Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Rumit


__ADS_3

Jawaban Hania membuat Abian menghela napas panjang. Dari awal dia melihat Hania, wanita itu memang terlihat berbeda.


Dia menyadari hal itu, bahkan memaklumi. Sadar dengan kondisinya sendiri, wanita manapun akan memandangnya rendah karena fisiknya sudah tidak sesempurna dulu, dia merasa sangat buruk. Bagaimana tidak, bahkan berjalan pun harus menggunakan tongkat. Menyedihkan.


"Maaf untuk pertanyaan ku tadi. Sepertinya aku tidak sadar diri karna masih berharap bisa melanjutkan hubungan kita. Wanita manapun gak akan menerima fisikku seperti ini. Apalagi gadis sempurna sepertimu."


Telapak tangan Abian terkepal, dia bukan sakit karena penolakan Hania. Lebih ke permainan takdir. Kenapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini.


"Astagfirullahaladzim, Mas. Kenapa kamu berpikir seperti itu? Jangan rendah diri dengan fisikmu yang sekarang. Aku yakin, kamu tetap Mas Abian yang ku kenal berakhlak baik dan sopan. Andai waktu masih sama seperti dulu, kita pasti masih bisa bersama, Mas. Tapi ...." Suara Hania tercekat, sulit memberitahukan sebuah kenyataan.


"Tapi apa, Han?"


"Tapi sekarang aku sudah menikah."


Deg.


"Me-menikah?" Abian terkejut. Bahkan sangat terkejut.


"Iya. Aku ... menikah dengan Mas Gaka."


Bagai tertembak ribuan peluru, Abian membeku di tempat dengan pandangan yang mulai buram. Kristal-Kristal cair mulai mengepung kelopak matanya.


Sejak awal tidak ada yang memberitahukan apapun padanya. Tuan Haru, Vara maupun Gaka tidak pernah membahas apapun tentang Hania. Beberapa kali Tuan Haru mengunjunginya di rumah sakit, tak sekalipun menyinggung tentang pernikahan Gaka dan Hania.


Bahkan, sampai dia berkunjung ke rumah itu, semua masih bungkam. Figura bukti pernikahan pun tidak satupun terpajang. Bagaimana dia mempercayai itu?


"Gak Han. Aku gak percaya kamu bisa menikah dengan pria seperti Gaka. Gak mungkin kamu menikah dengan Gaka. Dia sangat buruk dan ...."


"Tapi itu kenyataanya, Mas. Hampir dua bulan yang lalu aku sudah menikah dengan Mas Gaka."


"Alasan apa kamu mau menikah dengan saudaraku, Han? Lalu bagaimana hubungan Gaka dengan Gea?"


"Untuk alasannya kamu gak perlu tahu, Mas. Yang harus kamu tahu, aku bukan Hania yang dulu, aku sudah bukan wanita sempurna seperti yang kamu katakan. Bahkan, kalau kamu tahu alasannya, kamu pun akan berpikir ulang untuk melanjutkan hubungan kita."


Hening menyambangi mereka. Angin berembus menusuk sampai ke tulang. Namun perasaan dua insan itu lebih dingin dari angin malam.

__ADS_1


Hati masih saling mengharapkan, akan tetapi keadaan yang tidak merestui.


"Maaf, Mas, aku masuk duluan. Aku gak mau mereka curiga dan berpikir macam-macam karna kita udah lama di sini."


"Enggak, Han. Pembicaraan kita belum selesai," cegah Abian. Pria itu mendongak dengan melemparkan tatapan sendu. Meski sakit dan kecewa, tapi dari kedua tatapannya masih menyiratkan sebuah perasaan.


"Pembicaraan kita udah selesai, Mas. Sekarang aku sudah tahu alasan kamu tidak datang, dan aku tidak akan menyimpan rasa penasaran lagi.


Dan kamu juga sudah tahu, aku bukan Hania yang dulu karena statusku sekarang adalah istrinya Mas Gaka. Semua keadaan sudah jelas, Mas. Jadi, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


"Tapi alasanmu menerima Gaka masih belum jelas. Itu membuatku penasaran."


"Untuk alasan itu, biar aku dan Mas Gaka yang tahu."


"Han ...."


"Satu lagi, Mas. Tolong jangan katakan ini pada Gea. Aku mohon."


Abian kembali dibuat terkejut. Bahkan sekarang rasa penasarannya jauh lebih besar. Kenapa Hania memintanya tidak memberitahukan pernikahannya kepada Gea? Apa pernikahan mereka disembunyikan? Abian merasa bingung, sebenarnya apa yang sudah terjadi.


"Assalamualaikum."



Dalam perjalanan pulang, Hania maupun Gaka sama-sama terdiam. Hania dengan kesedihannya, sedangkan Gaka dengan rasa bersalahnya.


Saat Hania berbicara dengan Abian, diam-diam Gaka menguping pembicaraan mereka. Kini dia tahu, Abian adalah salah satu pria yang diceritakan Hania waktu itu.


Dia masih ingat dua pria yang diceritakan Hania dengan kisah berbeda. Abian bukanlah anak pak kyai, artinya Abian adalah pria baik dan hangat yang sempat akan mengkhitbah Hania.


Sampai di rumah pun mereka masih diam. Dan saat akan memasuki kamar, Hania memanggil.


"Mas ...."


"Kalau belum siap, gak usah cerita," sahut Gaka.

__ADS_1


Hania terdiam dengan memainkan ujung kemeja. Dari ucapan Gaka barusan, apakah pria itu sudah tahu?


Gaka bersandar di dinding dan terus melihat kelopak mata Hania. Sedikit sembab akibat Hania banyak menangis.


"Memang gak ada yang ingin aku bicarakan. Aku hanya khawatir Mas Abian memberitahukan pernikahan kita kepada Gea. Karna Mas Abian udah tau hubungan kita. Aku minta tolong kamu atasi itu."


'****! Sakit gini denger dia manggil Abian dengan sebutan mas.' Gaka mengusap wajah kasar. Sejak mengetahui bahwa Abian salah satu dari masa lalu Hania, ada rasa bersalah, marah, bahkan cemburu. Ah entah, semua bercampur menjadi satu hingga sulit untuk di ungkapkan.


"Aku masuk dulu, Mas." Hania tidak melihat lagi ke arah Gaka. Langsung masuk ke dalam kamar.


Gaka juga masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia menjatuhkan diri di sofa dan menjambak rambutnya, frustasi.


"Apa yang terjadi sama gue!? Persetan hubungan Maesaroh dan Abian, kenapa gue kepikiran gini, sih. Akh' ****** sialan!" Gaka menendang sofa di depannya demi menyalurkan kekesalan yang tidak mendasar.


Dia kembali bangkit dan menyambar kunci mobil. Meski hampir tengah malam, tapi dia keluar rumah dan terpikir untuk pergi ke club.


Dentuman musik sangat keras justru menyenangkan bagi Gaka. Pria itu menggelengkan kepala mengikuti alunan musik yang dimainkannya. Teriakan pengunjung menjadi penyemangat tersendiri.


Seperti itulah Satrya Higaka, walau statusnya sudah menjadi CEO di perusahaan SAG Grup. Namun dunia malam belum bisa dia tinggalkan. Dia akan datang ke tempat penuh maksiat itu dikala suntuk dan penat.


"Musik lo oke banget, Bos. Sayangnya akhir-akhir ini lo jarang dateng." Seorang pria menyapa Gaka yang baru turun dari tempatnya pentas.


Gaka tidak menjawab dan langsung bergabung bersama teman satu tongkrongannya ketika di club. Baru saja mendaratkan tubuh, sudah ada dua wanita berpakaian kurang bahan yang duduk di sisi kanan kiri untuk mengapit tempat duduk Gaka.


Keduanya berusaha membelai dan mencumbu. Bahkan Gaka sendiri membalas perlakuan mereka.


"Ambilin gue minum," perintahnya ketika melepas pagutannya.


Suasana itu berlangsung hingga hampir pukul empat pagi. Di setengah kesadarannya yang tersisa, Gaka mengendarai mobil untuk pulang ke rumah.


Tak ... tak .... Suara sepatu begitu menggema. Hania yang baru keluar dari kamar melihat Gaka menaiki anak tangga dengan berjalan sempoyongan.


Bruk ....


"Mas!!" Hania berlari menghampiri Gaka yang jatuh terduduk. Dia mengibaskan tangan karena bau alkohol yang begitu menyengat.

__ADS_1


Astagfirullahaladzim, baru kali ini dia melihat langsung sisi lain dari Gaka. Dia seburuk-buruk pria yang pernah dikenal. Dan malangnya, pria itu berstatus sebagai suaminya.


Tuhan, kenapa Kau menjauhkan ku dari pria baik dan malah menjodohkan ku dengan pria seburuk ini.


__ADS_2