Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Makan Malam


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Gaka dan Hania sudah sampai di depan halaman rumah Hania yang dulu. Walau rumah itu sudah lam kosong, namun halaman tetap terlihat rapi dan bersih. Sebelum Hania merantau ke Jakarta, dia berpesan pada tetangga samping rumah untuk menjaga dan membersihkan rumahnya.


"Assalamualaikum," ucap Hania ketika berdiri di depan pintu. Di samping rumah, gerobak bertuliskan 'mendoan Bu Mirna' masih ada, hanya saja nampak usang tertimpa debu. Mengingatkannya kembali pada masa silam saat dia dan ibunya selalu mengais rezeki menggunakan gerobak itu.


Namun sayang, kini saat dia menemui hidup enak dan cukup bahagia, kedua orang tuanya tidak bisa menyaksikan secara langsung. Mereka telah damai di tempat terindah.


"Kenapa? Pasti keinget pas jualan gorengan."


Perkataan Gaka membuat Hania tersadar. Wanita itu mengangguk. "Aku kangen masa-masa itu. Rasanya baru kemarin aku sibuk bantuin ibu jualan. Sekarang tau-tau udah mau jadi ibu. Gak nyangka lagi jadi istri kamu, orang pertama yang sok gak doyan makan mendoan, dah tau rasanya ketagihan."


Gaka menyengir. "Lupain ngapa sih, diinget mulu. Gue bukan gak doyan, alibi aja karna eneg liat muka lo."


"Apa? Kamu eneg liat muka aku, Mas!"


"Enggak sekarang, sayang. 'Kan kita bahas yang dulu. Kalau sekarang lo imut-imut, dulu aja amit-amit karna lo judes ditambah ngomongnya juga sengak, bikin orang jengkel."


"Lebih sengak kamu dari aku. Congkak pula." Hania membalas dengan mulut mencebik.


"Congkak gue udah bawaan dari lahir, itu harga mati."


"Mudah-mudahan gak nurun ke anakmu, Mas. Bakal saingan kalian berdua."


Hania mengambil kunci yang dititipkan ke tetangga samping rumah. Lalu mengajak Gaka masuk untuk beristirahat lebih dulu, sedangkan supir yang mengantar mereka tadi sudah kembali ke rumah Abian. Dan Raga memberi kabar sedang pergi bersama Abian mengecek kantor anak cabang, dan akan kembali sore menjelang malam nanti. Gaka tidak peduli, menaruh ponsel dan rebahan di atas sofa.


Mungkin karena kelelahan, Gaka sampai ketiduran tanpa berpindah tempat.


Hania menggeleng kecil, lalu keluar rumah untuk sekedar menyapa tetangga yang tadi dan mengucap terima kasih sudah merawat rumahnya. Sekalian mampir ke warung untuk membeli bahan makanan untuk makan malam nanti.


Tempe, tahu, ikan laut, daging ayam, bayam, kentang, wortel, lengkap dengan bumbu dapur dan dua kilo gram beras. Semua belanjaan sudah di dapat, ketika sampai di halaman rumah, di hadang beberapa tetangga yang menanyakan kabar dan pernikahannya. Para tetangga tidak ada yang tahu kalau dia sudah menikah, wajar mereka bertanya.


"Akh! Sialan! Pergi-pergi! Jauh-jauh dari gue! Jauh-jauh!"


"Prang! Gedubrak! Klontang!" Suara gaduh berasal dari dalam rumah, Hania segera kembali ke rumah.


"Mas, astagfirullah, ada apa?! Kenapa, Mas?" Hania terkejut melihat Gaka naik di atas sandaran kursi, masih untung tidak terjungkal.


"Meong-meong ...."

__ADS_1


"Noh, singkirin hewan itu. Kek ***, gue tidur dia ikut tidur di atas junior gue! Hih ... geli banget, pengen gue cekik tapi gue ogah sentuh dia."


"Ampun, Mas ... hewan lucu gini kamu musuhin, sih. Dia pretty, kucing kesayanganku yang aku titipin sama Dila, anak samping rumah itu," ujar Hania memegang dan mengelus bulu-bulu kucing yang lebat dan panjang.


"Pretty apaan? Kek gitu pakek dinamain pretty, kebagusan. Kasih nama aja dompret."


"Taulah Mas, kamu emang dari dulu semaunya sendiri."


"Yang penting singkirin dulu dompretnya. Pegel nih kaki gue!"


Hania cekikikan. "Liat Nak, ayahmu sama kucing aja takut."


"Eh, apa ngadu-ngadu gitu. Ralat, ya! Bukan takut, tapi geli."


Drama tentang kucing sudah usai. Hania mengungsikan kucing kesayangannya kembali pada Dila. Lalu dia lanjut memasak untuk makan malam.


Gaka? Cukup jadi juri dan penonton. Karena setiap ingin membantu justru berakhir ricuh, berdebat dan eyel-eyelan. Akhirnya Hania menyuruh Gaka duduk manis dan jadi kang nonton.


Setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah di Masjid terdekat, mereka berdua lanjut makan malam. Saat santap malam, deru mobil terhenti di halaman depan.


"Aku bukain pintu dulu, ya, Mas," ujar Hania. Gaka mengangguk. Tak lama Hania kembali dengan kehadiran Raga dan seseorang yang membuat Gaka tersedak.


"Enggak. Santai aja," balas Gaka setelah menghabiskan setengah air putih.


"Silahkan ikut makan malam. Aku tadi masak lumayan banyak." Hania menyela.


Raga dan Abian mengambil duduk di seberang mereka. Keduanya bergantian mengambil makan.


"Gak ada niat cari makan gratis, ada laporan kantor yang harus kita bahas," kata Abian.


Gaka mengangkat bahu. "Serah."


Suasana cukup canggung. Hania sendiri memilih diam meski ingin sekedar menyapa Abian.


Gaka melirik istrinya dan Abian bergantian, baru menyadari sesuatu. "Sayang, lo pindah duduk sini."


Hania mengernyit. "Emang kenapa?"

__ADS_1


"Udah, tinggal pindah aja." Gaka berdiri, bersiap bertukar posisi.


Karena Hania tak kunjung pindah, Gaka membungkuk dan berbisik sangat lirih. "Cepetan pindah! Gue gak mau lo berhadap-hadapan sama Abian!"


Hania menggeleng tak percaya lalu akhirnya pindah ke kursi yang di duduki Gaka tadi.


"Han, selamat atas kehamilanmu. Semoga saat persalinan nanti lancar, kamu dan bayinya sehat."


"Aamiin. Makasih, Mas," balas Hania dengan tersenyum. Hanya untuk menghargai Abian.


Tetapi Gaka sudah seperti cacing kepanasan.


"Kalau mau doa, doain aja gue!" sahutnya.


"Yang mau lahiran istri lo, kenapa lo yang minta doa. Di doain biar jadi duda, mau?"


"Enak aja! Jaga bacot lo! Gak pernah ketemu, sekali ketemu bikin kesel. Mau gue gebukin?!"


"Mas, apa, sih, kok malah jadi ribut." Hania melerai.


"Lo denger 'kan dia bilang apa?" Gaka semakin kesal.


"Ya udah, gak usah diperpanjang. Lagi makan gak baik sambil ribut."


Seusai makan malam, Gaka, Raga dan Abian berpindah ke ruang depan.


"Masih aja cemburu sama gue," celetuk Abian.


Gaka menoleh.


"Kalau cinta lo kuat, harusnya gak perlu takut istri lo berpaling sama gue. Percaya diri lo rendah banget. Liat, gue cuma pria cacat, gak ada seujung kuku kalau dibandingin elo." Abian tersenyum remeh. Seolah menertawakan dirinya sendiri.


.


.


.

__ADS_1


Up buat ngobatin kangen kalian aja, ya. Setelah ini langsung part lahiran aja gimana? Terus last episode? Minta persetujuan nih.🙏🏻🤭


__ADS_2