Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Mereka Tidak Sebanding Denganku.


__ADS_3

Baak buuk baak buukk!!!


"Au' auh ... stop!" teriak Gaka.


"Kamu bener-bener bikin aku malu di depan Mama dan Papa, Mas. Kenapa kamu asal bicara di depan mereka. Padahal kita gak pernah ngelakuin itu." Hania mengomel sambil terus memukul Gaka dengan bantal sofa.


"Apa setelah ini lo mau ngelakuin itu sama gue?" ujar Gaka.


Hania berhenti seketika. "Apa? Coba ulangi sekali lagi kamu bicara apa?"


"Apa setelah ini lo mau ngelakuin itu sama gue?"


"Satrya Higaka!!!" Hania memekik dan kembali memukuli tubuh Gaka membabi buta. "Berani kamu lakuin itu, langkahi dulu ketidakberdayaan ku!"


"Au' stop, Maesaroh! Stop!"


"Aku Hania, bukan Maesaroh!"


"Kalau gak mau berhenti, gue bakal serang balik!" ancam Gaka.


"Mau nyerang? Ayo, serang!" tantang Hania. Dia sangat kesal.


Gaka merebut bantal sofa dan mulai beraksi. "Rasain pembalasan gue!"


"Ha ha ... cu-rang! Ha ha ... au' geli, Mas. Kamu curang! Jangan gelitiki aku! Geli!" Hania tak bisa menahan tawa ketika Gaka menggelitik pinggangnya.


"Mas, berhenti! Ha ha ha ...."


"Gue gak akan berhenti sebelum lo nyerah." Gaka tersenyum lebar, sangat puas dengan apa yang dilakukan.


"Iya aku nyerah, Mas."


"Ampun, gak?"


"Iya, ampun! Ha ha ha ...."


Bruk ....


Hania tersandung ujung meja hingga tubuhnya terjatuh. Naas, Gaka juga ikut terjatuh. Tubuhnya menimpa tepat di atas tubuh Hania. Napas mereka memburu karena gerakan mereka tadi. Keduanya saling membingkai wajah satu sama lain.


'Harum ini? Gue sangat suka sama harum parfum ini.' batin Gaka.


'Masya Allah, indah dan sempurna sekali makhluk ciptaan-Mu ini Tuhan.' batin Hania.

__ADS_1


Gaka terbuai, dia justru mendekatkan wajahnya untuk merasai bibir tipis Hania. Hania sendiri memejamkan mata dengan erat. Tahu mendapat lampu hijau, Gaka semakin berani menempelkan bibirnya untuk sesaat. Tak ada perlawanan, lagi-lagi dia semakin berani dengan aksinya. Kali ini dia menggigit kecil bibir Hania, hingga wanita itu terkejut dan tanpa sadar justru membuka mulutnya. Gaka gencar membelitkan lidah hingga mereka bertukar saliva. Aksi itu baru berhenti ketika Hania hampir kehabisan napas.


Gaka memberi jeda sebentar dan kembali mencium bibir Hania. Tangan yang sudah lihai tidak mau ketinggalan peran, perlahan menyusup ke dalam kemeja Hania.


Hania yang merasakan sentuhan tangan Gaka langsung membuka mata. "Ehem ... berhenti!" Hania mendorong pelan tubuh Gaka. Dia beralih duduk dengan tegap. Menunduk untuk menyembunyikan rasa malu. Pipi nya terasa memanas, mungkin wajahnya berubah merah merona.


Gaka duduk lemas di samping Hania. Saat ini junior yang tersembunyi di balik celana sudah berontak ingin keluar, tapi lawan mainnya justru meminta berhenti. '******! Gue udah nafsu banget malah disuruh berhenti, sih. Gimana nasib junior gue.'


"Jangan lakuin itu lagi, Mas." Hania memberi peringatan. "Cukup malam itu dan saat ini aja. Jangan ulangi lagi."


"Malam itu? Berarti malam itu lo sadar gue cium lo?"


Hania tidak berani menatap Gaka. Rasanya sangat malu. Dia tidak menjawab dan tidak juga mengangguk.


Gaka mendongak menatap langit-langit kamar. Bibirnya tersenyum dan perasaanya membuncah. Bisa mencium bibir Hania saja membuatnya senang dan bangga.


Bahkan ciuman singkat barusan mampu membangunkan si junior yang sudah beberapa hari pensiun. Birahinya memuncak dan sangat ingin melanjutkan sampai ke puncak kenikmatan.


"Jangan berhenti di jalan. Sesuatu di dalam celana udah tegak. Bakal susah buat dia tidur lagi. Jangan siksa gue," ucap Gaka dengan pandangan berkabut.


"Kamu bilang apa, Mas? Berani lakuin lebih dari ini, aku bakal kasih kamu hadiah racun!" ancam Hania. Dia bangkit dan menjauh dari Gaka.


Gaka terbelalak. "Lo mau bunuh suami lo sendiri?"


"Gak masalah karna suamiku sendiri yang membuatku terancam."


"Jadi seperti ini kamu memperlakukan wanita, pantas mereka bertekuk lutut padamu. Bahkan rela melemparkan tubuhnya di hadapanmu."


"Kenapa? Lo juga klepek-klepek, ya?"


Hania membuang pandangan. "Tolong jangan lakuin itu lagi. Perlakuan mu membuatku tidak ada bedanya dengan wanita-wanita mu. Jangan samakan aku dengan mereka. Mereka tidak sebanding denganku."


"Gue juga gak anggep lo seperti mereka. Lo emang beda."


"Maka dari itu, jangan menyentuhku kalau kamu masih menyentuh yang bukan halal bagimu."


~


Hari ini Gaka mengajak Hania untuk pindah ke rumah baru mereka. Orang kaya, apapun bisa terpenuhi dalam kedipan mata. Padahal baru semalam Gaka meminta izin untuk menempati rumah sendiri, dan pagi ini sudah langsung terealisasi. Luar biasa.


Hanya Vara yang menghantar perpindahan mereka, sedangkan Tuan Haru harus ke kantor untuk menggantikan pekerjaan Gaka.


Hania menatap kagum bangunan yang akan ditinggali. Memang bangunan itu tidak seluas dan sebesar milik orang tua suaminya, tapi rumah itu juga sangat indah dan asri.

__ADS_1


Ketika masuk ke dalam, ternyata semua perabot sudah ada, bahkan sudah sangat lengkap. Bukan itu saja, di rumah itu ternyata sudah ada tiga pelayan.


"Lo suka, gak?" Gaka menjatuhkan tubuh di atas sofa.


"Sangat suka." Hania masih meneliti setiap celah bangunan. Dia berjalan menuju figura yang terpajang di dinding. "Ternyata dari kecil kamu sudah terlihat angkuh, ya, Mas," ujarnya sambil tersenyum.


"Mau gimana lagi, itu udah bawaan dari lahir," jawab Gaka acuh.


"Kenapa kamu minta kita pindah rumah? Rumah orang tuamu sangat besar, Mas, cukup menampung kita."


"Gue gak tega liat lo tidur di sofa terus. Di sini lo bisa pilih kamar yang lo sukai. Bebas."


Deg


Hania terdiam. Benarkah itu alasannya? Sejak kapan Gaka menjadi perhatian.


"Semua barang udah disimpan ke kamar kalian. Jangan masuk kamar dulu sebelum kepala pelayan keluar, ya." Tiba-tiba Vara muncul dari ruang keluarga.


"Kenapa gak boleh masuk, Ma?" Gaka mengernyit.


"Lagi nyiapin kejutan." Vara tersenyum dengan menaik turunkan kedua alisnya.


"Wah, Mama top banget, deh." Gaka mengacungkan kedua ibu jari ke arah Vara. Memberi apresiasi atas ide mamanya.


"Siapa dulu ... Mama." Vara membanggakan diri.


Hania tersenyum. Kini dia tahu dari mana sikap Gaka yang sering membanggakan diri, mungkin saja ada turunan dari Vara.


Seperti pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Itu memang benar. Tapi masih menjadi misteri untuk sikap buruk Gaka, entah sikap itu turunan atau tuntutan dari siapa. Karena kedua orang tua Gaka sangat baik.


"Ma, Mama langsung pulang aja, deh. Biar Gaka bisa langsung gaspol."


Vara membelalak. "Kamu ngusir Mama?"


"Ya elah, mau cepet dapet cucu gak?"


"Mau," jawab Vara cepat.


"Makanya kasih kami waktu berdua."


"Oh, baiklah baiklah. Kalau gitu Mama pulang sekarang," ujar Vara.


"Ma, jangan dengerin omongan dia. Kita makan siang bersama dulu." Hania melirik suaminya dengan kesal. Lalu memasang senyum kepada mama mertuanya.

__ADS_1


"Enggak, Han. Bener kata suamimu, mumpung kalian ada waktu senggang, gaspol aja biar cepet kasih kabar baik. Mama juga mau mampir ke Butik. Jadi pergi sekarang aja."


Hania tidak bisa lagi berkata, dia hanya mengangguk dan membiarkan Vara pamit pulang.


__ADS_2