
Weekend happy telah tiba. Hania sudah sibuk sedari subuh tadi, tapi manusia egois bernama Gaka masih terbuai dalam mimpi indah meski penanda waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi.
Pria bertubuh kekar dan atletis itu hanya menggeliat-liat saja di atas kasur. Sudah berapa kali Hania membangunkannya, tapi Gaka tidak menggubris.
"Ini hari libur. Gue mau tidur sepuasnya. Jangan ganggu deh," gumam Gaka berkali-kali.
"Tidur pagi itu gak sehat buat tubuh. Seenggaknya bangun dulu dan mandi, udah itu kalau mau tidur lagi tunggu sampek jam sebelas nanti," ujar Hania.
"Ah, bawel. Diem gih!" Gaka menaruh jari telunjuk di depan bibir, memberi kode agar Hania berhenti bersuara.
"Oke aku diem. Aku juga mau pergi. Jadi terserah kamu."
Mendengar itu Gaka mengintip Hania yang duduk di meja rias. Wanita itu ternyata sedang berhias.
Gaka meloncat bangun. "Lo mau kemana?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Di ajak jalan-jalan ke butik Mama."
"Ck. Apaan sih, kok, Mama bikin acara sendiri." Gaka berdecak.
"Batalin. Lo gak boleh pergi!"
"Kenapa? Aku cuma pergi sama Mama."
"Batalin."
"Gak mau!"
"Batalin!"
"Gak mau!!!"
"Batalin Maesaroh!!!"
"Enggak!!!"
Tok ... tok ...!
"Gaka! Hania! Mama boleh masuk?" Suara Vara dari luar pintu.
"Iya, Ma," jawab Hania berjalan ke arah pintu.
Belum-belum Vara sudah memasang wajah sedih. Dia mengelus lengan Hania lembut. "Sayang, maaf, jalan-jalannya harus di undur. Rekan bisnis papa meninggal, kami harus menghadiri pemakamannya. Maaf ya," ujar Vara.
"Oh, gak pa-pa, Ma. Gak pa-pa. Hania bisa jalan-jalan sendiri."
"Eh, kamu mau kemana? Mama takut kalau kamu pergi sendiri." Vara tampak tidak setuju.
__ADS_1
"Hari masih pagi, Ma. Hania gak akan kesasar. Lagian, cuma mau main ke kos-kosan lama. Kangen sama orang-orang di sana."
"Harus di antar supir ya sayang."
"Iya, Ma."
"Ck ck ck! Udah langganan dia susah bangun. Beruntung Mama udah pensiun bangunin Gaka. Mama serahin tugas itu sama kamu, Han." Vara melirik Gaka yang tengkurap di atas kasur sedang bergulung dengan bedcover tebal. Ibu paruh baya itu menggeleng sambil terkekeh.
"Mau tau cara ampuh bangunin dia?" bisik Vara. "Siram pakek air segayung. Hi hi ...."
Hania tertawa lucu dengan mama mertuanya.
"Gaka udah bangun, Ma." Gaka menyahut.
"Kirain masih molor. Dah, Mama mau pergi. Kamu nanti hati-hati, ya, Han."
"Iya, Ma. Mama dan Papa juga hati-hati," balas Hania.
Vara keluar dari kamar, saat menoleh ternyata Gaka sudah duduk lagi di tepi ranjang.
"Gue yang anter lo."
"Gak usah, aku bisa naik ojek."
"Kenapa nolak, lo ada janji sama pria melarat itu?" tuduh Gaka.
Glek !
Gaka terdiam. Dia melupakan janji itu, tapi Hania yang malah mengingatkannya.
"Aku bingung sama kamu. Kamu nuduh aku janjian sama pria lain, padahal kamu sendiri yang ada janji sama wanita lain."
Aku tau statusku adalah istrimu, Mas, tapi kamu gak bisa membatasi ku berteman dengan pria siapapun. Karena aku juga tidak membatasi apapun darimu. Aku tidak menuntut apapun darimu."
Gaka terhenyak mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hania. Dia diam, tidak bisa menjawab ataupun membantah. Bahkan ketika Hania berjalan keluar kamar dia juga tak bisa mencegah.
~
"Janjian jam sepuluh, datengnya jam setengah dua belas. Pasti molor!" omel Gea ketika membuka pintu dan mendapati Gaka berdiri di sana.
Pria memakai kaos putih dan topi hitam merangsek maju dan langsung menyerang bibir Gea. Pelampiasan rasa kesalnya karena terus terngiang kalimat yang diucapkan Hania.
Duuk!!!
"Akh' sialan!" umpat Gaka.
Gea mendorong tubuh Gaka hingga terbentur tembok. "Lakuin pelan-pelan, Ka. Sakit!" pekiknya. Dia mengusap bibirnya yang bengkak karena Gaka mencium bibirnya dengan kasar.
__ADS_1
"Sorry, Ge." Gaka tersadar dan ikut mengusap bibir Gea pelan. "Sorry," ucapnya lagi.
"Lo kenapa?! lagi ada masalah?" tebak Gea. Kebersamaanya sudah lama, dia sangat hapal dengan sikap Gaka yang memang memiliki tempramen tinggi.
"Enggak. Gue cuma tertekan aja sama kerjaan gue. Sangat berat," bohong Gaka. Dia menggenggam tangan Gea dan mengajaknya duduk di sofa.
"Gue kira ada tekanan lagi dari bokap nyokap lo." Gea menghendikan bahu. "Mau seneng-seneng atau mau langsung cabut?" tawarnya.
"Udah beberapa hari junior gue tidur. Keknya kita main dulu. Lo kudu muasin gue." Gaka tersenyum miring dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Okelah." Gea tersenyum senang. "Tapi jangan cium bibir gue. Masih sakit."
"Lo yang ambil permainan, sayang. Lo lakuin apapun yang lo mau."
Gea beralih duduk di atas pangkuan Gaka. Dia mulai meraba dada bidang Gaka hingga ke bawah. Deru napasnya bermain di sekitar telinga dan leher Gaka, sampai pria itu mendesah dalam posisi terpejam.
Dalam terpejam kening Gaka mengernyit. Sentuhan dan harum ini bukanlah yang dia inginkan. Sekuat tenaga dia fokus untuk sebuah puncak kenikmatan tapi tubuhnya tetap tidak menginginkan itu.
"Sayang, kenapa lo diem aja? Junior lo juga gak sebuas biasanya," bisik Gea keheranan.
"Damn it!" umpat Gaka kesal. Dia menarik tangan Gea yang bertengger di atas juniornya. "Bangsat emang!"
"Ka, lo kenapa, sih?"
"Sorry, gue gak fokus." Gaka membenarkan pakaiannya yang berantakan. Lalu duduk dengan tegap. Dia juga menurunkan Gea ke kursi samping.
"Lo aneh," gumam Gea. Dia juga membenarkan blouse nya yang tersingkap.
"Lain kali kita akan lakuin adegan yang lebih panas."
"Gue pengennya sekarang. Gue kangen lo, Ka."
"Gue lagi banyak pikiran. Kita santai-santai aja. Gue pengen tidur di pangkuan lo." Pria itu sudah memposisikan kepalanya di atas paha Gea.
"Okelah." Gea hanya duduk diam dengan memainkan helaian rambut Gaka.
~
Tak ada tempat istimewa yang dituju. Dia hanya duduk di bawah pohon besar yang ada di taman kota. Membunuh waktu yang terasa menjenuhkan.
Netranya awas melihat banyaknya pengunjung taman. Sesekali ikut tertawa kecil melihat anak-anak berkerumun sedang bermain bola.
Ingatannya kembali pada masa silam. Di mana dia pernah merasakan kebahagiaan itu sewaktu umurnya hampir sama dengan anak-anak itu. Banyak agenda indah yang ingin dilakukan jika sudah dewasa kelak. Akan tetapi nasib memang tidak ada yang tahu. Kini nasibnya justru tidak menentu. Masih abu-abu.
Pada saat malam itu. Sentuhan lembut dan perhatian yang diberikan, membuatnya hampir luluh dalam pesona seorang Gaka. Dia takut terbelit dalam perasaanya sendiri. Padahal sejak awal dia tahu pria itu milik sahabatnya. Untuk itu jiwanya serasa terombang-ambing dalam permainan takdir.
Dia menangkup wajah dengan telapak tangan. Meminta pada Tuhan untuk merubah takdir. Dia ingin menjalani hidup tanpa bayang siapapun. Dia ingin terbebas dari keadaan pelik saat ini.
__ADS_1