Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Denyut Nadi Terhenti


__ADS_3

Hania yang diusir keluar oleh perawat terus menangis. Padahal baru beberapa menit lalu dia senang mendapati Gaka sudah sadar, namun tiba-tiba saja kondisi Gaka mengkhawatirkan. Pria itu kejang-kejang dengan mata melotot. Apa yang baru saja disaksikan membuat Hania sangat takut.


"Ya Allah, selamatkan Mas Gaka. Jangan biarkan hal buruk terjadi padanya." Hania menutup wajah dan terus menangis. Kekhawatirannya bertambah begitu melihat ada dua perawat datang membawa troli alat medis. Dia bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi dengan Gaka.


Mengingat ucapan Gaka tadi begitu aneh. 'Matinya kita gak ada yang tau 'kan? Gue sadar, tapi satu jam berikutnya kondisi gue lemah dan denyut nadi berhenti. Apa lo juga gak mau peluk gue.'


Apa kalimat itu adalah pertanda bahwa Gaka akan .... Ah! Dia menggeleng kuat. Menepis pikiran buruk yang semakin membuatnya takut.


"Kalau kali ini kamu sadar, aku bakal peluk kamu, Mas. Bakal aku peluk. Ku pikir kamu tadi hanya becanda," gumamnya. Dia menghapus air mata yang terus menerus berjatuhan.


"Tuhan, jangan biarkan ada perpisahan dalam waktu dekat? Kisah kami belum dimulai. Jangan kirim takdir menyakitkan. Beri kesempatan kami untuk menyadari perasaan kami. Engkau tahu bagaimana hatiku, rasaku mulai tumbuh dan jangan Kau pangkas dengan perpisahan." Hania berbicara dalam hati.


Pintu ruangan terbuka.


Hania yang terkejut segera beranjak menghadang dokter. Dokter wanita kisaran paruh baya itu memasang wajah sedih. Jantungnya mulai berdetak tak karuan.


"Dok ...." Hania belum menyelesaikan perkataannya, tapi dokter memberi respon gelengan kepala. Oh, pertanda apakah itu?!


"Maaf, kami sudah berjuang sekuat tenaga juga semampu kami. Tapi Tuhan berkehendak lain," ujar dokter dengan wajah sedih.


Deg ....


Hania seketika mematung. Otak impulsif nya terus menolak kenyataan. Dokter pasti salah menyampaikan kabar pasien.


"Tidak! Dokter pasti salah. Dokter harus memeriksanya lagi. Ba-barusan dia sadar, dan ... dan dia berbicara padaku. Bagaimana mungkin sekarang suamiku ...." Hania menggeleng-gelengkan kepala. Dia semakin terisak. Rasanya begitu sulit mempercayai diagnosis dokter bahwa Gaka tidak bisa diselamatkan.

__ADS_1


"Yang tabah, Nona. Musibah bisa terjadi pada siapa saja dan dalam waktu yang kita sendiri tidak tahu."


Tubuh Hania oleng ke belakang. Dia tidak ingin mempercayai ucapan dokter, tapi perkataan dokter meruntuhkan kepercayaannya.


Seorang perawat terlihat keluar dengan membawa troli alat medis tadi. Dia menghadap dokter dan bertanya. "Dok, apakah semua alat medis sudah bisa dilepas?"


Dokter itu mengangguk. "Beberapa kali kita cek denyut nadi Tuan Gaka, tapi sama sekali tidak terdeteksi. Tuan Gaka mungkin memang ingin menyerah." Dokter itu melirik ke arah Hania. Sedangkan Hania terus saja menggeleng dan terlihat lemas. Kedua tangannya bergetar, sejurus dengan bahu yang bergetar karena tangisan.


Tanpa kata apapun, Hania melewati dokter dan perawat lalu masuk ke ruang rawat Gaka. Berada di tengah ruangan dia terhenti. Bahkan jantungnya pun hampir terhenti melihat tubuh Gaka berselimut sampai menutup seluruh badan.


"M--Maaas Ga--ka?" Dia tergagap di tempat. Tubuhnya hampir ambruk karena seluruh tubuh terasa tak bertulang.


"Mas!!!" Dia menyeret langkah untuk mendekati tubuh Gaka. Dengan tangan bergetar hebat dia mulai membuka selimut putih yang menutupi Gaka.


"Maaasss ...." Tangisnya pecah saat dia melihat wajah pucat Gaka seperti tertidur dalam damai. Tapi siapa sangka pria itu tidur panjang dalam kedamaian.


"Perpisahan kita terlalu buruk. Kamu tidak mengatakan apapun padaku. Kamu hanya meminta aku memelukmu. Sekarang aku akan memelukmu, Mas. Aku akan memelukmu." Hania beralih menjatuhkan diri di atas dada bidang Gaka.


Tangisnya kembali pecah. Tragis, terulang kembali saat kisah yang belum dimulai harus kandas. Namun kali ini lebih menyakitkan karena kandasnya hubungan mereka disebabkan oleh maut.


"Kemarin aku mengatakan perpisahan, tapi bukan perpisahan dengan cara seperti ini, Mas. Bukan seperti ini!" Hania meremas selimut dengan kuat. Bukti emosional yang benar-benar terpuruk.


"Kenapa Tuhan selalu memisahkan aku dengan orang yang ku sayangi. Bahkan aku belum sempat mengatakan apa yang ku pendam padamu, tapi kamu pergi dengan begitu cepat. Maafin aku, Mas, Maafin aku yang telat mengungkapkan perasaan.


Aku sempat egois berpikir mengembalikan mu dengan Gea, dengan begitu aku terbebas dari keadaan rumit juga dengan rasa bersalahku. Mengesampingkan perasaanku padamu, tapi dengan keadaan ini, ternyata aku menyesal. Menyesal karna tidak memperjuangkan perasaanku.

__ADS_1


Aku adalah orang paling menyesal karna telat menyadari dan mengungkap perasan. Maafin aku, Mas. Maafin aku." Hania tak henti menangis dengan terus mengatakan kalimat panjang lebar tentang perasaannya yang selama ini dipendam.


Dia yakin dengan perasaanya, tapi dia belum yakin dengan keadaan. Apalagi hubungannya terlalu rumit dan banyak pertimbangan tentang cinta atau sahabat, dan setelah keadaan seperti sekarang rasanya dia sungguh menyesal.


Menyesal tidak bisa menyelamatkan kedua hubungannya. Antara Gea pun hubungannya sulit diperbaiki. Sedangkan Gaka, dia justru kehilangan cintanya yang bahkan belum sempat terucap.


Hania terus menyelami kesedihan dukanya, sampai tidak sadar jika Vara dan Tuan Haru baru sampai.


"Gaka ...." Vara berlari menuju brankar putranya. Wanita paruh baya itu meraung tak karuan. "Ya Allah, Gaka! Mama gak percaya semua ini!" teriaknya histeris. Tuan Haru mengusap bahu istrinya. Pria berkaca mata itu berganti menunduk untuk menyusut kedua sudut matanya.


"Papa juga gak percaya kamu pergi secepat ini," ucapnya.


"Gaka, bangun, Nak. Jangan tinggalkan Mama dengan cara seperti ini. Kamu gak boleh pergi secepat ini. Kamu anak kesayangan kami, kami gak sanggup menerima kepergianmu." Vara memeluk tubuh Gaka dari arah kanan. Dia mengabaikan tangannya yang terasa sakit, terus saja meraung dengan memanggil nama Gaka.


"Pa, Gaka, Pa. Gaka anak kita, kenapa dia harus pergi secepat ini, Pa."


Bruk ....


Tiba-tiba tubuh Vara melemas dan pingsan di pelukan Tuan Haru.


"Ma ...! Mama ...!" Tuan Haru berubah wajah panik, lalu meminta bantuan perawat untuk memindahkannya di ruang lain.


Hania sangat syok, bahkan belum sempat mengucap satu patah katapun di depan kedua mertuanya.


"Kepergianmu sangat mengejutkan kami, Mas. Ya Allah, Astagfirullahaladzim ... bahkan dalam mimpi pun aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi dengan cepat," ucap Hania yang rasanya sudah tidak sanggup berdiri dengan kedua kakinya. Badannya sangat lemas dan dia mendaratkan tubuhnya di kursi sofa. Kedua tangannya tak beralih memegangi lengan Gaka.

__ADS_1


"Tuhan, umur manusia memang tidak ada yang tahu. Tapi kematian itu sungguh terjadi meski dengan cara tak terduga." Hania menunduk dan kembali menangis di lengan Gaka. "Kuatkan hatiku dan bantu aku untuk mengikhlaskan."


__ADS_2