.

__ADS_1


Hania menelan ludah bulat-bulat, kenapa sikap Gaka tiba-tiba berubah? Dan perubahan itu ternyata membuatnya lebih sakit.


Kini, meja makan di apartemen Gea bertambah dengan sosok Hania yang duduk kaku melihat Gaka berinteraksi dengan Gea.


"Sayang, boleh minta tolong ambilkan lauknya lagi," pinta Gea pada Gaka. Wanita itu tersenyum sumringah.


"Boleh," balas Gaka tanpa beban.


Hania melirik sendu ke arah mereka. Hatinya tertembus sakit menyaksikan sikap Gaka begitu ramah pada Gea. Ada apa sama kamu, Mas?


Hania hanya bertahan satu jam berada di apartemen Gea, dia yang sudah tidak tahan melihat suaminya bermesraan dengan Gea, lantas meminta izin pulang.


"Lo mau pulang ke rumah?"


Hania terhenti mendengar suara Gaka. "Mas, aku memang menyuruhmu melanjutkan sandirawa di depan Gea, tapi bukan seperti ini, Mas!" Pelupuk matanya sudah kembali menggenang cairan bening.


"Terus mau lo yang gimana? Gue turutin salah, gak gue turutin lo maksa! Gue punya hati, gak suka lo atur lebih dari keinginan gue!" sentak Gaka dengan suara tertahan.


"Maafin aku udah maksa sampai sejauh ini."


"Please, sebenernya gue gak tega. Jadi tolong, jangan paksa gue lagi. Kalau lo cinta sama gue, pertahanin dan akui cinta lo. Jangan mudah meminjamkan cinta lo ke orang lain."


"Gimana sama Gea, Mas?"


"Lo tenang aja, wanita picik itu gak akan mati. Kalaupun mati, anggap aja takdir."


"Mas!"


Gaka tersenyum. "Balik ke rumah, gue sebentar lagi pulang."

__ADS_1


"Boleh aku mampir ke rumah Mama?"


Gaka mengangguk. "Ntar gue susul."


Setelah Hania berlalu, Gaka kembali masuk ke apartemen Gea.


Wanita yang duduk di atas kursi roda itu terus mengembangkan senyum. 'Cara kasar gak bisa, cara halus malah manjur buat hancurin hubungan kalian. Hahaha ... Han Han, lo bodoh banget jadi istri! Siap-siap aja nangis kejer pas Gaka kembali sama Gue. Lo liat sendiri 'kan Gaka perlahan udah mulai baik sama gue. Abis ini, bentar lagi Gaka akan jatuh cinta lagi sama gue. Tanpa paksaan, gue yakin, lo bakal mundur dengan sendirinya. Karena lo itu terlalu lunak dan munafik jadi perempuan.'


Tak lama dari Hania pulang, Gaka juga berpamit pulang. Gea tidak lagi mencegah, yang dia pikir, Gaka dan Hania pasti akan bertengkar hebat.


Setelah Gaka pulang. Gea memanggil ibunya untuk membantu memapahnya ke tempat tidur.


"Ge, apa yang sudah kamu lakuin salah, Nak," ucap Ibu Gina yang membantu anaknya berpindah ke tempat tidur.


"Kalau yang Gea lakuin salah, lalu gimana dengan pengkhianatan Hania dan Gaka, Ma? Hania dulu yang nusuk Gea dari belakang, apa gak lebih kejam Hania daripada aku?"


"Mereka bukan sekedar pacaran, mereka sudah menikah. Coba kamu ikhlaskan, dan cari laki-laki lain. Mama yakin, ada banyak laki-laki yang jauh lebih baik dari Gaka. Kalau mereka salah, Tuhan pasti akan menghukum mereka."


Ibu Gina mengelus punggung tangan putrinya. Dia berharap putrinya bisa luluh.


Beberapa hari lalu, Ibu Gina tidak sengaja mendengar percakapan Gea dengan seseorang lewat sambungan telepon. Dan dari percakapan itulah dia tahu kalau putrinya ternyata hanya berpura-pura amnesia. Pada saat itu Dia langsung menegur, tapi Gea tidak menghiraukan tegurannya sama sekali. Gea merasa apa yang dilakukan sudah benar, dia ingin merebut Gaka dari Hania karena memang dari awal Gaka adalah miliknya.


"Ini bukan sekedar cinta atau laki-laki lain, Ma, Gea lakuin ini hanya untuk balas dendam. Gea sakit hati sama mereka. Gaka pria bejat yang seenaknya buang Gea seperti sampah, sedangkan Hania, dia teman baik yang ternyata munafik. Gea cuma ingin menghancurkan mereka, buat hubungan mereka hancur biar dari mereka rasain apa yang Gea rasain." Gea mencengkram ujung sprei dengan kuat. Bukti amarahnya yang besar.


"Memelihara dendam sama sekali tidak baik, Ge. Coba perlahan lupakan sakit hati dan lanjutkan saja hidupmu. Andai kamu sadar dengan keadaan, kamu akan berpikir Allah sudah menegur lewat musibah kecelakaan. Hentikan ya, Nak, Mama mohon hentikan dendam mu. Kita kembali saja ke Surabaya dan menata hidup dari awal. Mama yakin, kamu akan lebih mendapat kebahagiaan."


"Hentikan!?" Gea mendengus kesal. "Udah sejauh ini, Gea akan berhenti kalau mereka sudah berpisah dan hancur. Saat itu tiba, baru Gea akan senang hati kembali ke Surabaya. Bahkan Gea kecelakaan juga karna mereka, gak semudah itu Gea mengikhlaskan mereka. Setidaknya mereka harus membayar apa yang dilakukan padaku."


Ibu Gina menunduk dan memijat pelipis. Pusing dengan dendam putrinya, sekaligus pusing dengan keadaan yang ada. Dia paham kesakitan Gea atas pengkhianatan Gaka dan Hania, namun dia sama sekali tidak mendukung balas dendam Gea. Dia ingin Gea melupakan yang terjadi dan memulai kehidupannya dari awal.

__ADS_1


__ADS_2