Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Menyakitkan


__ADS_3

"Mas, bangun! Udah jam enam, nanti kamu telat berangkat ke kantor." Hania menggoyangkan bahu atas pria yang sedang terlelap itu.


"Diem!!!" ujar Gaka sambil mengibaskan tangan ke udara untuk mengusir Hania.


"Mas, ada telpon tuh dari Gea," ucap Hania melirik ponsel di atas meja yang sedang berdering. Dia tahu siapa yang mengubungi suaminya sepagi itu, adalah sahabatnya karena tertera nama 'Gea' di sana.


"Angkat dan aktifin pengeras suaranya," perintah Gaka tanpa membuka mata. Bahkan pria itu juga tidak merubah posisi.


Hania menghela napas dan melakukan yang diperintah Gaka.


'Sayang, lo kemana aja, sih? Sekarang susah banget hubungi lo. Gue ngerasa lo berubah, Ka. Bahkan beda banget sama Gaka yang gue kenal dulu.'


"Apa sih, Ge, pagi-pagi bicara gak jelas, ngelantur aja."


'Gue bicara serius dan lo anggep gue ngelantur! Gue gak yakin lo masih cinta sama gue. Lo berubah banget! Lo juga udah jarang sentuh tubuh gue, jarang ***** sama gue. Lo tega gini sama gue, Ka!'


Meski matanya terpejam, namun Gaka meremas ujung bantal dengan kuat. "Gue gak berubah, Ge, gue masih Gaka yang lo kenal. Gaka yang cinta banget sama lo. Gaka yang cuma ***** sama tubuh lo. Jangan berpikir aneh. Malam nanti gue nginep tempat lo."


Deg ....


Tanpa sadar Hania menggenggam erat ponsel yang ada di tangannya. Ucapan Gaka membuktikan bahwa pernikahan mereka bukanlah hubungan yang agung. Mungkin bagi Gaka sendiri pernikahan itu tidak memiliki arti sama sekali.



Sepulang dari kantor sudah ada supir pribadi yang menjemput Hania di tempat biasa wanita itu menunggu.


"Pak, mampir dulu ke supermaket, ya," perintah Hania.


"Iya, Nona."


"Mbak, aja, Pak, panggil saya, Mbak."


Pria yang ada dibalik kemudi itu menggaruk leher belakang. "Saya gak berani lancang dengan memanggil 'mbak'. Anda majikan saya."

__ADS_1


"Bersikap biasa aja, Pak. Saya lebih senang Bapak bersikap biasa."


"Baik, Mbak."


Mobil yang ditumpangi mulai melambat dan memasuki halaman parkir. Hania hampir membuka pintu mobil, tapi diurungkan ketika melihat Gaka berjalan keluar bersama Gea. Meski Gaka sudah berganti dengan pakaian casual dan mengenakan topi juga masker tapi Hania tahu betul itu adalah Gaka.


"Itu Tuan Gaka, Mbak," ujar supir yang bernama Pak Arya. Menunjuk titik yang sama dengan yang diperhatikan Hania.


"Iya, Pak," jawab Hania dengan getir. Beberapa saat Hania berdebar karena Gaka dan Gea berjalan menuju mobil yang ditumpangi. Apakah mereka tahu dan akan menemuinya? Bagaimana dengan Gea? Apa yang akan dijelaskan dengan sahabatnya itu tentang supir dan mobil yang ditumpangi.


Tapi, akhirnya bisa berembus napas panjang ketika Gaka ternyata menuju mobil yang terparkir tak jauh dari mobilnya.


Hania kembali tersenyum getir tentang takdir hidupnya. Suami dan sahabatnya terlihat sangat bahagia, sedangkan dia begitu sulit mengubur masa lalu yang baru saja terkuak.


Di depan mata, dia melihat keduanya berciuman di dalam mobil. Hania memejamkan mata sejenak untuk menenangkan diri. Dia tidak mengerti, kenapa hatinya terasa sakit.



Dia buru-buru menghabiskan makanannya dan pergi ke kamarnya. Ingin tidur lebih awal supaya tidak membayangkan hal-hal yang tidak penting.


Tapi baru saja beranjak berdiri, dia mendapati bel rumah berbunyi. "Bi, biar aku aja yang buka," ujar Hania. Dia sempat berpikir, bahwa itu adalah Gaka, tapi kenapa harus membunyikan bel rumah. Biasanya pria itu langsung masuk, atau menggedor pintu.


Ceklek ....


Hania terhenyak di depan pintu. "Mas Abian, kenapa kamu bisa ada di sini? Maaf, Mas, Mas Gaka gak ada di rumah, aku gak bisa mempersilahkan kamu masuk."


Abian mengangguk. "Aku tadi melihat Gaka dan Gea masuk ke apartemen bersama. Mereka berdua ada di satu ruangan, kita pasti tahu apa yang dilakukan Gaka terhadap Gea. Han, aku bingung, sebenarnya apa alasan kamu menikah dengan Gaka? Sedangkan Gaka masih menjalin hubungan dengan perempuan lain."


"Mas, apa kamu datang hanya untuk mengatakan ini?"


Abian mengangguk.


"Aku tahu malam ini Mas Gaka bersama Gea, aku juga tahu apa yang mereka lakukan. Tapi itu bukan hak ku untuk melarang. Aku juga tidak bisa menjelaskan alasanku menerima pernikahan ini. Tolong Mas, jangan ikut campur."

__ADS_1


Abian melebarkan bola mata, sangat terkejut mendengar perkataan Hania. Bahkan wanita itu mengetahui perselingkuhan suaminya. Dia semakin tidak mengerti dengan hubungan mereka.


"Bagaimana aku gak ikut campur. Kamu wanita berharga yang ingin sekali aku miliki, sangat beruntung Gaka bisa menikahi mu tapi sayangnya pria bodoh itu malah menyia-nyiakanmu. Aku bisa menduga pernikahan apa yang sedang kamu jalani.


Han, berpisah lah, kamu sangat berharga untuk direndahkan seperti ini. Terima aku kembali dan aku akan membahagiakan mu. Walau fisikku sudah tidak sempurna, tapi perasaanku masih sempurna untukmu."


Hania menunduk dengan bahu bergetar. Dia terisak sesak mendengar setiap kalimat yang diucapkan Abian. Sesungguhnya rasa itu masih ada untuk pria itu, tapi berpisah dengan Gaka pun dia tidak mungkin bersama Abian. Dia hanya merasa tidak pantas. Kepercayaan dirinya hilang ketika Gaka mengambil sesuatu berharga darinya.


"Mas, pergilah. Keberadaan mu di sini bisa menimbulkan fitnah."


"Fitnah? Kita berdiri dari jarak 2 meter, lalu bagaimana dengan suamimu yang ...."


"Mas, ku mohon. Jangan bicarakan apapun lagi tentang mereka. Biar ku urus pernikahan dan perasaanku."


"Han, berpisah lah dengan Gaka dan menikah denganku, aku janji akan membahagiakanmu. Aku gak rela kamu tersakiti, kamu sangat berharga, Han."


"Maafkan aku, Mas. Tolong jangan temui aku lagi."


"Han, jangan larang aku. Kamu masih wanita yang sama. Aku sangat mendamba dan mencintaimu."


"Jangan memupuk perasaan yang salah, Mas. Aku gak bisa membalas perasaanmu lagi. Kamu akan mendapat wanita lebih sempurna yang bisa kamu kagumi dan kamu cintai. Aku doakan untuk kebahagiaanmu. Maaf kan aku."


Brak ....


Hania menutup pintu. Dia bersandar di sana dan luruh di lantai. Isak tangisnya kembali terdengar, bahkan Abian masih bisa mendengarnya.


"Perasaanku tidak salah, Han. Aku bisa melihat kamu masih Hania yang dulu, masih punya perasaan untukku. Jangan katakan itu. Karena sampai kapanpun aku akan mencintaimu. Aku akan menunggumu, Han. Aku sangat mencintaimu."


Hania masih bisa mendengar kalimat Abian, bahkan dadanya semakin sesak menahan semuanya. Dia meremas jilbab yang menutupi bagian dada, melampiaskan sakit dan sesak.


Keadaan ini lebih menyakitkan dibanding kepergian Abian tanpa kabar. Mereka dipertemukan kembali dalam keadaan dan posisi berbeda.


Beberapa detik dia masih mendengar Abian mengatakan masih memiliki perasaan untuknya, hingga perlahan suara itu menghilang.

__ADS_1


__ADS_2