
"Dengan berat hati saya menyampaikan bahwa pasien mengalami koma."
"Apa? Koma, Dok?" Hania sangat terkejut mendengar penjelasan dokter. Separah itukah kondisi Gea? Dia mengusap wajah beberapa kali, tidak ingin menangis, namun air matanya seolah jatuh dengan sendirinya.
Gaka merentangkan tangan memeluk Hania. Wanita itu justru menangis dalam pelukannya. Dengan lembut dia mengusap punggung yang bergetar itu.
"Dan ada satu hal penting lagi yang akan saya sampaikan, kami sudah melakukan pemeriksaan melalui Rontgen, hasilnya, sementara ini saya menduga pasien juga mengalami vertebrae atau disebut trauma tulang belakang yang menyebabkan pasien mengalami kelumpuhan dimana pasien kehilangan kemampuan menggerakkan anggota tubuh bagian bawah."
"Astagfirullahaladzim ...." Hania mendadak lemas di pelukan Gaka. Gaka pun segera mendudukkan Hania di kursi tunggu.
"Tuan, Nona, saya permisi. Jika ada apa-apa, bisa memanggil saya."
Gaka mengangguk dan dokter itu segera berlalu.
Di samping Hania yang menangis, Gaka pun terdiam seribu bahasa. Dia masih kesal dengan Gea, tapi mendengar vonis dari dokter, dia pun merasa kasihan dengan nasib naas yang menimpa mantan kencan buta nya itu.
"Ya Allah, Mas, kondisi Gea separah itu," ujar Hania membuyarkan pikiran Gaka. Pria itu menoleh, dan kembali memeluk Hania.
"Apa kondisi Gea bisa kembali pulih, Mas?" Hania terus bertanya disela-sela tangisannya.
"Gue juga gak tau. Dokter pasti nanganin Gea dengan baik. Kita serahkan pada kemampuan dokter." Gaka sendiri tidak tahu bagaimana nasib Gea selanjutnya. Karena memang seseorang yang mengalami koma tidak bisa ditentukan kapan orang itu akan sadar. Hanya Tuhan yang bisa memberi keajaiban pada kesadaran Gea. Bahkan dokter pun tidak bisa berbuat banyak selain memantau kondisi Gea.
Seusai sholat subuh dan kembali ke ruangan Gea, Hania dan Gaka dikejutkan dengan suara tangis seseorang. Hania mengajak Gaka segera masuk ke ruangan Gea. Sumber suara itu ternyata dari ibunya Gea yang sudah ada di dalam sana bersama ayahnya Gea.
"Assalamualaikum, Om, Bibi." Hania masuk dan mendekati orang tua Gea.
"Hania ...." Ibu Gea memeluk Hania dan kembali menumpahkan tangisan.
"Yang sabar, Bi," ucap Hania dengan suara lirih.
"Gea, Han. Kenapa Gea bisa seperti ini?" Sebagai orang tua yang jauh dari anaknya, tentu saja ibunya Gea sangat terkejut mendengar kabar buruk yang terjadi pada putrinya.
Selepas mendapat telepon dari Hania semalam, ibunya Gea segera berkemas dan memesan tiket pesawat untuk segera terbang ke Ibu Kota Jakarta. Bahkan sang suami yang masih terikat pekerjaan juga harus dibatalkan, dan ikut ke Ibu Kota juga. Mereka sangat syok dan khawatir mengetahui putri mereka koma.
__ADS_1
Semalam Hania memaksa Gaka untuk menginap di rumah sakit, dia tidak tega bila Gea tidak ada yang menemani. Tak ada pilihan, Gaka pun menyetujui.
Saat ini Gaka dan Hania menunggu di luar ruangan.
"Sehabis ini kita pulang. Orang tua Gea udah dateng," ucap Gaka.
"Iya, Mas, kita juga harus ke kantor."
"Di kantor juga apa lo bisa kerja dengan baik? Pulang dan istirahat aja, semalam tidur lo kurang nyenyak."
"Enggak, Mas, di rumah malah terus kepikiran Gea. Biarin aku berangkat ke kantor, ya," bujuk Hania.
"Oke, gak pa-pa, ntar di kantor gak usah ngapa-ngapain. Istirahat aja di ruangan gue."
Hania tidak membalas, dibiarkan saja Gaka berpikiran semaunya. Dia malas untuk berdebat ataupun berbicara banyak.
Kriet ....
Pintu berderit pelan, tak lama ibunya Gea keluar dengan wajah sedih. Hania berdiri, menyambut tangan ibunya Gea untuk di ajak duduk.
Hania sedikit kebingungan untuk menjelaskan. Cerita kisah mereka begitu rumit, bahkan sangat panjang bila di ceritakan dari awal.
Namun, melihat sikap baik Ibu Gina, Hania menduga kalau Gea belum menceritakan keretakan hubungan mereka. Bila Ibu Gina sudah tahu, tidak mungkin seorang ibu akan berlaku baik setelah apa yang terjadi.
Hania cukup lama belum bersuara, benar-benar bingung ingin mengatakan apa. Tapi Ibu Gina terlihat penasaran dengan keberadaan Gaka. Beberapa kali ibu paruh baya itu melihat ke arah Gaka.
"Han, dia itu siapa?" tanyanya.
Hania menoleh pada Gaka yang juga sedang melihat ke arahnya. "D-dia, suamiku, Bi."
"Suamimu? Kamu sudah menikah? Kenapa tidak memberitahu Bibi? Bahkan Gea juga tidak kasih tau."
"Iya, maaf, Bi. Hania hanya menikah biasa. Jadi tidak mengadakan pesta."
__ADS_1
Ibu Gina mengangguk-angguk. "Gea juga pas waktu pulang kemarin sempat bilang punya pacar, dan bilang sangat serius dengan pacarnya. Tapi Bibi belum dikenalin, jadi Bibi belum tau seperti apa pacarnya Gea. Apa kamu juga kenal dengan pacarnya Gea? Kenapa dia tidak ada di sini? Apa dia belum tau kalau Gea mengalami kecelakaan?" runtutnya.
Deg .... Hania menegang, saling pandang dengan Gaka. Ternyata benar dugaanya, bahwa Gea belum menceritakan apapun pada ibunya.
Selama ini Ibu Gina dan Pak Delio memang sangat sibuk bekerja, hingga tak ada waktu bersama Gea. Untuk itulah, keharmonisan keluarga kurang terjalin. Dan Gea tidak pernah menceritakan jauh tentang kehidupannya di Jakarta kepada orang tuanya. Ibu Gina dan Pak Delio sendiri tahunya Gea hidup dengan baik, kuliah sambil merangkap bekerja.
"Ha-Hania ...." Belum usai Hania berkata, Gaka sudah menyelanya.
"Tan, kami permisi dulu. Setelah ini kami harus ke kantor," ucap Gaka.
"Oh, iya iya. Han, makasih ya, udah jagain Gea semalaman. Makasih juga buat suamimu."
"Iya, Bi. Bibi yang sabar, ya. Yang tenang juga, jangan sampai Bibi kalut memikirkan kondisi Gea. Insya Allah, Bi, Allah akan memberi kesembuhan untuk Gea." Hania mengelus punggung Ibu Gina.
Dulu, persahabatannya bersama Gea sangat erat terjalin, bahkan Ibu Gina dan Pak Delio juga sangat baik kepada Hania. Namun, setelah apa yang terjadi, entah seperti apa kelanjutannya kalau nanti kedua orang tua Gea sudah tahu.
"Kalau ada waktu, sering-sering kemari, ya, Han."
"Iya, Bi. Pasti Hania sering kesini." Bahkan Hania memanggil Ibu Gina dengan sebutan Bibi, karena hubungan baik mereka.
Gaka dan Hania sudah masuk ke dalam lift.
"Mas, gimana ini? Kenapa keadaan harus serumit ini lagi? Ternyata Gea tidak menceritakan apapun tentang kita."
"Ya nanti perlahan-lahan kita jelasin yang sebenarnya," balas Gaka datar.
"Aku gak tega. Mereka pasti sedih banget, kalau kita jelasin sekarang aku takutnya Bibi semakin sedih dan bakal marah sama kita."
"Sayang, biarkan mereka marah, harusnya emang seperti itu reaksi mereka. Tapi tindakan Gea ke elo juga keterlaluan, kalau mereka udah tau, kudunya mereka ngerti juga dengan kita."
.
.
__ADS_1
.
Abis ini saya skip ya, biar gak lama-lama. Udah konflik ini insya allah kisah mereka akan tamat. Tapi masih lumayan lama sih. Intinya tinggal satu konflik lag. Kayaknya. ðŸ¤