
Mereka bertiga asik menyelami dunia bahagia mereka sendiri. Tidak peduli dengan keadaan sekitar. Tidak peduli ada yang berseru mengatakan mereka seperti anak kecil. Yang mereka lakukan hanya ingin berekspresi sesuka hati.
"Au' au ...." Hania berteriak kecil saat kaki telanjangnya menginjak serpihan karang kecil.
"Lo kenapa, Han?" tanya Bunga. Andira yang tadinya sudah menjauh, kini berbalik lagi.
"Ntar, telapak kakiku sakit, Mbak." Hania duduk di pasir putih tanpa menghiraukan pakaiannya akan kotor. Dia melihat kakinya yang berdarah dan terdapat karang kecil.
"Sssttthhh." Dia mendesis-desis sambil berusaha mencabut karang tadi.
"Cuma karang kecil tapi darahnya banyak, ya, Han," kata Andira.
Gaka yang duduk bersama petinggi lainnya merasa janggal melihat Hania dan teman-temannya. Terlihat Hania meringis dan memegangi kakinya.
Bunga pergi untuk membeli air mineral juga plester, sedangkan Hania dan Andira masih tetap di sana. Tiba-tiba pria jangkung berkaos hitam panjang menghampiri Hania dan Andira.
"Mbak ...."
"Mas ... Al?" Hania terkejut melihat Al si satpam kantor ada di sana juga. Tidak menduga Al juga ikut liburan kantor.
Tanpa meminta izin, Al ikut duduk bergabung bersama mereka. "Seneng nih bisa ketemu Mbak, bisa ngobrol sepuasnya," ujarnya.
Hania tersenyum kaku menanggapi ujaran Al. Dia menatap sekeliling untuk mencari keberadaan Gaka. Memastikan pria itu tidak melihatnya sedang mengobrol dengan Al, jika tidak, Gaka pasti akan cemburu buta. Dan itu menakutkan.
"Kenalin Mas, ini Andira, temenku." Hania memperkenalkan Andira pada Al. Dia berharap keduanya mau saling mengobrol.
"Gue, Andira." Andira mengulurkan tangan di depan Al.
Pria itu menerima uluran sambil membatin. "Yang ini mah sama kayak gadis kota lainnya."
Al terang-terangan terus memandangi Hania. Membuat Hania was-was. Ingin menghindar, tapi tidak bisa. Ah, akhirnya kacau.
Bunga sudah kembali menenteng kantong kresek putih berisi air mineral dan beberapa snack. "Cuci dulu lukanya biar bersih baru ditempelin plester," ucapnya. Dia membuka botol dan mengguyur telapak kaki Hania. Ternyata cairan merah masih merembes keluar.
"Sini ku bantu." Entah, tiba-tiba Al merebut plester dari tangan Bunga, lalu memakaikan di telapak kaki Hania yang terluka.
"Mas! Gak usah!" tolak Hania. Dia risih dan takut bila Gaka tahu.
"Darahnya keluar terus, lukanya agak dalem ini mah," kata Al, tidak peduli dengan sergahan Hania.
Di jarak sepuluh meter, kedua tangan Gaka mencengkram erat pegangan kursi yang diduduki. Darahnya seketika mendidih melihat Hania di dekati si pria melarat. Julukan yang dibuat untuk Al.
__ADS_1
"Saya kesana sebentar," izin Gaka. Dia sudah tidak tahan melihat istrinya di dekati pria lain.
"Tuan Gaka?" Bunga lebih dulu mengetahui kedatangan Gaka. Belum menoleh pun Hania sudah berdebar.
Gaka dan Al saling tatap, lalu Gaka beralih pada Hania. "Lo kenapa?" tanyanya dengan nada datar.
"Gak pa-pa, Mas. Eh, Tuan." Hania gugup justru salah menyebut Gaka.
"Minggir!" Gaka mengusir Al. Dia berjongkok di depan Hania. Lalu, tanpa apapun melepas plester yang tadi ditempel oleh Al.
"Sstt, au! Kenapa dilepas, sih," ujar Hania tanpa sadar. Bunga dan Andira saling tatap. Mereka saling berpikir, kenapa Hania begitu berani berbicara seperti itu di depan Gaka.
"Tahan bentar," ujar Gaka. Sedikit tarikan dia menyobek kaos dalamnya untuk membalut luka itu. "Lebih aman sementara dipake kain daripada plester. Lo kudu periksain luka itu ke dokter karna takutnya bisa infeksi."
Bunga dan Andira kembali bersitatap. Mereka sama-sama aneh dengan sikap Gaka yang se-peduli itu pada Hania. Tak terkecuali juga dengan Al, pria itu mengernyit dan terlihat keheranan.
Bagaimana tidak! Seorang Gaka, bos mereka sekaligus pemilik perusahaan sampai rela menyobek kain berharga demi Hania yang notabene cuma seorang cleaning servis. Bukankah itu mengherankan.
"Ini hanya luka kecil, beberapa hari juga bakal sembuh. Terima kasih atas saran, Tuan," ucap Hania.
"Mending balik ke kamar. Gak usah jalan-jalan lagi," ujar Gaka.
"Mbak, aku bantu Mbak ke kamar," kata Al menawari bantuan.
"Gak usah! Dia ada temennya yang bisa bantu dia ke kamarnya."
Fix. Al semakin heran dengan sikap bosnya. Harusnya itu bukan urusan Gaka.
"Iya, Mas Al. Biar aku ke kamar bareng temen-temenku aja," timpal Hania. Dia berdiri dan mengajak Bunga juga Andira untuk mengantarnya kembali ke kamar.
"Gila gila gila! Lo ada hubungan apa sih sama Tuan Gaka? Kok bisa dia samperin lo dan se-peduli itu sama lo," cerocos Bunga.
"Iya. Apalagi Tuan Gaka rela nyobek kaosnya yang mungkin harganya bisa sampek jutaan demi elo. Itu terlalu berlebihan kalau dianggap sebagai kepedulian bos terhadap karyawannya," sahut Andira. Lalu dia berkata lagi, "Jangan-jangan Tuan Gaka suka sama lo, Han?"
"Ah, ngaco lo, Ra! Lo samain kek di film-film gitu, CEO suka sama pegawai rendahan kek kita. Halu lo ketinggian," balas Bunga.
Sedangkan Hania diam saja dengan jantung berdebar. Dia justru membayangkan, kalau sampai Bunga dan Andira tahu dia adalah istrinya Gaka. Tidak tahu lagi bagaimana reaksi kedua temannya itu, pasti sangat syok.
"Mbak, Ra, kalian balik ke pantai aja. Biar aku istirahat sendiri di kamar," kata Hania.
"Gak tega kita ninggalin lo sendirian," ujar Bunga.
__ADS_1
"Iya, masa' lo di sini sendiri," timpal Andira.
"Gak pa-pa, Mbak. Aku gak pa-pa sendirian. Udah, kalian balik lagi aja. Sayang kalau melewatkan momen indah. Katanya kalian mau liat matahari terbenam."
"Tapi yakin lo gak pa-pa sendirian?" tanya Bunga.
"Gak pa-pa."
"Ya dah, gue sama Dira balik ke pantai. Lo istirahat ya."
Hania mengangguk. Sedangkan Bunga dan Andira melangkah kembali ke pantai.
Belum sampai lima menit rebahan, tapi daun pintu ada yang mengetuk dengan tidak sabaran. Hania bangkit untuk membukanya.
Begitu pintu terbuka, Gaka menerobos masuk begitu saja. Dia menggendong tubuh Hania dan membawanya kembali rebahan di atas busa.
"Mas ...."
"Gue mau obati luka lo dengan benar." Gaka duduk di ujung ranjang. Dia mengangkat kaki Hania dan menaruh di atas pahanya. Dari saku hoodie mengeluarkan plastik kecil berisi salep luka, cairan antiseptik, kasa dan plester.
"Jangan ulangi kek tadi. Gue gak yakin bisa tahan diri buat gak marah di depan umum kalau nyaksiin lo deket sama cowok."
"Lo tau ... gue udah tahan diri banget buat gak marah."
"Kalau gue gak pernah janji sama lo, gue udah bongkar pernikahan kita di depan cowok melarat itu biar dia gak berani deketin lo lagi. Apalagi waktu dia perhatian sama lo, dari mata juga udah keliatan kalau dia suka sama lo." Sambil mengobati luka, Gaka terus mengomel.
"Gue marah, lo malah senyum-senyum kek gitu." Gaka melirik Hania yang masih tersenyum lucu.
"Aku suka pas kamu cemburu gini, Mas. Kelihatan Sweet."
"Gak perlu dibongkar, kalau kamu ngelakuin kek gitu lagi di depan umum, lama-lama semua orang juga bakal tahu hubungan kita," imbuh Hania.
.
.
.
Abis ini janji kebongkar. 👌🏻 Ntar up satu lagi deh. Selamat menunggu, ya.😄
Salam sekebon-kebon buat kelen.😘
__ADS_1