Kembalikan Bahagiaku

Kembalikan Bahagiaku
Cemburu Yang Tidak Disadari


__ADS_3

Usai melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, Hania duduk sebentar di serambi Masjid. Entah kenapa pikirannya selalu tertuju pada Gaka dan Gea. Ada rasa bersalah, sedih juga tidak rela.


Bersalah telah menyembunyikan kebohongan besar dengan Gea. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan bila suatu hari nanti Gea mengetahui hubungannya dengan Gaka. Sudah pasti Gea akan marah besar dan kecewa.


Sedih, bahkan Gea lebih memerlukan Gaka daripada dirinya. Padahal dulu mereka selalu berbagi cerita, dan melakukan apapun bersama. Tapi sekarang, Gea hanya butuh Gaka, menceritakan Gaka Gaka dan Gaka.


Rasa tidak rela menyelusup begitu saja. Rasanya tidak rela mereka menghabiskan waktu bersama. Secara sah Gaka adalah suaminya, hati kecilnya tidak nyaman melihat Gea bersama Gaka.


Kenapa harus berada di situasi ini? Andai malam itu tidak ada yang terjadi, semua kehidupannya masih baik-baik saja. Tidak berada dalam persimpangan yang membingungkan.


Embusan napas panjang mengiringi gerakan Hania untuk meninggalkan serambi Masjid. Kakinya melangkah menuju jalan raya. Ada beberapa driver ojek yang mangkal disana, tapi dia justru melewatinya begitu saja.


Tidak ada tempat tujuan selanjutnya, dia hanya berjalan disekitar trotoar. Terik matahari dan polusi udara tidak dihiraukan, dia hanya ingin menikmati waktu luang.


Din ... din ....


Pengendara motor berhenti tepat di depannya, dia tidak mengenali orang itu karena menggunakan helm. Setelah orang itu membuka helm, senyum manis langsung disuguhkan.


"Mbak Hania."


"Mas, Al." Hania tersenyum membalas sapaan Al.


"Gak sengaja kita ketemu di sini. Walau cuaca panas, pas ketemu Mbak kok berasa langsung dingin," ujarnya dengan senyuman.


"Mas bisa aja. Gak seindah gombalan, Mas, namanya panas, tetep aja kerasa panas," balas Hania.


Al tergelak. "Mbak mau kemana?"


"Gak kemana-mana, sih."


"Mbak, duduk dulu di pohon itu, yuk. Gak enak ngobrol di jalan. Berisik."


"Tapi ...." Hania ingin menolak, tapi Al sedikit memaksa. Akhirnya mereka berdua meneduh di bawah pohon besar. Di sekitar mereka ada juga beberapa pengendara yang sepertinya sedang istirahat.


"Bentar Mbak, aku beli minuman dulu. Aus banget." Pria itu sudah melenggang pergi.

__ADS_1


Tak lama Al sudah kembali membawa dua cup es krim.


"Ya ampun, Mas, kayak anak kecil aja makan eskrim," ujar Hania.


"Aku bingung mau beliin apa. Ada eskrim, ya udah aku beli aja." Pria itu menggaruk leher belakang dan menyengir.


"Makasih ya." Hania mengangkat eskrim, dan berterima kasih.


"Sama-sama."


"Mas gak kerja?"


"Ini baru pulang. Tadi ganti shif."


"Oh."


Mereka melanjutkan perbincangan. Sesekali Hania tertawa karena Al bercerita lucu. Pria itu humoris dan pandai mencairkan suasana, hingga Hania terlihat betah mengobrol dengan Al. Bahkan tak terasa azan ashar sudah kembali terdengar, Hania berpamitan untuk menunaikan sholat di Masjid yang tadi. Tapi Al justru mengajaknya pergi bersama-sama. Akhirnya mereka berboncengan menuju Masjid yang hanya berjarak 20 meter.


Pukul setengah enam sore Hania baru menginjakan kaki di rumah Gaka. Begitu sampai di kamar, dia dikejutkan dengan keberadaan Gaka duduk di atas tempat tidur.


"Apa maksud kamu? Maaf saya baru pulang karna tadi ketemu temen, jadi ngobrol dulu sebentar." Hania mencoba menjelaskan. Seusai sholat ashar, dia berpisah dengan Al dan memilih pergi ke kosan yang lama untuk menemui beberapa orang dikenalnya di sana.


"Temen?! Temen pria dan kencan di pinggir jalan sambil ketawa-tawa bahagia. Lalu dibonceng berduaan. Kalau temen kok bisa sedeket itu. Bilang aja itu pacar lo. Dulu di kantor juga lo sering ganjen-ganjen sama pria melarat itu 'kan?!"


Hania tidak bisa lagi membaca ekspresi Gaka. Pria itu menggebu dan terlihat kesal. Memang apa yang dilakukan sampai Gaka harus sekesal itu?


"Apa yang kami lalukan wajar-wajar aja, cuma mengobrol biasa. Saya dibonceng Mas Al karna sama-sama mau ke Masjid yang gak jauh dari tempat tadi. Gak ada yang salah 'kan?


Buruk banget penilaian mu bilang saya sering ganjen-ganjen sama Mas Al. Saya bertemu dan kenal sama Mas Al waktu kerja di kantormu. Kami cuma berteman." Panjang lebar Hania menjelaskan.


Wajah Gaka masih belum berubah. Sinis dan kesal.


"Lagian, bukannya tadi pagi kamu bilang mau pulang malam? Harusnya kamu masih bersama Gea. Dia kangen banget sama kamu."


"Akh! Kenapa ngurusin gue sama Gea! Urusin aja urusan lo sama pacar melarat lo itu!" Gaka bangkit menuju kamar mandi. Hania terkejut mendengar pintu kamar mandi yang dibanting oleh Gaka.

__ADS_1


"Astagfirullahaladzim ... dia kenapa?" bingung Hania. Tidak mengerti dengan penyebab kemarahan Gaka, dia acuh tak acuh turun ke bawah untuk memcari hawa segar. Tempramen Gaka sangat buruk, membuatnya banyak-banyak stok kesabaran.


Ketika keluar dari kamar mandi ternyata Hania sudah tidak ada. Napas Gaka kembali memburu.


"Kemana dia? Ngeselin emang, kek gak ada salah!"


"Udah gue belain ninggalin Gea buat nyariin dia, gak taunya malah janjian sama cowok melarat itu. Bangsat! Terus sekarang kek gak ada dosa, bukannya minta maaf atau apa, malah biasa aja. Cewek itu mikir gak sih!"


"Kencan di pinggir jalan, sok-sok makan eskrim berdua. Boncengan motor berdua. Anjay! Menjijikan! Norak! Kampungan!"


"Oke. Selera lo mungkin yang norak-norak begitu! Akh' ******!" Gaka uring-uringan sendiri. Kaus dalam yang dipegang disobek-sobek untuk pelampiasan kekesalan.


Hania yang sudah selesai memanjakan mata dengan melihat taman bunga di samping rumah berniat kembali ke kamar untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat maghrib. Di tengah tangga, dia melihat Gaka akan turun, tapi pria itu membuang muka dan seolah menghindarinya. Dia melanjutkan langkah tanpa menegur dan sama sekali tidak menegur. Dalam hati Gaka semakin dongkol dengan sikap acuh Hania. Sial!


Ketika makan malam, suasana di dominasi dengan suara Vara dan Tuan Haru. Sedangkan Gaka dan Hania menyahut ala kadarnya saja. Gaka meninggalkan meja makan dan masuk ke kamar tanpa mengajak Hania, hal itu membuat Vara dan Tuan Haru menilik Hania.


"Sayang, apa kalian ada masalah?" tanya Vara.


"Tidak ada, Ma. Tidak ada apapun."


"Kok Gaka kelihatan kesal begitu," kata Vara.


"Ma, mungkin Gaka lagi pusing dengan kerjaan," sahut Tuan Haru.


"Oh." Vara mengangguk. "Han, coba kamu susul suamimu dan tenangkan dia," titahnya.


"Iya, Ma. Hania permisi dulu."


Sampai di kamar, Hania mencari keberadaan Gaka. Ternyata berada di balkon dan sedang menelpon seseorang.


"Maaf, gue tadi langsung pulang. Papa nyuruh cepet pulang. Masih ada hari esok buat kita bercinta, sayang. Jangan marah."


Hania mengurungkan niat untuk berbicara. Dia berbalik dan ingin menjauh. Tapi ... tangannya di cekal.


Dia menoleh, Gaka masih di posisi yang sama. Berdiri membelakanginya, tapi tangan kanan digunakan mencekal lengannya. Hania terdiam, bahkan dia hanya mampu terdiam.

__ADS_1


__ADS_2