
Gaka ingin membawa Hania ke rumah sakit guna memeriksakan lebih detail tentang keadaan istrinya, tapi Hania menolak. Akhirnya hanya memanggil dokter untuk memeriksa dan meresepkan obat.
"Ini udah keterlaluan banget. Gue bakal usut sampek tuntas," ujar Gaka dengan serius. Pria itu duduk di sisi ranjang dengan bersandar di headboard. Tangan kanan digunakan mengelus pucuk kepala, sedangkan tangan kiri menggenggam telapak tangan Hania yang dingin. Berusaha menyalurkan kehangatan.
"Kamu mau apa, Mas? Dengan terungkapnya pernikahan kita, aku yakin, mereka gak akan berani melakukan apapun padaku." Hania mendongak sebentar.
Wanita itu memang memiliki hati lembut dan baik, dia selalu memaafkan kesalahan orang yang sudah melukainya. Tapi bila orang itu mengulangi kesalahan kedua, barulah Hania bertindak tegas.
"Mau buat perhitungan serius supaya mereka gak berani jahati lo. Gue udah duga pasti Gea dibalik semua ini. Kemarin dia buat gue celaka, gue masih belum tega, tapi kali ini, elo yang di celakai. Gue gak bisa tinggal diam gitu aja!"
"Aku juga kepikiran Gea adalah dalangnya, karna kalau cuma Mbak Nita, Mbak Nadya dan yang lain gak mungkin dengan mudah bisa ambil foto-foto tadi. Tapi ...." Hania memandang Gaka dengan ragu.
"Tapi lo tetep gak tega buat nyakiti Gea?" tebak Gaka. Pria itu membuang napas kasar. Setelahnya dia menatap Hania lekat dan tegas. "Inget baik-baik, berapa kali Gea sakiti elo. Berapa kali dia permaluin lo di tempat umum? Gak perlu mikirin Gea lagi, junjung harga diri lo. Tunjukin ke Gea kalau lo bisa bales perlakuan dia. Dia gak mikirin lo, lo juga gak usah mikirin dia lagi." Emosi Gaka hampir memuncak ketika lagi-lagi harus membahas tindakan Gea terhadap Hania. Kali ini. Yah, kali ini dia tidak akan membiarkan Gea bebas menyakiti atau berbuat buruk lagi terhadap Hania. Dia akan membalas meski bertentangan dengan ingin Hania.
Hania mengangguk samar. "Mudah-mudahan Gea cepet mengerti dan gak akan terus-menerus membenciku. Karna jujur, sampai detik ini aku masih merasa bersalah, seolah cinta kita mengobarkan perasaan Gea."
"Stop! Gak usah mikirin apapun tentang Gea. Cukup sekali kita merasa bersalah, kita udah berusaha buat dia mengerti tapi dianya yang menolak untuk mengerti. Perasaan dia, itu urusan dia. Kita pikirin aja perasaan kita."
"Perasaan kita?" ulang Hania dengan kening berkerut. "Memang kenapa dengan perasaan kita?"
"Gak apa. Gue cuma pengen lo fokus dengan perasaan lo, supaya bisa yakin kalau gue bener-bener udah milih lo buat miliki hati gue." Gaka menatap lurus dan sangat serius. "Gue gak pernah seyakin ini dengan hati, tapi kali ini, hati gue bener-bener yakin dengan lo. Please, jangan ragu, tolong percaya dan kasih hati lo sepenuhnya buat gue. Gue janji, bakal sehidup semati sama lo. Dalam keadaan apapun, kebahagiaan lo yang paling utama. Ijinin gue miliki lo sepenuhnya.
Lo gak usah khawatir, ada Malaikat-Malaikat yang nyaksiin janji gue. Kalaupun gue ingkar, gue gak masalah langsung di datengi Malaikat pencabut nyawa."
"Mulutmu, Mas," sahut Hania," jangan bicara sembarangan.
Gaka justru tersenyum.
"Awalnya aku belum yakin, aku merasa baik tapi mendapat pria berakhlak buruk sepertimu. Kamu egois, semaunya sendiri, pemaksa dan gak ada nilai baiknya sama sekali. Namun, semakin aku mengenalmu, sedikitnya aku lebih paham dengan kehidupanmu. Kamu hanya salah jalan, Mas, kamu butuh seseorang untuk menuntun ke jalan yang baik.
__ADS_1
Bersamaku, apakah kamu ingin berubah menjadi lebih baik lagi, Mas? Menjadi imam yang baik untukku, dan nanti untuk anak kita."
Gaka tersenyum, dari sudut matanya berkaca-kaca. Dia mengangkat tangan Hania dan di kecup dengan penuh perasaan. "Gue akan berusaha berubah, selagi lo masih sabar menjadi guru spiritual gue."
Hania tersenyum senang. "Aku wanita paling sabar, aku pasti bisa sabar ngadepin sikapmu lagi."
"Lo gak tau aja kalau gue laki-laki penuh kesabaran."
Hania mengernyit. "Penuh kesabaran dalam hal apa kamu, Mas?"
"Dalam menahan hasrat. Biasanya gue celap-celup sehari dua kali, bayangin, selama kita nikah, junior perkasa gue terpaksa libur selama itu. Gue senam jari mulu', sabar banget 'kan gue?"
"Kamu nih, Mas, ku kira sabar dalam hal apa, gak taunya tentang itu mulu'," kata Hania. Dia beranjak duduk menyamai posisi Gaka. "Maafin aku untuk hal itu. Karena ketakutan ku, ibadah setelah menikah kita belum sempurna." Dia beralih menunduk. Tangan kirinya ditumpangkan di atas telapak tangan Gaka.
"Kamu masih sabar 'kan, Mas, untuk terus mencoba?"
"Jangan dipaksa kalau lo gak siap."
Gaka tersenyum penuh bahagia. Sama halnya pun yang dirasakan Hania, keduanya seolah melupakan yang baru saja terjadi. Kini mencoba fokus untuk memupuk perasaan mereka.
Gaka mendekatkan wajah untuk mencium kening Hania. Terasa hangat menjalar ke seluruh tubuh.
"Bilang berhenti kalau lo mulai takut," kata Gaka. Hania mengangguk.
Kedua tangan Gaka beralih memegang pipi Hania, mengikis jarak yang ada. Perlahan bibir mereka bertemu, menyatu, dan membelit. Sekira tiga menit, napas mulai memburu, Gaka menghentikan aksinya.
"Lo yang terindah dan ternikmat. I love you, Hania Putri Azahra." Manik Gaka berselimut kabut.
Hania menunduk, menyembunyikan malu dan gugup. Jantungnya berdebar setiap kali Gaka mencoba meruntuhkan ketakutannya.
__ADS_1
'Yakin, Han, kali ini harus yakin dengan diri sendiri, jangan terus-menerus menebalkan dinding ketakutan. Kalau tidak, kamu akan menjadi istri terlaknat.' Hania menghela napas panjang. Dia memejamkan mata. "Lakukanlah, Mas," ucapnya.
"Aku akan melakukan dengan pelan," bisik Gaka. Hania mengangguk pasrah.
Gaka benar-benar memperlakukan Hania dengan lembut, bahkan beberapa kali dia menanyakan kesanggupan Hania ingin lanjut atau menyudahi. Dengan tekat yang kuat, Hania menahan ketakutan hatinya.
Bukan hanya Hania yang berdebar, jantung Gaka pun sudah tak karuan. Antara takut tindakannya menyakiti Hania, tak tega, juga sudah kepalang nafsu. Baru kali ini seorang Gaka memperlakukan wanitanya dengan sangat hati-hati. Semua karena dasar cinta. Bukan karena hasrat menggebu saja.
"Mas ... sssttthhh ...." Hania mendesis saat Gaka meraih sesuatu yang tersembunyi. Dahinya dibanjiri peluh.
"Mau berhenti?" tanya Gaka.
Hania menghela napas, "enggak. Lanjutin aja."
"Kalau gak nahan, berhenti aja, junior gue gak pa-pa."
"Lanjutin aja, Mas, aku bisa nahan."
"Tangan lo bergetar, gue gak mau maksa."
"Ayo, Mas, lanjutin aja." Hania tidak ingin memanjakan rasa takut. Dia benar-benar berusaha untuk menghilangkan ketakutan itu. "Tapi pelan-pelan, ya."
"Iya, sayang." Gaka memulai kembali apa yang sempat terhenti. Meski mengulang dari awal, itu tidak masalah. Dia menyukai benda kenyal yang memiliki ukuran sama.
.
.
.
__ADS_1
Akh' ... stop. Stop sampai sini aja, ya, gak sanggup mau lanjut. 😆 Ngeri. Gak kuat mental🤧 Puas belum sampai sini?