Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Menenangkan


__ADS_3

Siang hari menjelang jam istirahat kantor, Hania sedang berada di ruangan Gaka. Wanita itu menata makanan yang tadi di bawa dari rumah. Meski berada di satu ruangan, keadaan tercipta cukup hening.


Gaka sedang fokus dengan pekerjaannya. Begitulah pria itu bila sedang sibuk mengecek berkas kantor, apapun yang ada di hadapannya akan terabaikan. Termasuk Hania, namun sang istri juga sudah hapal dengan Gaka, jadi, dia pun tidak ingin menganggu.


"Hah ...." Terdengar helaan napas panjang dari Gaka. Pria itu mengangkat kedua tangan ke atas untuk meregangkan otot yang terasa kaku.


"Kek bangsat emang orang yang udah dikasih kepercayaan tapi malah nusuk dari belakang," ujarnya terdengar nada kemarahan yang coba diredam.


"Apa, Mas?" tanya Hania yang kurang jelas dengan kalimat Gaka.


"Di bagian keuangan ada yang gelepin pajak kantor. ***! Lumayan gede juga nominalnya." Gaka bangkit mendekati Hania. Menjatuhkan diri di samping tepat sisi kanan istrinya.


"Umpatannya dikurangi, Mas, gak enak di denger. Bukan yang ngomong aja, yang dengerin juga ikut kecipratan dosanya."


"Cuma kecipratan doang 'kan, gak tenggelem basah." Gaka tersenyum.


Hania mencubit lengan Gaka. "Kamu nih, Mas, selalu begitu kalau dibilangin."


"Iya iya, tapi kek gak lengkap aja kalau hidup gue gak mengumpat."


"Kamu 'kan bukan Satrya Higaka yang dulu, Mas. Sekarang kamu Satrya Higaka milik Hania yang sedang berusaha berubah baik. Di mulailah berubah dari hal kecil. Kalau bisa gak perlu mengumpat, ganti kata umpatan dengan bacaan bismilah."


"Hah? Masa orang korupsi dibacain bismilah?" Gaka mengernyit.


Hania tertawa. "Susahlah Mas ngomong sama kamu. Mungkin dah laper, makanya kurang konsen. Yuk, makan dulu."


"Asik nih makan masakan istri terus," ujar Gaka. "Gue sampek bosen makan makanan restoran mulu'. Satu kali makan bisa bayar struk satu juta lebih."


"Pemborosan itu, Mas. Masak sendiri lebih hemat, segini banyak gak sampek dua ratus ribu." Hania mulai mengambilkan lauk pauk.

__ADS_1


"Makan barengan aja." Mata Gaka awas melihati gerakan Hania mengambil makanan. "Kenapa gak makek yang itu?" Dia menunjuk satu wadah berisi mendoan.


"Yang ini biar aku makan. Aku lagi kangen sama ibu, jadi bikin mendoan. Kamu gak ingat waktu pertama datang ke warung mendoan jualan ibu, kamu bilang gak level makan mendoan, udah kayak makanan mengandung racun. Jadi, biar aku aja yang makan."


Sekakmat, Gaka mengusap tengkuk. Dia lupa-lupa ingat, tapi selama ini dia memang jarang bahkan tidak pernah makan seperti itu.


"Itu 'kan dulu, sekarang udah beda. Gue mau cobain deh. Apapun yang lo buat, pasti enak. Karena apa?"


"Apa?"


"Karna lo pasti buatnya dengan penuh perasaan."


"Dua yang paling menonjol dari kamu, Mas. Mengumpat dan menggombal."


"Ha ha ...." Gaka tertawa. Lalu mereka mulai mengisi perut mereka.


Makanan itu belum tandas, tapi ponsel Gaka berbunyi nyaring. Pria itu membaca siapa penelpon, bola matanya memutar ke atas dengan jengah. "Gea," ucapnya.


"Ganggu aja sih," kesal Gaka. Gea Gea Gea! Akhir-akhir ini seolah menjadi momok amat mengesalkan bagi Gaka.


Bagaimana tidak, hampir setiap saat wanita itu selalu mengganggu waktunya bersama Hania.


"Kenapa?"


'Halo, Nak Gaka, ini Tante. Bisa tolong datang ke rumah sakit? Gea sekarang lagi histeris tahu dirinya lumpuh. Tante khawatir banget sama kondisi Gea, tolong kamu dateng kesini ya. Tolong tenangin Gea, cuma kamu yang bisa.' Terdengar Ibu Gina menangis dan khawatir.


"Gak bisa dadakan gini. Gaka lagi ada kerjaan penting yang gak bisa ditinggal."


'Ya ampun, Nak, Tante mohon.'

__ADS_1


"Mas, masih ada waktu buat kita kesana. Ayo kita liat Gea. Dia pasti terpuruk banget."


Gaka membuang napas kasar lalu mengusap wajah. Dia berusaha menolak, tapi malah Hania lagi-lagi membujuknya.



Di rumah sakit. Dari luar ruangan Gea memang bisa terdengar suara tangisan cukup kencang. Gaka dan Hania segera masuk ke dalam. Gea sedang meronta berontak di pelukan ibunya. Terlihat Ibu Gina memegangi tangan Gea agar tidak memukuli bagian paha dan kakinya sendiri.


"Ge, astagfirullah ... tenang, Ge, sabar." Hania mendekat dan memeluk Gea dari sisi yang lain.


"Aku baru tau kalau aku menderita lumpuh untuk waktu selama itu, Han! Bukan cuma wajah yang rusak, tapi kenapa kakiku juga harus rusak! Aku gak bisa berjalan dan akan menjadi mayat hidup yang cuma bisa berbaring dan duduk di kursi roda. Tuhan gak adil. Sama sekali gak adil!" jerit Gea dengan suara tangisan.


"Allah Maha Adil, Ge. Allah tidak memberi musibah di luar batas kemampuan umatnya. Sabar, Ge. Di balik yang terjadi, ada hikmah yang bisa diambil."


"Hikmah apa yang bisa aku ambil dari kejadian ini, Han? Kalau ini terjadi sama kamu, apa kamu masih bisa bersikap tenang?! Apa seperti ini yang kamu bilang adil? Di mana adilnya? Di mana?" teriak Gea.


"Ge, cukup! Tenangkan diri lo. Kalau lo seperti itu lebih memperburuk keadaan lo," ujar Gaka.


"Gaka?" Gea beralih arah pada Gaka. "Gue gak bisa jalan, gue lumpuh, Ka. Gue lumpuh. Gimana gue bisa tenang, hah? Gimana gue bisa tenang? Kalian gak ngerti yang gue alami. Semua orang bilang gue harus tenang, gimana gue bisa tenang?" Gea terisak pilu.


"Walau butuh waktu lama buat sembuh, tapi ada harapan lo bisa jalan lagi," ujar Gaka.


"Lama, Ka. Sangat lama. Masa depan gue gimana kalau gue cuma bisa duduk di kursi roda. Kemarin gue masih punya kepercayaan diri kalau lo masih mau bertahan sama gue. Tapi sekarang, keadaan gue seperti ini, apa lo masih bisa bertahan sama gue? Gue cuma bakal jadi beban. Hidup gue udah gak sesempurna dulu. Hidup gue bahkan sangat mengenaskan." Gea menutup wajah dengan telapak tangan. Tangis yang sudah sedari tadi tak jua terhenti. Semakin terdengar pilu dan menyayat hati.


Hania yang berdiri di sisinya ikut menangis. Membayangkan bila nasib Gea terjadi kepadanya, mungkin juga dia akan sangat sedih. Dia melirik Gaka, memberi isyarat agar Gaka mendekat dan memeluk Gea. Gaka menggeleng, tapi Hania menyorot dengan permohonan. Akhirnya Gaka melakukan.


Ketika Gaka memeluk Gea, tangisan Gea justru kembali terdengar. "Apa setelah ini lo akan ninggalin gue, Ka? Apa setelah tahu gue lumpuh, cinta lo ke gue juga akan lumpuh?" Gea memandang Gaka.


Gaka melirik Hania, wanita itu mengangguk lemah.

__ADS_1


"Gue gak ninggalin lo. Dan cinta gue gak akan lumpuh buat lo." Gaka mengatakan itu pada Gea, namun tatapannya bertemu sendu dengan Hania.


"Bangsat! Gue gak berdaya banget," ucap Gaka dalam hati.


__ADS_2