
"Ga, anak buah lo udah jaga?"
'Sudah siap di tempat dari kemarin, Bos.'
"Terus, gimana hasilnya?"
'Belum ada. Gak ada yang mencurigakan sama sekali. Katanya cuma ibu si target yang keluar masuk apartemen tapi si target sendiri gak terlihat keluar,' ujar seseorang di seberang telepon.
"Suruh awasi terus, Ga. Gue yakin seratus persen, ada yang gak beres. Kalau berhasil, lo naik jabatan."
'Naik jabatan, Bos?'
"Iya."
'Weh, gantiin si Lili dong?'
"Yaps. Gue nyaman sama lo, ntar si caper itu turun jabatan gantiin elo."
'Siap-siap.'
Sepulang dari apartemen Gea, Gaka melajukan mobilnya ke rumah orang tuanya.
Din din ...
Seorang satpam membuka gerbang begitu melihat mobil Tuan Muda mereka datang. Gaka melajukan mobilnya sampai ke halaman utama. Berjajar dengan mobil Pak Arya -- sopir Hania.
"Sayang ...." Baru sampai di teras rumah, Gaka sudah berteriak lantang memanggil Hania. "Sayaaang!"
Pletak!
"Auh!" Gaka mengaduh ketika kepalanya tiba-tiba mendapat tempeleng dari Tuan Haru. "Pa, sakit tau!" sentaknya dengan raut kesal.
"Sakit sakit! Sakit mana sama istrimu yang kamu buat nangis dari semalam!"
"Eh ...." Gaka terkejut. Apa Hania menceritakan semuanya pada papa dan mamanya?
"Semalam kamu dari mana!? Jangan-jangan kamu masih sering ke club? Masih seneng-seneng sama dunia gelap mu? Katanya udah berubah, udah tobat?" runtut Tuan Haru dengan pelototan. "Papa pikir kamu beneran udah berubah, makanya Papa lepas awas sama kamu. Tau masih gini, Papa bakal lebih ketat awasi kamu, Gaka!"
"Hania mana?" Sepanjang itu papanya berkata, ternyata Gaka justru mengabaikannya.
"Mas ...." Hania dan Vara muncul dari dalam rumah.
"Ini nih, anak kurang ajar. Semalam kamu kemana sampek Hania nungguin kamu?" Vara pun sama dengan Tuan Haru, tiba-tiba menjewer telinga Gaka juga mengomelinya panjang kali lebar.
"Aduh duh, Ma, aduh ... apaan sih ini?" Gaka mengusap daun telinga begitu Vara memindah tangan.
"Buset! Tau gini Gaka gak dateng," gerutu Gaka menatap kesal mama dan papanya bergantian. Lalu beralih pada Hania, tersangka utamanya. Entah, Hania bercerita apa dengan orang tuanya.
__ADS_1
Blap! Gaka menutup pintu kamar dengan keras. "Lo cerita apa sih sama Mama dan Papa?" tanyanya masih dengan suasana setengah dongkol.
"Maaf, aku bilang kamu semalam gak pulang."
"Ngapa ngadu?"
"Pas aku dateng, mereka curiga liat wajahku sembab, dan mendesak supaya aku bercerita. Aku 'kan bingung mau alasan apa, gak mungkin juga mau cerita yang sebenarnya, bisa-bisa mereka malah tambah marah. Maaf, ya, Mas." Hania mendekati Gaka dan mengelus lengan suaminya.
Gaka mendengus. "Pantes mereka mikir gue ke club lagi," gumamnya.
"Mas."
Gaka menoleh.
"Jangan lakuin itu lagi," ucap Hania lirih.
Gaka tersenyum singkat. "Lo yang nyuruh. Kenapa? Lo udah nyerah sama rasa cemburu lo?"
Hania memajukan bibir, merajuk. "Aku nyuruh kamu lanjut karna ingin memastikan sesuatu, Mas. Aku ingin cari tau yang sebenarnya tentang Gea. Tapi kamu malah seolah sengaja bersikap begitu sama Gea."
"Lo gak usah cari tau apapun. Bentar lagi juga akan terungkap." Gaka menyandar pada sandaran kursi. Mendongaki langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Hatinya sangat yakin, cepat atau lambat, pengintaian nya akan membuahkan hasil.
Dari kejadian-kejadian yang dirasa ganjil seperti sikap Gea, dan tindakan Gea mengirim pesan kepada Hania sudah membuatnya sangat yakin kalau Gea pasti punya rencana.
"Maksudmu, Mas?"
"Masih siang, Mas." Hania menggeser duduknya agar sedikit jauh dari Gaka.
"Mau siang, sore, malem, tengah malem, juga gak apa. Orang ***** mah gak kenal waktu," ujar Gaka.
"Mulutmu, Mas." Hania mendengus. "Kamu tau seorang istri akan berdosa kalau nolak kemauan suami, tapi kenapa mintanya sekarang sih, Mas? Kita lagi di rumah orang tuamu."
"Di manapun asal ada kasur gak masalah. Apa mau di kamar mandi juga boleh. Sekali-kali cari yang beda."
"Astagfirullah." Hania menggeleng. Gaka tetaplah Gaka. Sebelum dia bersuara lagi, tapi tubuhnya sudah seperti melayang, tiba-tiba saja Gaka menggendongnya.
"Mas!" pekiknya.
"Ssstt!" Gaka memberi isyarat untuk tidak berteriak, berikutnya dia membuang bibir Hania dengan bibirnya. Membopong tubuh Hania dan meletakkan dengan pelan di atas ranjang.
Gaka melepas kemejanya sendiri, karena kalau menunggu keagresifan istrinya, sampai pergumulan mereka selesai Hania tidak akan pernah melepas pakaiannya. Alasannya tentu saja malu.
Kemeja Gaka sudah melayang di atas kasur, lalu dia meraih jilbab Hania untuk dilepas. Dia menatap wajah Hania yang ternyata memerah.
"Berapa kali main celap-celup, masih aja malu-malu gitu. Bikin gemes, pengen gigit deh," ujar Gaka.
"Jangan gitulah, Mas, malah bikin aku tambah malu." Hania tersenyum dan menutup wajah.
__ADS_1
Setelah melepas jilbab Hania, Gaka kembali mendekatkan wajah untuk mencium bibir Hania yang sudah seperti candu baginya.
Ceklek ....
O ... o ! slow motion.
"Pa, kita masuk di waktu yang kurang tepat," ujar Vara terbengong. Sama halnya dengan Tuan Haru.
"Abis ini, gak lama lagi kita bakal denger bahagia, Ma. Mereka udah mulai mencetak cucu, kita tinggal nunggu hasilnya," balas Tuan Haru.
"Mama! Papa!" Gaka berteriak.
Brak .... Vara kembali menutup pintu. Dan tertawa cekikikan bersama Tuan Haru.
"Elah, pakek ada acara gangguan segala." Gaka terlihat kesal. Dia meraih kemeja yang tadi dilepas, tak lupa mengambil jilbab Hania dan menyuruh istrinya untuk kembali memakai jilbab itu.
"Bubar! Ayo pulang! Lanjut di rumah."
Melihat wajah Gaka merajuk, Hania justru menahan senyum. "Dah ku bilang 'kan, Mas, enak tuh malem, pas kita di rumah."
Gaka cuma melirik. Setelah Hania merapikan jilbab, mereka keluar kamar.
"Eh, kalian mau kemana?" Vara dan Tuan Haru ternyata belum turun ke lantai bawah.
"Mau pulang," jawab Gaka singkat.
"Kok pulang? Gak dilanjut?" tanya Vara.
"Mau lanjut di rumah. Mau ngelakuin di kamar mandi, di kolam renang, bebas, gak bakal ke grep lagi."
"Tadi Mama kira kamu sama Hania tengkar, soalnya Mama denger Hania teriak."
"Nah itu dia, Hania emang demen teriak-teriak jadi kalau di rumah mau teriak kenceng juga gak bakal ke denger siapa-siapa."
"Mas!" Hania mencubit lengan Gaka. Malu sekali mendengar perkataan Gaka yang ceplas-ceplos.
Vara dan Tuan Haru meringis. "Oke oke, kalian pulang dan lanjut di rumah kalian aja kalau di sini gak nyaman. Yang penting Mama dan Papa bisa cepet denger kabar bahagia dari kalian." Kedua orang tua itu terlihat sumringah.
"Oke," jawab Gaka dan menggandeng tangan Hania.
Hania menggeleng pelan. Keluarga Gaka memang aneh, batinnya.
.
.
Akak Mei, lama bet kebongkar nya? Sabar ya ges, Akak Mei juga pusing. Dah mau mendekati akhir tapi belum mencapai bab yang cukup. Mood juga berubah-ubah.🥲
__ADS_1
Ntar deh, sekitar 8 hari lagi dah tamat dan akan saya umumin pemenang give away versi cerita ini. 😉🙏🏻