
Seperti yang disepakati semalam. Eh, bukan-bukan disepakati, lebih tepatnya kesepakatan sebelah pihak karena Gaka sebenarnya tidak mau. Tapi karena paksaan Tuan Haru, pria yang memiliki tato sayap burung di leher bagian belakang itu terpaksa menurut.
Sore ini mereka akan berkunjung ke rumah Bu Mirna. Silahturahmi sekaligus menegaskan uang kompensasi yang harus diterima Bu Mirna, tanpa adanya penolakan lagi. Selain itu, ada satu lagi niat Tuan Haru yaitu tentang Gaka. Tuan Haru ingin Gaka meminta maaf secara langsung atas perbuatannya yang telah membuat sebuah keluarga kehilangan anggota keluarga karena keteledoran putranya itu.
"Ck! Ngebetein banget," gumam Gaka dengan kesal. Jangan tanyakan wajahnya yang telah suram durja sejak dia masuk ke dalam mobil.
Beberapa saat hening di dalam mobil.
"Sayang, kamu ketemu wanita kurang sopan kemarin dimana?" tanya Vara memecah kesunyian karena suami dan anaknya sedang sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.
"Maksud Mama, Gea?" Gaka memastikan, menoleh ke belakang dan mendapati Vara mengangguk.
"Wanita yang deket sama Gaka memang nggak jauh beda. Semua tampilannya seperti itu," celetuk Tuan Haru tanpa beralih dari layar ponselnya.
"Memang semua wanita masa kini berpenampilan begitu, Pa. Toh, malah enak dipandang," jawab Gaka blak-blakan.
Buk !!!
Vara memukul bahu putranya. Yang dipukul mengaduh kesakitan. Bisa-bisanya Gaka mengungkapkan seperti itu.
Vara beralih melihat suaminya. "Bibitmu, Pa. Keturunanmu! Gak jauh beda dari kamu dulu."
"'Kan dulu, Ma. Sekarang enggak."
"O, jadi Papa dulu juga seneng cewek model kek Gea, ya, Ma? Pantes ...."
"Pantes apa Gaka?" tanya Tuan Haru.
"Panteslah Gaka begini, 'kan ada turunannya. Jadi, Ma, jangan salahin Gaka, salahin juga Papa."
"Sudah-sudah!" Vara mencoba menghentikan.
"Walau Papa suka yang begitu, tapi Papa tetap berpendirian untuk mencari pendamping hidup yang baik."
"Lah, egois, dong! Papa seneng begitu kok cari yang baik," timpal Gaka.
"Karna Papa berpikir, pernikahan itu bukan sekedar menyalurkan kepuasan, wanita baik bisa menjadi jalan kita memperbaiki diri. Ada masa kita bermain, ada masa kita serius bertanggung jawab atas pemilik kehidupan. Dan juga, wanita baik akan melahirkan penerus yang baik."
__ADS_1
"Widiiih!!! Tumben Papa bijak?"
"Gaka! Kalau ada orang tua berbicara kamu harus dengarkan. Suatu saat kamu akan merasakan kehilangan nasehat Mama dan Papa kalau kami sudah meninggalkan dunia ini, Nak. Berhenti bersikap seperti anak kecil dan tolong dengarkan pembicaraan kami yang serius."
"Tapi yang perlu Gaka jelaskan agar Papa dan Mama tau, sebenarnya Gea gadis baik-baik. Jangan nilai penampilan Gea, jaman sekarang memang wajar berpakaian seperti itu. Bahkan hampir semua wanita memilih style terbuka."
Pembicaraan mereka terhenti saat mobil yang ditumpangi berbelok ke arah gang perumahan khas seperti pedesaan. Kebanyakan memiliki halaman luas dengan bangunan yang belum ber-arsitektur moderen.
Saat mobil itu terhenti di pelataran rumah sederhana, sang pemilik rumah terlihat baru pulang dari mengais rezeki. Hania dibantu ibunya sedang mengusung peralatan jualan mereka.
"Itu rumah mereka, Pa?" tanya Vara dengan tatapan terkejut. Rumah yang nampak sederhana sekali.
"Ayo, kita turun." Tuan Haru dan Vara turun lebih dulu, Gaka yang nampak ogah-ogahan juga akhirnya ikut memijakkan kaki di tanah rumah Hania.
Pemuda itu sebenarnya malas melihat raut Hania yang terlalu cuek dan sinis terhadapnya. Semua membuat moodnya hancur, padahal kaum hawa di luaran sana selalu mendamba senyumannya, sedangkan gadis itu justru tak terkesan sama sekali. Itulah yang membuat Gaka malas. Harga diri sebagai pria paripurna seolah ternoda karena sikap Hania.
"Tuan, Nyonya ...," sambut Bu Mirna ramah.
"Selamat sore, Bu," ucap Vara.
Hania tersenyum dengan orang tua Gaka, tetapi senyumnya luntur saat arah matanya melihat Gaka.
"Napa lo?!" Gaka menggertak tanpa suara. Wajahnya bertampang sangat sinis.
Hania menghela napas dan membuang pandangan.
"Gaka, kenapa kamu begitu?" Vara mengernyit melihat Gaka berekspresi seperti itu.
"Gak apa, Ma. Hawanya panas aja," jawabnya asal.
"Panas apanya, tuh matahari udah tenggelam. Ada pohon besar, di sini adem gini."
"Hati Gaka yang panas karna di lingkungan bersih, sedangkan Gaka sukanya yang kotor." Gaka mengeraskan suaranya, sengaja agar seseorang bisa mendengar ucapannya.
"Kamu ngomong apa, Nak?" Vara tidak mengerti ucapan Gaka.
"Gak, Ma. Ayo, masuk aja."
__ADS_1
"Silahkan duduk." Bu Mirna kembali mempersilahkan tamunya untuk duduk.
"Ada keperluan apa Tuan sekeluarga datang lagi ke rumah saya? Apa Nak Abian tidak memberitahukan pesan saya bahwa keluarga Tuan tidak perlu bertanggung jawab apapun lagi. Saya sudah mengikhlaskan musibah yang sudah berlalu," ucap Bu Mirna langsung. Urusan apalagi yang membuat keluarga penabrak suaminya itu datang jika bukan masalah tanggung jawab.
Tuan Haru mengangguki ucapan Bu Mirna. Dia akan berbicara tapi ditahan oleh Vara.
"Terima kasih atas kebesaran hati ibu sudah mengikhlaskan. Kedatangan kami ke sini berniat baik, Bu. Saya tahu ibu bisa ikhlas, tapi tolong jangan tolak kebaikan kami untuk meringankan beban. Hati kami belum tenang bila ibu belum menerima niat baik kami," ucap Vara lembut.
"Saya menghargai niat baik keluarga ibu, tapi saya dan putri saya juga tidak mau terkesan menjual kesedihan kami."
"Kami tidak menilai begitu, Bu."
Obrolan mereka terhenti saat Hania terlihat menyembul dari balik horden pintu tengah, perlahan wanita itu berjalan mendekat membawa nampan berisi minuman juga sepiring mendoan untuk suguhan tamunya.
"Silahkan, Tuan, Nyonya, Nak," ucap Bu Mirna.
"Terima kasih, Bu, jangan sebut kami tuan dan nyonya. Sebut saja nama kami. Ini suami saya Haru, saya sendiri Vara dan itu putra kami satu-satunya, Gaka." Vara memperkenalkan.
"Saya tidak enak menyebut begitu. Kata Nak Abian, Anda adalah pemilik perusahaan tempat suami saya bekerja. Lancang bila saya memanggil dengan nama saja."
"Tapi Anda juga bukan bawahan kami langsung."
Obrolan mereka didominasi suara Ibu Mirna dan Vara, Tuan Haru diam saja. Dan Gaka? Pria itu berpura-pura sibuk bermain ponsel, tapi tak jarang pria itu mengamati rumah Hania. Entah apa yang dipikirkan.
"Gaka! Jangan pura-pura lupa tujuan kita kemari. Kamu harus minta maaf langsung dengan keluarga mereka." Tuan Haru berbicara lirih mengingatkan putranya.
"Iya-iya."
Entah mengapa Gaka sedikit gugup saat dia harus meminta maaf kepada Bu Mirna.
"Ekhem ...." Gaka berdehem untuk mencari perhatian. Semua menoleh ke arahnya.
"Bu, karna keteledoran saya waktu itu, ibu dan anak ibu harus kehilangan orang yang kalian sayangi. Dengan rasa sesal saya, saya benar-benar minta maaf. Permintaan maaf saya tidak bisa mengembalikan semuanya, Andai waktu itu saya tidak teledor, mungkin musibah di keluarga ibu tidak terjadi. Saya sungguh-sungguh meminta maaf."
Semua tercengang mendengar perkataan Gaka. Bahkan Vara sampai terbelalak dengan mulut terbuka. Putranya yang susah diatur dan selalu berbuat seenak hati bisa bertutur kata lembut dan se-sopan itu.
Malaikat pencatat amal buruk pun pasti tercengang, sedangkan malaikat pencatatan amal baik yang biasanya hanya diam pasti sedang sibuk mencatat kebaikan Gaka barusan.
__ADS_1