Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Merusuh Lagi


__ADS_3

Obrolan Hania dan Gaka terjeda sebentar oleh petugas yang menghantar makanan.


"Terima kasih, Mas." Hania mengucap terima kasih kepada petugas pria yang baru selesai memindai makanan ke atas meja.


"Sama-sama, Mbak," balas petugas itu.


"Hei! Cepetan pergi! Jangan sok caper depan istri gue!" bentak Gaka marah melihat keduanya.


"Saya sama sekali gak caper depan istri Anda. Apa Anda gak liat saya cuma balas ucapannya saja. Masa' ada orang bilang makasih saya diam, ntar dikira gak sopan," jawab petugas itu.


"Mas, apaan sih! Cuma ucapan makasih aja bikin kamu ribut," sela Hania.


"Bukan ucapan makasih nya, tapi kalian berdua senyum-senyum!" Gaka masih memasang wajah marah.


"Sssttt, hhiiiih, banget loh kamu tuh lama-lama." Hania kesal bercampur gemas. Lalu beralih kepada petugas itu lagi. "Maafin suami saya, Mas, emosinya memang kurang stabil akhir-akhir ini."


"Iya gak pa-pa. Permisi." Petugas itu sama sekali tidak melihat ke arah Hania, takut dengan wajah Gaka yang masih menatapnya tajam.


"Kamu nih Mas, bisa-bisa semua pria yang bertemu aku kamu jadikan musuh," ucap Hania.


"Bener sekali. Pria yang berani genit atau caper-caper depan lo, siap-siap aja bermusuhan sama gue."


"Cemburu mu gak masuk akal, Mas," balas Hania sambil sibuk menyiapkan sarapan untuk Gaka. Pria itu menghendikan bahu.


"Kok Mama sama Papa gak kesini lagi, Mas?"


"Tau gue udah baik-baik aja, mereka pulang ke rumah dulu, ntar sore baru kesini lagi."


Hania mengernyit. "Kok gitu?"


"Iya. Katanya, itung-itung kasih waktu buat kita berduaan. 'Kan kita resmi jadian." Gaka menyengir.


Hania menggeleng dan tersenyum. Dia mulai menyendok makanan untuk Gaka. Gaka menerima suapan itu dengan perasaan berbunga, seolah dia sedang jatuh cinta.


"Ohya, aku sampek lupa, Mas. Kata perawat, ada satu wanita yang terluka bareng kamu. Siapa? Apa wanita itu Lili?"


Gaka langsung berubah datar. Bagaimana dia lupa dengan Gea. Dia melirik Hania, berarti istrinya belum tahu tentang kejadian sesungguhnya.


"Mas ... kamu diem aja?" Hania merasa aneh dengan Gaka. Dia menyadari pria itu berubah tidak seceria tadi.

__ADS_1


Gaka menghela napas panjang. Dia mulai bercerita dari kedatangannya ke apartemen Gea sampai keduanya sama-sama mengalami luka. Secara detail tanpa ada yang terjeda.


Hania berusaha santai sambil terus menyuapi Gaka.


"Lo gak marah?" tanya Gaka.


Sebelum Hania membuka mulut untuk menjawab. Tiba-tiba ....


Brak ....


Pintu ruangan terbuka lebar. Menampilkan Gea yang duduk di kursi roda dan ada satu perawat berdiri di belakangnya membantu mendorong kursi roda Gea.


Gaka dan Hania menoleh dan sama-sama mematung. Di bantu perawat, Gea mendekat ke brankar Gaka.


"Sayang ... gimana keadaan lo?" Gea tersenyum manis. Seolah hubungannya bersama Gaka masih baik-baik saja, padahal sudah banyak yang terjadi.


"Ge ...?" Hania bingung dengan Gea.


"Hai, Han?"


Luar biasa dengan Gea. Ada apa dengannya?


"Janji apa?"


"Heh, lo jangan pura-pura lupa. Lo janji balik sama gue dan hubungan kita bakal seperti dulu!" runtut Gea.


Hania menaruh piring ke atas meja, lalu berdiri mendekati perawat dan memintanya keluar. Tidak baik bila pembicaraan mereka di dengar orang lain. Gaka dan Gea hanya diam, mengamati.


"Wanita bodoh! Lo kira omongan gue kemarin serius? Enggak lah! Tolol kalau lo percaya!" ucap Gaka sinis.


"Gaka!" sentak Gea.


"Lo pikirin, dalam keadaan lo mengancam, apa yang bisa gue lakuin selain mengiyakan permintaan lo."


Terjadi perdebatan antara keduanya, Hania berganti mengamati mereka.


Entah apa maksutnya. Gea beralih menatap Hania. "Lo gak tau 'kan kemarin Gaka janji balik sama gue."


"Tadi Mas Gaka baru kasih tau," jawab Hania.

__ADS_1


"Hih, gak tau malu. Lo tuh datang terakhir, sedangkan hubungan gue sama Gaka udah terjalin lama. Balikin dia ke gue, Han! Dia milik gue!" jerit Gea penuh amarah.


"Ge, kamu memang lebih dulu mengenal dan berhubungan dengan Mas Gaka. Tapi sekarang aku adalah istrinya, tolong kamu mengerti dan hargai pernikahan kami."


"Mengerti? Gak salah lo bilang kek gitu?! Elo yang gak ngerti hubungan gue sama Gaka. Lo wanita murahan, tiba-tiba nikah sama laki orang. Dia bekas gue, Han. Apa lo gak bisa cari pria lain?"


"Cukup, Ge!!! Jangan ngerendahin Hania lagi. Jangan bikin kesabaran gue habis! Gue udah peringati lo jangan macam-macam, kalau gak, lo bakal tanggung akibatnya!" Gaka hampir tak bisa menahan emosi, namun dia tak bisa bergerak karena lukanya bisa kembali berdarah.


"Mas cukup! Kemarahan jangan dibalas dengan kemarahan. Kamu dan Gea, cobalah bicara dengan baik-baik." Hania menengahi.


"Ge, sekarang apa maumu?" tanya Hania.


"Lo tanya mau gue? Ya jelas gue mau balikan sama Gaka. Gue cinta banget sama dia. Berat jauh dari Gaka setelah apa yang sering kita lakukan. Gue sama dia udah jadi satu, hubungan kita terlalu jauh. Persetan dengan pernikahan kalian. Gue maunya tetep berhubungan sama Gaka."


"Jangan gila lo! Gak bisa begitu!" Gaka menolak tegas.


"Gimana sama kamu, Mas?" Hania berganti menanyai Gaka.


"Pakek tanya lagi. Ya gue tetep perjuangin elo. Perjuangin cinta kita."


"Cinta? Ha ha ha ...," Gea menyahut, dia bahkan tertawa mengejek. "Bushit lo bilang cinta. Awal dulu lo bilang cinta sama gue, tapi akhirnya apa? Sesantainya lo buang gue. Ingat, Han, Gaka gak pernah punya cinta, dia hanya punya nafsu. Yakin, lo juga bakal dibuang kalau dia bosan."


"Gue bakar lama-lama mulut lo, Ge!" geram Gaka.


"Eh, yang patut dibakar itu elo, biar pria pecundang kek lo musnah!"


Hania mengurut pelipis. Antara Gea dan Gaka sudah tidak bisa diajak bicara baik-baik. "Ribut aja sampek kalian capek sendiri!" ucapnya.


"Aku gak tau lagi harus gimana, tapi yang perlu kamu tau, Ge, aku dan Mas Gaka sudah berkomitmen untuk saling memperjuangkan pernikahan kita.


Andai kamu memaksa Mas Gaka kembali padamu, apa hubungan kalian akan bahagia seperti dulu? Karna Mas Gaka sendiri udah gak ada rasa lagi sama kamu. Tolong pikirkan baik-baik, jangan buang waktu untuk hal yang sia-sia. Memaksa perasaan seseorang hanya akan percuma."


Gea menatap tajam ke arah Hania, api kebencian begitu besar. Persahabatan di antara mereka yang terjalin lebih dari sepuluh tahun sudah tak diingat lagi. Yang ada hanya kemarahan dan kebencian.


"Maafin aku, Ge. Aku akan antar kamu ke kamar mu. Kamu dan Mas Gaka masih harus banyak istirahat."


"Gak sudi! Gue bisa pergi sendiri!" bentak Gea. Dia berdiri dan mengambil tabung infus, setelahnya meninggalkan ruangan Gaka.


Hania tetap mengikuti dari belakang untuk membantu membukakan pintu. Dia juga ingin memastikan Gea aman masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2