Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Cleaning Servis


__ADS_3

Di sinilah Hania sekarang. Ibu Kota Jakarta dengan segala padatnya aktifitas setiap penduduk. Kendaraan berwara-wari dengan berbagai merk, jenis dan warna. Sedangkan sisi kiri dan kanan jalan terdampar banyak bangunan pencakar langit.


Hania mengagumi kota yang baru saja dipijaknya. Pantas Gea betah tinggal di kota ini, ternyata begitu ramai dengan hiruk pikuk lautan manusia.


"Pak, Anda tau perusahaan ini ada di mana?" Hania bertanya kepada supir taksi sambil memperlihatkan gambaran gedung perusahaan dari layar ponselnya.


"SAG Grup? Iya saya tau, Mbak."


"Kalau kos-kosan yang paling dekat dengan perusahaan ini Bapak tau, gak? Boleh minta tolong antar ke sana."


"Wah, kalau itu saya kurang tau, Mbak. Saya cuma tau daerahnya aja, tapi gak tau info lainnya. Tapi coba dicari aja, Mbak, tanya-tanya orang di sana nanti." Supir itu memberi ide.


"Boleh, deh, Pak. Tolong antar saya kesana."


"Siap, Mbak."


Hampir 45 menit laju taksi mulai melambat, tak lama kemudian berhenti di depan segerombol anak muda yang sedang duduk-duduk santai di pinggir jalan.


"Adek, daerah sini ada kos-kosan kosong sebelah mana, ya?" Hania membuka kaca mobil dan bertanya kepada salah satu dari anak muda tersebut.


"Gang depan situ ada kos-kosan, Kak, pemiliknya Hajah Maya namanya."


"Makasih, ya, Dek."


"Sama-sama."


Setelah melewati satu gang, taksi berhenti di depan bangunan memanjang. Seperti ciri khas bangunan tempat kos-kosan.


Hania turun dan mencari pemilik kos-kosan. Setelah bertemu dan deal dengan harga yang ditawarkan, Hania bisa langsung menempati bangunan persegi itu karena ada beberapa kamar yang kosong.


"Huft ...." Hania menjatuhkan diri di kasur setelah dari tadi beberes ruangan. Bola matanya mengamati langit-langit kamar, besok pagi sudah interview, dia tersenyum tipis tak sabar menunggu hari esok.


~


Pukul setengah tujuh pagi, Hania sudah sampai di depan gedung pencakar langit. Di sana lumayan sepi karena jam kantor dimulai pukul 7.30.


"Pak, kantor masih sepi, ya." Hania menghampiri penjaga post satpam.


"Ini masih jam setengah 7, bentar lagi rame nya. Mbak pegawai baru?"


"Iya, hari ini saya dapet panggilan interview."


"Oh. Ngelamar bagian apa, Mbak?"


"Cleaning servis, Pak."


"Duh, cantik-cantik ngelamar jadi OB, Mbak?"


Hania terdiam sejenak. "Saya cuma punya ijazah SMA, Pak. Cleaning Servis juga udah bersyukur."


Satpam bertubuh tegap itu mengangguk pelan. "Mbak, jangan panggil saya, pak, kesannya tua banget. Umur saya belum ada tiga puluh tahun."

__ADS_1


Hania tersenyum dan mengangguk. "Mas."


"Itu lebih baik."


Hania mengamati satpam di depannya dengan perasaan sedih, pekerjaan itu mengingatkannya kepada almarhum ayahnya. Andai takdir belum menjemput, dia masih bisa memandangi ayahnya dengan seragam yang sama.


"Mbak ... hallo???" Satpam itu mengibarkan tangannya di depan Hania yang melamun.


"Eh, maaf, Mas."


Satu per satu karyawan mulai berdatangan, Hania memutuskan untuk menunggu di lobi kantor.


"Yah ... cantik-cantik, pergi," gumam satpam tadi.


"Dia kerja di sini, pepet aja terus Al." Rekan kerja satunya menyahut.


"Cakep banget, ya, Pak," ucap satpam bernama Al. Entah kepanjangannya siapa.


"Matamu liat yang bening-bening langsung melek. Buaya lo."


"Ha ha ...."


Di ruangan.


Setelah diberi beberapa pertanyaan, Hania dan lima orang lainnya di giring menuju satu ruang khusus kebersihan. Di sana mereka diberi arahan tentang tugas masing-masing.


Kenapa langsung bekerja? Karena beberapa bagian cleaning servis banyak mengambil cuti. Perusahaan sedang membutuhkan tenaga baru.


Di tempat lain sedang terjadi drama.


"Gaka, bangun, sayang. Coba cintai pekerjaanmu. Setiap hari Mama harus bangunin kamu seperti anak kecil. Malu, Gaka, malu!" Vara mengomel di samping tempat tidur Gaka.


"Gaka ngantuk. Tadi malem main dj sampai subuh," jawabnya yang terdengar seperti gumaman.


Satrya Higaka memang berumur 27 tahun, tetapi jangan tanyakan sikap manjanya di rumah justru melebihi anak TK.


"Cepat mandi dan pergi ke kantor!"


"Ogah."


"Gaka!" jerit Vara dengan kesabaran hampir habis.


"Ada apa, Ma?" Tuan Haru muncul dari balik pintu.


"Apalagi kalau bukan Gaka!" sungut Vara.


Tuan Haru mendekat. "Mama ambilkan air," titahnya.


"Buat apa, Pa?" bingung Vara.


"Air buat mandiin seseorang." Tuan Haru sengaja menjawab di samping telinga putranya.

__ADS_1


"Iya-iya, Gaka bangun! Huh!" Gaka bangun dengan raut kesal, menendang selimut ke bawah.


Vara terkekeh. "Gaka Gaka."


"Gaka ragu, jangan-jangan Papa itu Papa tiri."


"Hust! Mau Papa getok kepalamu!" Tuan Haru mendelik.


"Udah-udah! Cepat bersiap masing-masing. Di ladenin bakal panjang urusannya!"


"Ma, buatin susu coklat," pinta Gaka.


"Dasar anak TK!" ejek Tuan Haru.


"Dasar orang tua kolot!" balas Gaka.


"Orang tua? Berati Mama juga orang tua kolot, dong?" sahut Vara. "Kamu ngatain Mama kolot juga, Gaka?"


"Waduh! Panjang lagi nih urusannya." Gaka berjingkat dan melarikan diri masuk ke kamar mandi.


Begitulah keluarga Tuan Haru, terkadang panas karena sebuah perbedaan pendapat. Terkadang bahagia setiap ada momen spesial, tak jarang bersedih saat Vara harus di rawat karena penyakit jantungnya kambuh. Dan ... tak jarang terjadi banyolan karena sikap manja Gaka.


Tiga puluh menit kemudian keluarga Tuan Haru sudah mengelilingi meja makan.


"Gaka, kamu berangkat bareng Papa."


"Enggak, Gaka naik mobil sendiri aja."


"Kalau naik mobil sendiri kamu bakal bertingkah semaumu. Telat ke kantor, jam makan siang sampai sore kabur." Tuan Haru sangat hapal dengan putranya.


Gaka menyengir. "Enggak, Pa, enggak."


"Gaka, kamu bukan remaja lagi, cobalah serius untuk menggantikan posisi Papa. Hanya kamu ahli waris SAG Grup. Susah payah Papa membangun kembali perusahaan kakek yang hampir bangkrut, jangan sia-siakan perjuangan Papa."


"Gaka juga punya kerjaan sendiri, Pa. Badan Gaka gak kuat harus standby siang malam."


"Berapa gaji seorang dj?"


"Bukan masalah gaji, Pa, tapi kesenangan."


Tuan Haru menghela napas. Dia tak ingin melanjutkan kata yang sia-sia, karena setiap kali membahas hal demikian dia dan Gaka selalu berbeda pemikiran.


"Papa berangkat dulu." Tuan Haru bangun dari duduknya dan gerakannya diikuti Vara. Keduanya berjalan menuju pintu depan.


Gaka? Tak menggubris dan beralih melihat notifikasi di ponselnya. Pesan dari Gea, buru-buru dia melihat.


"Gaka, buruan selesaikan sarapannya. Udah siang loh," kata Vara yang ternyata sudah masuk kembali.


"Iya, Ma. Gaka berangkat sekarang." Pria itu melenggang pergi.


Vara menghantar kepergian Gaka dengan gelengan kepala. "Dasar anak itu selalu saja begitu."

__ADS_1


Pilihan Gaka jatuh pada mobil Porsche merah. Dia segera melajukan kendaraannya sebelum jam kantor dimulai.


__ADS_2