Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Rumah Sakit


__ADS_3

Sirine ambulance saling bersahutan. Dua mobil ambulance beriringan membawa dua pasien yang sama-sama terluka.


Seorang pria sudah kehilangan kesadarannya, sedangkan si wanita tergolek lemah namun sudah mendapat pertolongan pertama dari tenaga ahli medis yang ikut di mobil itu.


Setelah mobil berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit, kedua pasien itu segera di bawa ke ruang ICU.


Salah satu pihak rumah sakit menghubungi keluarga pasien. Dan asisten Tuan Haru mengatakan akan di usahakan segera datang karena Tuan Haru maupun Vara sedang berada di luar kota.


Di rumah, Hania yang baru pulih dari sakitnya sangat terkejut mendapati kabar yang disampaikan oleh kepala pelayan. Tuan Gaka masuk rumah sakit karena luka tusukan.


Bergegas ke rumah sakit pun jantung Hania berdebar tak karuan. Kepalanya di penuhi berbagai pertanyaan tentang keadaan yang menimpa Gaka. Sedangkan hatinya di selimuti kecemasan tingkat tinggi.


Di temani kepala pelayan dan supir pribadi, Hania sekarang sedang menunggu di depan ruang operasi. Meski sedang menangis, dia tak lupa berdoa dan berzikir untuk keselamatan Gaka.


Hingga 2 jam lamanya lampu ruang operasi baru padam. Hania berdiri di depan pintu untuk menunggu dokter keluar.


Dan benar saja, tak lama dari itu ada dua dokter yang keluar.


"Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Hania.


"Syukur alhamdulillah, kami berhasil mengeluarkan pisau yang menancap di perut kanan Tuan Gaka. Sejauh ini kondisinya stabil, tapi kami perlu memantau keadaanya secara intensif sampai menunggu Tuan Gaka sadar."


"Ya Allah, mudah-mudahan keadaan Mas Gaka segera pulih," ucap Hania lirih. "Apa saya bisa menemui sekarang, Dok?"


"Kalau sudah dipindah ke ruang perawatan, Anda bisa menjenguknya," kata Dokter.


"Baik. Terima kasih, Dok," ucap Hania.


"Oh, tunggu, Nona. Satu pasien yang sama-sama terluka sudah di pindah ke ruang perawatan. Kamar pasien bersebelahan dengan kamar rawat Tuan Gaka nanti." Setelah mengatakan itu dokter langsung pergi.


Deg ....


Satu pasien sama-sama terluka? Siapa yang dimaksud dokter barusan? Hania bergeming memikirkan orang itu, namun detik berikutnya dikejutkan dengan terbukanya ruang operasi.


Gaka terbaring di atas brankar dan dua perawat mendorong brankar itu menuju salah satu ruang perawatan. Hania mengikuti dibelakang sampai terhenti di sebuah ruang VVIP.


"Em, Sus, boleh saya tanya."


"Ya, silahkan, Nona."


"Apa ada pasien lain yang terluka bareng Tuan Gaka?"

__ADS_1


"Benar. Tadi selain Tuan Gaka, ada satu pasien wanita yang juga terluka. Tapi lukanya tidak terlalu parah, jadi langsung dipindah ke ruang perawatan." Perawat itu menjawab sambil melakukan tugasnya memasang selang infus.


"Wanita?" gumam Hania bertanya.


"Ruangannya persis ada di samping sebelah kanan," ujar perawat memberitahu.


Hania mengangguk. Dia sangat penasaran dengan wanita itu, tapi tidak mungkin meninggalkan Gaka sendirian. Dia takut begitu Gaka terbangun tidak ada siapapun yang menjaganya.


Akhirnya memilih mengurungkan niat, lekas mengambil duduk di samping brankar Gaka. Dia yang bingung tak ada kegiatan memilih membuka al-quran lewat aplikasi ponselnya dan membaca dengan suara lirih.


Keesokan harinya.


Jemari Gaka mulai bergerak, pun dengan kelopak mata terbuka secara perlahan. Dia hanya mampu berkedip pelan menyesuaikan cahaya ruangan. Beberapa saat pandangannya tertuju pada sesosok berjilbab yang tengah tertidur pulas dalam posisi duduk.


Gaka yang memang masih lemah hanya terdiam dengan mengamati wajah Hania. Semakin dipandang, semakin dia terpesona. Bibirnya tersenyum tipis. Dia bersyukur masih diberi kesempatan hidup, bisa memperjuangkan melunakkan hati Hania.


Melihat Hania menggeliat Gaka pura-pura terpejam.


"Kamu belum bangun juga, Mas? Kata dokter kondisimu stabil, tapi kamu belum bangun-bangun." Hania menghela napas panjang. Dia menggenggam tangan sekaligus menatapi wajah pucat Gaka.


"Kamu gak akan kenapa-napa 'kan, Mas? Jangan bikin aku takut. Cepet bangun dan bersikap semaumu. Ternyata di situasi seperti ini aku justru rindu dengan sikap menyebalkan mu." Dia terus mengelus punggung tangan Gaka.


"Astagfirullahaladzim ...." Hania terkejut saat ponselnya berbunyi.


"Iya, Ma."


'Sayang ... bagaimana keadaan Gaka?' ternyata Vara yang menghubungi.


"Kata dokter, kondisi Mas Gaka stabil. Tapi sampai sekarang belum sadar. Hania takut dan khawatir, Ma." Hania berbicara lirih, sambil ekor matanya tak lepas melihat Gaka.


'Apalagi Mama. Mama khawatir banget sama Gaka. Tolong kamu jaga Gaka, ya, Han. Sekitar 2 jam lagi kami akan sampai.'


"Iya, Ma. Hania terus jagain Mas Gaka. Mama sama Papa hati-hati, ya."


'Iya, sayang.'


Setelah usai berbincang dengan Vara, Hania beranjak pergi ke kamar mandi. Pada saat itu Gaka terbangun dengan sudut bibir tersenyum puas. Kekhawatiran Hania membuat hatinya senang.


Seusai menyelesaikan sholat subuh, Hania kembali duduk di kursi yang tadi.


"Kamu kok gak bangun-bangun sih, Mas." Dia menyangga dagu. "Apa aku suruh dokter buat periksa dia lagi, ya." Dia berdiri dan menekan tombol penghubung dokter.

__ADS_1


Saat satu dokter dan satu perawat datang, Hania langsung menanyakan tentang kondisi Gaka, bahkan dari waktu yang ditentukan, kenapa masih belum siuman. Tapi lagi-lagi dokter memberi pernyataan yang sama, kondisi Gaka stabil dan hanya perlu menunggu sampai sadar.


"Sus, boleh saya minta tolong jagain Tuan Gaka sebentar. Saya mau keluar mencari makanan." pinta Hania pada suster.


"Iya, Nona, saya akan menjaga Tuan Gaka."


"Terima kasih, ya, Sus." Hania tersenyum dan berjalan keluar.


Hanya sekitar 20 menit, Hania sudah kembali dengan membawa nasi rames dan satu cup teh. Dia meletakan itu di atas nakas.


"Lo lama banget perginya." Suara serak nan lirih mampu mengejutkan Hania.


"Mas. Alhamdulillah, kamu sudah sadar?" Hania memekik terkejut. Dia mengucap puji syukur dan mengusap wajah untuk mengaminkan. Bibirnya tersenyum namun kelopak matanya mengembun.


"Seseneng itu tau gue sadar," ucap Gaka.


Hania mengangguk. "Aku seneng banget, Mas."


"Kalau seneng, kenapa gak dipeluk," ujar Gaka.


"Jangan mengambil kesempatan, Mas."


"Kesempatan gimana? Itu salah satu tindakan bersyukur, dari pada lo peluk gue pas gue udah gak ada."


"Mas, jangan ngomong sembarangan."


"Matinya kita gak ada yang tau 'kan? Gue sadar, tapi satu jam berikutnya kondisi gue lemah dan denyut nadi berhenti. Apa lo juga gak mau peluk gue."


"Maaaaasssss!"


"Ssstttt, aduh-duh! Lukanya sakit banget," ucap Gaka sambil meringis. Dia terlihat kesakitan.


"Sakit?! Apa sakit banget, Mas? Aku panggilin dokter, ya." Hania berdiri, dan kembali di serang khawatir.


"Sakit banget. Lukanya sakit banget." Gaka memejam mata sambil meringis.


"Aku panggil dokter, Mas. Aku panggilin dokter."


Badan Gaka mulai kejang-kejang. Kepanikan Hania semakin meninggi. Tanpa sadar dia sampai menekan tombol dokter berulang kali.


"Mas!!! Jangan gini, dong, Mas!!!"

__ADS_1


__ADS_2