
"Sial! Bagaimana dia bisa tau kalau gue kirim begituan sih." Gaka membanting pintu mobil untuk meluapkan rasa kesal atas ucapan Hania tadi. Sebenarnya bukan seratus persen karena kesal, lebih ke rasa malu juga. 'Kan gengsi kalau ketahuan.
Sebelum Gaka menghidupkan mesin mobil, ponsel dalam saku celana jeans-nya berdering.
"Halo, pa?"
'Satrya Higaka, ratusan kali orang tuamu ini menelpon, tapi nggak pernah tersambung. Kalau kesabaran papa sudah habis, papa benar-benar akan mencoret nama kamu dari kartu keluarga!'
Gaka menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Tuan Haru lebih kencang dari klakson fuso dan lebih cetar dari suara petir.
'Gaka!'
"Iya, Pa, Gaka di sini."
'Sayang, anak mama yang paling tampan dan mendekati sempurna, mama sangat merindukanmu, Nak.' Kali ini terdengar suara seorang wanita yang melahirkan Gaka ke dunia.
"Gaka juga merindukan Mama. Love you," balas Gaka.
Ya, dengan ibunya Gaka memang lebih dekat dan selalu bersikap manja, bahkan ibunya juga yang selalu membantu meluluhkan hati Tuan Satrya Haruja ketika Gaka menginginkan sesuatu.
'Tunggu beberapa jam lagi kita akan bertemu, sayang.'
"Maksud Mama?"
'Mama dan Papa sudah bersiap ke Surabaya. Kita mencemaskan mu karna kamu sulit dihubungi.'
'Siapa yang mencemaskan bocah itu, Ma. Papa nggak peduli, kita ke Surabaya memang ada perlu.' Suara Tuan Haru masih bisa di dengar oleh Gaka.
"Ma, bilangin Papa jangan marah-marah terus, bikin anak mengurungkan niat untuk rindu dengan papanya."
Vara terkekeh. 'Iya, nanti Mama sampein. Gaka, nomernya diaktifin terus ya, nanti kamu harus jemput kami di bandara.'
"Iya, Ma."
'Ya dah, sampai ketemu nanti, sayang."
'Ma, Papa belum selesai bicara dengan anak itu.'
'Papa bicaranya nanti aja. Kita nanti ketinggalan pesawat.'
Suara papa dan mamanya masih terdengar, tetapi Gaka tidak berniat melanjutkan obrolan. Dia harus menemui Gea, sebelum nanti menjemput kedua orang tuanya.
~
Pukul tiga sore Vara menghubungi Gaka untuk menjemput di bandara. Dia yang lagi asyik bersama Gea harus terganggu.
"Mama udah telpon, gue harus ke bandara sekarang," ujar Gaka yang masih berpelukan mesra dengan Gea.
"Gue ikut ya. Selama kita berhubungan, lo belum pernah ngenalin gue sama bokap nyokap lo, Ka. Siapa tau setelah ketemu terus langsung direstui dan kita bisa langsung nikah." Bayangan Gea seperti itu.
__ADS_1
"Bayangan lo jauh banget, Ge."
"Ishht, jauh gimana? Semua juga pasti bayangin begitu, harepin itu. Hubungan kita udah lama, dan udah sejauh ini, apa lo nggak kepikiran buat kita nikah?"
"Ya ada, tapi nggak sekarang. Kita nikmati waktu dulu."
"Lo nggak ada niat cuma main-main 'kan? Kita udah sejauh ini, Ka."
"Mikir apa sih, Ge."
Keduanya saling bertatapan.
"Gue takut lo cuma main-main. Lo cuma anggap gue kesenangan sesaat dan nggak ada niatan buat nikahin gue."
"Hei ... omongan lo udah nggak bener, Ge. Itu asumsi yang sangat buruk. Lo tau cinta gue cuma lo, tubuh ini bereaksi cuma sama lo. Gak ada pikiran begitu, lo yang utama, Ge."
"Gue punya ketakutan, Ka. Kalau emang omongan lo benar, ijinin gue ikut jemput ke bandara."
Gaka menghela napas panjang. "Oke."
Gea yang tadi sempat kesal kini berubah tersenyum manis. Dia memberi kecupan singkat di bibir sang kekasih, lalu mengerlingkan sebelah mata.
"Jangan pancing adik gue berdiri, kita nggak ada waktu buat bertempur."
Gea tersenyum jahil dan berlalu ke kamar mandi. Gaka juga menjumputi pakaiannya dan segera bersiap untuk menjemput orang tuanya di bandara.
"Ma, Pa!" Gaka berteriak memanggil kedua orang tuanya.
Setelah mendekat, Vara langsung memeluk putranya. "Mama sangat merindukanmu, Nak. Jangan kabur-kabur lagi."
"Apa sih, Ma, Gaka kabur buat hindari Papa."
"Mau kabur ke lubang ular sekalipun Papa bisa menemukanmu," ucap Tuan Haru.
"Ini baru ketemu begini lagi. Yang akur sebentar aja biar Mama nggak pusing," ujar Vara melerai.
"Gaka, itu siapa?" Vara berbisik pelan menanyakan keberadaan Gea. Tuan Haru sendiri acuh tak acuh melihat putranya datang bersama seorang wanita.
"Kenalin, dia pacar Gaka."
Ketika Gaka memperkenalkannya, Gea maju dan mengusungkan tangan untuk menjabat tangan Vara. Vara menerima jabatan itu dengan raut tak ramah.
Menurut Vara, Gea terlihat seperti wanita panggilan. Baju yang dikenakan sangat tidak sopan, memakai t-shir ketat dengan potongan lengan pendek, belum lagi rok mini yang digunakan jauh di atas lutut. Vara bahkan malu melihat style wanita muda yang menjadi pacar anaknya.
Vara menyadari Gaka bukanlah pria alim, tetapi tak ingin juga anaknya berpacaran dengan wanita seperti Gea.
Vara bahkan mempunyai angan untuk mencarikan istri baik-baik untuk Gaka, istri yang bisa menuntun anaknya agar lebih baik. Namun sampai saat ini belum menemukan wanita yang cocok.
"Pa, ini Gea ...."
__ADS_1
"Papa sudah tau," sahut Tuan Haru cepat dan tegas.
Melihat sikap Tuan Haru dan Vara, membuat Gea menahan kekecewaan. Terlihat sekali kalau kedua orang tua Gaka tidak menyukainya. Kepercayaan dirinya runtuh, bahkan dia hampir menangis.
Gaka merangkul bahu Gea dan mengusapnya lembut. "Mama dan papaku memang pelit ekspresi, mereka jarang tersenyum." Dia berkata seperti itu untuk menghibur Gea.
~
"Han, aku sedih banget, tadi ketemu mama papanya Gaka. Tapi respon mereka kek gak suka gitu sama aku. Hua ... sad banget, Han." Gea curhat melalui via telepon.
"Jangan menilai buruk dulu, Ge, mungkin orang tua pacarmu memang memiliki sikap kurang ramah. Kurang ramah sama nggak suka itu beda, Ge," ujar Hania menanggapi.
"Apa memang begitu ya, Han? Gaka juga bilangnya gitu, tapi aku kok menilainya lain. Dari tatapannya itu kelihatan banget mereka gak suka."
"Lebih baik berpikir positif, Ge. Mungkin kedua orang tua pacarmu sedang kesal dengan anaknya dan kamu ikut kebawa-bawa. Kalau pacarmu cinta, kedua orang tuanya pasti suka."
"Aku takut, Han. Takut mereka nggak merestui."
"Berdoa, semoga apa yang kamu pikirkan tidak terjadi."
Meski mendapat kata menghibur dari sahabatnya, tak membuat Gea merasa lega. Dia masih dihantui kecemasan.
~
Vara mengajak Tuan Haru menginap di hotel yang sama dengan Gaka. Mereka menyewa kamar tepat bersebelahan. Dan malam ini Vara mengajak Gaka untuk makan malam bersama.
"Mama dan papa berapa hari di sini?" Gaka memastikan karena ingin bebas dari pantauan orang tuanya.
"Papa ijin cuti 2 hari," jawab Vara.
Yesss. Batin Gaka.
"Papa kembali ke sini karna ingin menemui Bu Mirna, kemarin dia menolak lagi uang kompensasi yang papa kirimkan."
"Ya bagus dong, Pah. Papa nggak harus keluarin uang. 'Kan mereka yang menolak."
"Gaka! Apa kamu tidak merasa bersalah sama sekali? Uang yang kita berikan tidak sebanding untuk mengganti rasa kehilangan mereka. Apalagi mereka bukan dari kalangan berada, Papa cuma ingin membantu sedikit kesulitan mereka."
"Yang dikatakan papamu benar, Nak. Apa yang kita beri gak sebanding dengan kesedihan mereka." Vara menimpali.
"Terserah Mama dan Papa ajalah." Gaka malas beradu argumen lagi.
"Besok kamu harus ikut kami berkunjung ke rumah Bu Mirna. Kamu belum meminta maaf dengan benar."
"Apa sih, Pa. Gaka nggak ada hubungan lagi. Males juga ikut kesana."
"Kamu harus ikut, Gaka! Papa gak mau tau! Cobalah jadi manusia bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab, dikira hamilin anak gadis orang harus tanggung jawab." Gaka menggerutu.
__ADS_1