
Hania berjalan cepat menuju kantor, lima menit lagi jam kerja segera dimulai, dia takut telat untuk menempelkan kartu absensi.
Bibirnya menggerutu kesal, semua gara-gara Gaka, pria itu telah merecoki paginya. Terus berkata tidak jelas dan membuang waktu saja. Setelah dia marah dan mengacungkan gagang sapu, barulah pria itu mau pergi.
Sedangkan Gaka sudah datang dari 20 menit lalu, saat ini sedang mengomel tidak jelas gara-gara kesadisan Hania. Dia berniat baik, tapi wanita berselera melarat itu justru mengusirnya seperti penjahat.
"Sialan emang dia! Bodo amatlah, mau susah mau apa, gue gak peduli lagi. Persetan sama tanggung jawab, gue udah mau tanggung jawab tapi dianya yang gak mau. Bukan salah gue dong. Dia aja yang tolol milih hidup susah."
Gaka mengambil berkas penting untuk di bawa ke ruang rapat. Dia ditemani Lili dan satu staf lainnya. Sampai di sana, beberapa orang penting sudah menunggu kedatanganya.
"Silahkan dimulai," ucapnya.
Rapat dimulai dengan keadaan tenang. Semua terlihat fokus dengan pembahasan produk baru yang sedang pada tahap perancangan. Satu produk yang dipimpin oleh Gaka, termasuk untuk iklan jabatan barunya nanti.
~
Usai mengerjakan pekerjaannya, Hania menemui staf kepala kebersihan. Dia mengutarakan keinginan untuk berhenti dari pekerjaannya.
"Kenapa, Han? Belum juga ada satu bulan, mendadak mau resign. Bukannya lo punya denda dari atasan, lo gak bisa keluar sembarangan," tukas kepala kebersihan yang bernama Bu Risa.
"Tidak ada masalah apapun, Bu. Denda saya juga sudah impas. Saya mendapat pekerjaan lain, dan lebih nyaman kerja di sana. Tolong berikan saja surat pengunduran diri saya kepada atasan," ujar Hania.
"Ya sudah kalau itu maumu. Nanti saya kasih suratnya."
"Terima kasih, Bu." Hania menuju loker dan mengemasi barang-barangnya. Meski sulit mendapat pekerjaan dalam waktu dekat, tapi dia bertekad untuk mencari pekerjaan lain.
Dia telah lama belajar melupakan kejadian kelam itu, tapi Gaka terus saja membicarakan uang kompensasi. Membuatnya ingat dengan almarhum kedua orang tuanya yang pergi dengan waktu sesingkat itu.
Sebelum jam kantor selesai, Hania meminta izin untuk pulang lebih dulu. Dia membawa semua barang-barangnya.
"Mbak mau kemana?" tanya Al yang berdiri di depan post satpam sengaja menunggu Hania lewat. Dari Hania keluar gedung, Al sudah menangkap kedatangan wanita itu.
"Mau pulang, Mas."
"Loh kok pulang? Ini masih jam tiga."
__ADS_1
"Saya minta izin pulang."
"Kenapa?"
"Saya sudah mengajukan surat pengunduran diri. Mulai besok udah gak kerja di sini lagi," ujar Hania.
"Hah, Mbak ngundurin diri?" Pria itu terkejut. "Apa gara-gara masalah sama Tuan Gaka?"
"Mas tau?" Hania beralih terkejut.
"Ada anak kantor yang cerita," jawab Al. Dia maju satu langkah untuk lebih dekat dengan Hania. "Kalau gak inget dosa, udah aku culik dan ku gebukin tuh orang sampek masuk rumah sakit. Pengen sekali-kali kasih pelajaran biar sedikit baik."
Hania tersenyum. "Mas ada-ada aja. Bukan gara-gara itu kok, Mas. Saya udah dapet kerjaan di tempat lain."
"Kerja di mana, Mbak? Al galau nih Mbak keluar dari sini. Ada lowongan lainnya gak, biar aku ikut kerja di tempat Mbak yang baru."
"Saya kerja di jalan, Mas, panas-panasan. Mau?"
"Gak pa-pa kalau cuma panas badan, daripada di sini hatinya yang panas."
"Iya, hati-hati."
Di Ruangan Gaka.
Pukul tiga sore Lili mengetuk ruangan Gaka. "Tuan, cleaning servis yang Anda denda kemarin mengundurkan diri."
Gaka mendongak. Lili menaruh surat di atas meja. Setelah itu kembali keluar.
Gaka terdiam. Dia tidak menyangka Hania sungguh-sungguh dengan ucapannya tadi.
"******!******!" Gaka mengumpat. Tiba-tiba merasa kesal dan marah. Dia juga menyesal telah memberi tawaran impas.
Dia bangkit, mengambil jas lalu menyuruh bawahannya untuk menyiapkan mobil.
"Kenapa gue marah, kesel, gak jelas gini sih!" gumamnya. "Lagian tuh cewek sok banget. Baru ini ketemu cewek sok-sokan gak butuh duit. Munafik banget, padahal hidupnya susah." Di jalan Gaka terus marah-marah tidak jelas, mengumpat dan menjelek-jelekkan Hania. Moodnya berubah berantakan. Dia menelpon temannya untuk diajak bertemu.
__ADS_1
~
Hania melipat mukena dan menaruh di lemari kecil. Dia yang belum makan malam memutuskan untuk membeli makanan di luar. Dia lupa kalau persediaan mie instan dan telur sudah habis.
Walau sekarang lebih jam 7 malam, dia tetap keluar untuk pergi ke supermarket.
Suasana memang masih ramai, ada beberapa pemuda yang nongkrong, tapi Hania tidak takut karena sudah mengenal mereka.
Malam gelap gulita, langit tampak hitam pekat tanpa ada bintang sama sekali. Mengetahui hujan akan segera turun, Hania mempercepat langkahnya.
Tidak lama dia berada di supermarket, setelah membeli mie instan, telur, air mineral, dan camilan, dia bergegas pulang. Di luar gerimis mulai turun, Hania memilih langsung pulang daripada menunggu hujan reda.
Rok plisket coklat tua bergoyang-goyang saat dia berlarian kecil di pinggir jalan. Kantung belanjaan dia angkat ke atas untuk menghalau air sebisanya.
Hania akan menyeberang jalan, melihat ke kiri saat sorot lampu mobil mengarah padanya. Dia bingung karena mobil itu melaju dengan berbelok-belok.
Wanita mengenakan kemeja putih itu mematung saat dengan cepat mobil melaju ke arahnya.
Bruuukk! Semua langsung menggelap.
"Hei, bangun! Jangan pura-pura pingsan lo! Munafik, gue muak sama lo!" Gaka bernada sinis.
"Hei!" Pria yang sedang dalam pengaruh alkohol itu berbicara keras untuk membangunkan Hania, karena tidak ada pergerakan sama sekali akhirnya dia membopong tubuh Hania dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Kedua kalinya dia berkendara dan mencelakai orang, kepala yang berat membuatnya tak bisa berpikir panjang. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, tapi Hania masih belum bangun. Padahal tidak ada darah atau luka sama sekali, harusnya tidak parah. Mungkin hanya pingsan dan nanti akan segera sadar.
Gaka sempat berhenti sebentar, dia bingung harus membawa Hania kemana. Ke rumah sakit? Tidak mungkin! Dia takut kalau saja ada mata-mata Tuan Haru mengetahui dan melapor. Dipastikan kali ini papanya akan marah besar.
Ke tempat tinggal Hania? Mana mungkin? Dia saja tidak tahu di mana gadis itu tinggal.
"Maesaroh! Bangun lo!" sentak Gaka.
"Cewek sok-sok-an! Bangun! Jangan ngerepotin gue! Gue turunin di jalan mampus lo."
"Hei ... seenggaknya bangun bentar, kasih tau lo tinggal di mana."
__ADS_1
"Ah, budek lo!" Gaka berbicara sendiri. Alkohol membuatnya merancau tidak jelas. Dia kembali menghidupkan mesin mobil dan mengarah ke jalan kos-kosan Hania.