Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Status Baru


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Hania Putri Azahra binti Almarhum Mahmud Efendi dengan mas kawin tersebut, tunai ...."


"Sah ...." Tuan Haru, Vara, seorang dokter dan dua orang saksi lain serentak menjawab sah untuk ijab qabul yang disebutkan Gaka barusan.


Hania menunduk menyembunyikan air mata yang merebak keluar. Jemarinya tergenggam kuat, entah ini keputusan salah atau benar. Gaka, pria pertama yang menyentuh dan menodainya. Dia kehilangan kepercayaan diri bila suatu hari ada pria yang melamarnya. Dia merasa hina karena sudah tidak sempurna sebagai seorang gadis. Untuk itu dia menerima pernikahan ini hanya demi mengembalikan nama baiknya.


Namun di sisi lain dia merasa kejam karena telah menghancurkan Gea. Wanita itu sudah pasti murka bila tahu kebenaran ini.


Selain itu, Abian? Pria itu masih melekat dalam ingatannya. Dia masih mengharap kepada agar Tuhan memberi takdir temu dengan pria itu. Hatinya masih menginginkan pria sehangat dan sebaik Abian, bukan pria dengan akhlak buruk dan selalu mengucap kata kotor. Ahli neraka, dia menyebutnya begitu.


Pernikahan idaman yang pernah diimpikan sirna sudah. Dia tidak tahu pernikahan seperti apa yang akan dijalani bersama Gaka.


Pernikahan tersembunyi. Iya, benar. Bahkan hal itu disetujui semua pihak demi sebuah alasan kenyamanan. Vara orang pertama yang menentang, karena dia sangat bangga dan ingin mengenalkan menantunya pada dunia. Akan tetapi Hania menolak tegas, dia tidak ingin pernikahan ini diketahui oleh Gea.


"Jangan nangis, sayang." Vara menggenggam tangan Hania. Hania berusaha tersenyum meski hatinya getir.


Tuan Haru, pak penghulu, dokter dan dua saksi lainnya keluar dari ruang rawat Hania.


Gaka? Dia merebahkan tubuhnya di sofa, matanya terpejam dengan lengan tangan diposisikan di atas kening.


Harinya sangat melelahkan. Beberapa jam lalu dia diberi tanggung jawab untuk melanjutkan warisan perusahaan dari Tuan Haru. Dan sekarang kembali mengemban tanggung jawab urusan lain. Bahkan tanggung jawab kali ini sungguh sangat berat. Dia harus menjadi imam untuk wanita sholehah, wanita baik yang selalu menjaga diri dari dosa-dosa dunia. Sedangkan dia? Sikapnya berbanding terbalik dengan Hania. Dia tidak mengenal dosa, bahkan merasa bangga bila hari-harinya dipenuhi maksiat. Tak lain dia hanya seorang bibit neraka.


Helaan napas panjang dari mulut Gaka menjadi bukti betapa berat dan lelah untuk satu hari yang dilalui.


Tepat pukul delapan malam Tuan Haru dan Vara berpamitan pulang.


"Mama pulang dulu, ya. Jaga istrimu baik-baik," pesan Vara pada Gaka.


"Iya, Ma." Gaka terpaksa menjawab.


"Besok biar pengawal membawa bajumu kesini. Sayangnya kamu gak bisa ambil cuti," kata Tuan Haru.


"Iya."


Setelah kedua orang tuanya menghilang di balik pintu. Gaka duduk di samping Hania. Keduanya diam dan saling melirik.

__ADS_1


Banyak yang ingin Gaka katakan, tapi setiap berbicara dengan Hania ujung-ujungnya hanya berdebat, lalu kesal. Harinya sudah lelah, dia malas untuk bicara panjang. Apalagi harus sampai adu mulut.


"Ngomong saja kalau ada yang ingin dibicarakan," kata Hania memecah keheningan.


"Banyak yang mau gue omongin, tapi besok ajalah. Males kudu debat sama lo sekarang," balas Gaka dengan wajah jutek.


Hania tidak menanggapi, dia merapikan selimut dan mencari posisi nyaman untuk tidur. "Kalau gak ada yang dibicarakan, saya mau tidur duluan."


Gaka tidak menjawab dan pindah lagi ke sofa. Dia menyalakan televisi untuk mengusir kebosanan. Beruntung kali ini Gea ada urusan bersama keluarganya, jadi kekasihnya itu tidak sering menghubunginya.


Rasanya masih belum percaya dengan status barunya. Dia menikah dengan sahabat dari pacarnya sendiri. Gila, bukan? Dia tidak tahu sampai kapan rahasia besar ini bisa ditutupi.


Ketika sibuk melamun, Gaka terkejut mendapat telepon dari Gea. Dan reflek langsung menjawab telepon itu.


"Ya, sayang?" Dia sedikit memelankan suaranya.


Hania kembali membuka mata, rungunya mendengar suara Gaka menyebut kata 'sayang' dia bisa menebak seseorang yang menelpon Gaka adalah Gea. Sahabat sekaligus pacar dari suaminya.


"Rindu? Jangan ditanya, gue selalu rindu sama lo."


"Ya Tuhan, takdir apa yang sedang kami jalani? Apa aku sudah salah mengambil keputusan ini?" ucap Hania dalam hati.


Pagi hari.


Gaka baru saja terbangun. Pria itu langsung menuju ke kamar mandi tanpa peduli dengan Hania yang sudah bangun dan bersandar di kepala ranjang. Tidak menoleh sedikitpun.


Tidak berapa lama pria itu terlihat keluar dengan penampilan lebih fress, bila tak ada cela tentang sikap dan perilakunya, wanita manapun akan mengagumi wajah tampan Satrya Higaka.


Hania mengalihkan pandangan saat Gaka menyadari tatapannya. "Apa? Gue ganteng?" tanya Gaka dengan sinis.


"Semua pria memang ganteng, gak usah narsis," ketus Hania.


Gaka duduk di kursi samping brankar Hania.


"Hari ini saya mau pulang," ujar Hania.

__ADS_1


"Pulang tinggal pulang. Gue juga gak nyaman nginep di sini terus. Tidur gue gak nyenyak," timpal Gaka.


Tok tok ....


Dokter dan perawatan masuk untuk memeriksa keadaan Hania, semua sudah membaik dan dokter membolehkan Hania pulang siang nanti. Dengan tidak lupa memberi pesan agar memeriksakan luka di lengannya setelah tiga hari kemudian.


"Terima kasih, Dok," ucap Hania.


Dan dokter itu mengangguk. "Sama-sama Nona," jawabnya tersenyum ramah.


"Nanti siang biar dijemput supir. Gue banyak kerjaan jangan ngarep gue bisa jemput."


Hania memutar bola mata, terlihat jengah. "Tanpa dijemput supir, saya juga bisa pulang sendiri."


"Mau pulang naik apaan? Jalan kaki sampek pegel? Emang lo ada uang buat bayar taksi?" Sudut bibir Gaka terangkat.


Hania terdiam. Benar juga yang dikatakan Gaka, dia sama sekali tidak pegang uang. Bagaimana dia bisa pulang.


"Mau pesen taksi? Mana hp lo? Apa lo ingat hp lo dimana?"


Wanita mengenakan baju biru muda itu mengembus napas panjang. Lagi-lagi memang benar, bagaimana dia akan memesan taksi karena ponselnya pun tidak ada.


"Lagian, apa mau pulang pakai pakaian rumah sakit? Baju lo yang kemarin udah gue buang ke tong sampah." Gaka terus berbicara.


'Lama-lama mulutmu yang pengen aku timpuk pakai tong sampah,' batin Hania kesal.


"Dua hari lagi Gea balik ke sini," ujar Gaka memberitahu.


"Kamu gak usah khawatir. Kita tetap seperti sebelumnya," sahut Hania.


"Bagus. Mudah-mudahan lo gak lupa untuk jaga rahasia pernikahan kita."


Gaka bangkit dari duduknya. "Gue udah pesen makanan, nanti ada orang yang datang. Semua udah gue bayar, lo tinggal sarapan dengan kenyang."


"Gue harus ke kantor." Pria itu begitu saja pergi tanpa menunggu Hania menjawab.

__ADS_1


__ADS_2